Kita dan Burung Besi



Aku berdiri di sarang burung besi, menatap orang-orang yang berlalu lalang; mereka berpapasan, menarik barang-barang yang menggunung. Sekonyong-konyong sebuah skenario tertawan dalam pikiran, seperti di banyak kisah dalam roman picisan. Di kotaku panas, di kotamu cerah, jika di kotaku mendung, belum tentu di kotamu akan melebur hujan. Tapi disini, di rumah burung besi, rindu terkurung tanpa mengenal cuaca.

Aku perindu yang amatiran, sosok yang berharap melihatmu dalam sekelebat bayang di peristirahatan burung besi. Bandara, menjadi tempat tersendu yang paling merindu, menghubungkan antara kotaku dan kotamu; berjam-jam lamanya melintasi samudera.

Pagi ini kuberitahu langit atas doa yang kugaungkan semalam, agar kelak ia menyampaikan lewat deru angin yang menjadi perantara. Jauh? Iya! Namun aku percaya, ada ikatan yang disematkan Tuhan. Entah di sarang burung besi yang mana, tapi sejauh apapun jaraknya; antara kau dan aku hanya berjarak rindu.



Pagi itu di kotaku, 16 Maret 2017

No comments