Bernostalgia dengan Rupiah

sumber gambar: bi.go.id
Indonesia adalah Negeri indah dengan mata uang Rupiah. Berbicara tentang Rupiah itu berarti juga berbicara tentang kehidupan terutama kita di Indonesia, tetapi segala hal yang berkaitan dengan kehidupan tidak semata-mata hanya tentang Rupiah, cinta misalnya.

"Lalu, bagaimanakah jika kedua hal itu dibersamakan? Cinta Rupiah."


Aku yakin bukan hanya aku, melainkan seluruh generasi 90-an merasakan betapa Rupiah begitu memperindah masa kecil. Rupiah memberi warna yang kerap kali membuat tertawa di pagi buta.

Betapa tidak, sebab sebelum berangkat sekolah selalu menanti uang pemberian orangtua. Dan kerennya, dulu uang dua ratus Rupiah sudah bisa membeli banyak makanan.

Saat awal-awal masuk SD; tahun 2001, dengan uang dua ratus Rupiah aku bisa jajan lontong dan banyak permen. Oh jangan ditanya, aku ingat betul porsi lontongnya yang tak beda jauh dengan harga 5.000 Rupiah sekarang ini.

Pada saat itu, barangkali itulah cinta pertamaku dengan Rupiah; ketika receh yang kupunya bisa ditukarkan dengan banyak makanan. Namun, dulu yang kutahu hanya Rupiah yang bisa membeli makanan kesukaanku, tidak lebih dari itu.

Dan seiring bertambahnya usia, aku jadi tahu bahwa dulu Negara kita pakainya ORI atau Oeang Repoeblik Indonesia yang penggunaannya berlangsung dari tahun 1945 hingga 1949 namun baru sah diresmikan sejak tahun 1946 tepatnya pada 30 Oktober.

Setelah ORI mulai tidak digunakan lagi, Rupiah pun resmi menjadi mata uang baru. Tepat pada 2 November 1949, Rupiah mulai diberlakukan.

Rupiah sendiri berasal dari bahasa Mongolia yaitu Rupia yang berarti perak, sedangkan Rupiah yang mendapat akhiran 'h' itu disebabkan oleh pelafalan orang Indonesia.

Sekarang ini Rupiah tak seperti dulu, uang dua ratus Rupiah tidak cukup untuk membuatku berdebar kegirangan. Uang lima ratus Rupiah tak bisa lagi ditukarkan dengan mie instan, tak lebih hanya sekadar pelengkap yang ketika hanya ada uang sembilan ratus Rupiah, lalu menemukan uang seratus Rupiah tak terduga, kemudian menjadi seribu Rupiah barulah bisa ditukarkan dengan gorengan satu buah. Oh ya ampun...

Rupiah membuat banyak orang bernostalgia, terlebih lagi para orangtua; uang kos Mama sewaktu sekolah hanya 15.000 Rupiah per tahun. Celoteh Mamaku waktu itu.

sumber gambar: bi.go.id
Aku yang mendengar hanya melongo, sebab sekarang uang kos-kosan 5 juta Rupiah per tahun itu pun kadang belum free listrik dan air, bila ditotalkan bisa mencapai 6 juta Rupiah.

Krisis moneter membangkrutkan perekonomian Indonesia. Inflasi melonjak, perbankan benar-benar ambruk, kemiskinan mengacak-acak Indonesia, Rupiah pun jatuh terkapar berhadapan dengan Dollar.

Oh Rupiah, cinta yang membara hanya ada dalam nostalgia. Sekarang tak ada kebanggaan ketika yang tersisa hanya recehan, tapi entahlah kenapa gelisah saat kehilangan seratus Rupiah.

Cinta memang begitu, baru terasa berharga setelah kehilangan. Akhirnya dicari lagi lalu tak ragu-ragu untuk bekerja keras demi mengais Rupiah. Lagi-lagi cinta memang begitu, butuh pengorbanan untuk mendapatkannya.

Namun Rupiah, sudah satu tingkat diatas cinta. Ia naik level menjadi kebutuhan, mirisnya sekalipun mendapat banyak tak ada lonjak kegirangan sebab Rupiah harus segera ditawan, berada di sana dan di sana seketika disetorkan untuk membayar tagihan.

Dulu bahagia itu sederhana, seperti ketika mendapat hadiah uang lima ratus Rupiah di dalam kerupuk, aku bisa tertawa. Meminjam kata-kata Raisa, sepertinya aku terjebak nostalgia.

Sekarang sulit sekali menerjemah bahagia tanpa tumpukan Rupiah berjuta-juta. Memang tidak bisa disamakan, dulu dan sekarang amatlah berbeda.

Hal yang harus kita lakukan adalah menjaga kelangsungan hidup Rupiah agar tak kalah sekalipun dengan Dollar. Sudah sepatutnya kita bangga menggenggam Rupiah, sudah sepatutnya kita kembali bahagia dengan Rupiah seadanya toh kita pasti akan lebih berusaha.

Akhir kata hukum cinta tetap berlaku, jika rasa ingin memiliki itu berlebihan konsekuensinya adalah kehilangan. Menjadi sebuah ketamakan lalu memakan rasa kemanusiaan, Rupiah tidak meminta kita untuk melakukan hal yang serakah, kitalah yang harus mengendalikannya.

"Salah satu wujud cinta pada Indonesia adalah dengan mencintai Rupiah."

"Dan begini cara mencintai dan menjaga Rupiah; jangan dilipat, jangan dicoret, jangan distepler, jangan diremas dan jangan dibasahi. "
sumber gambar: cintarupiah.id

2 comments

  1. Aku cinta bgt sm rupiah terutama kalo invoice udah cair hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk gak bisa gak cinta sama rupiah mbak, ketergantungan :D

      Delete

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia