Cinta Memang Begitu...


Cinta memang begitu. Kadang datang tepat waktu namun pada orang yang salah, kadang juga datang pada orang yang tepat namun di waktu yang salah. Cinta memang begitu, dan setiap insan pasti pernah jatuh cinta atau sekadar 'merasa' jatuh cinta.

Dan cinta memang selalu begitu. Ia meluluh-lantahkan waktu, memacu debar rindu lalu mengharap temu. Tentu, bertemu dalam ikatan yang direstui oleh Tuhan.

Lalu cinta juga kerap kali menjadi alasan nomor satu dalam cemburu. Ah, cinta memang begitu. Selalu ingin memiliki utuh; cukup aku dan kamu.

Cinta, adalah perpaduan sempurna dari semua rasa. Marah dan sayang dalam satu waktu, rindu dan cemburu, kesal tapi ingin bertemu, khawatir tapi memilih diam, dan selalu begitu... seringkali rasa-rasa itu mendera di waktu yang sama.

Cinta itu layaknya langit yang maha luas. Ia menaungi seperti payung yang melindungi insan dari hujan, cinta menghadirkan bintang-bintang yang menjadi alasan hadirnya sebuah kebahagiaan. Lalu benarlah lirik di sebuah lagu bahwa hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga.

Cinta itu penantian. Luruh dalam tunggu membersamai sang waktu. Cinta itu perjuangan, namun juga berarti mengikhlaskan atau menggenggam.

Cinta menghadirkan rasa ingin tahu. Sedang apa dia? Bersama siapa? Sesederhana itu, hanya ingin tahu. Namun di suatu waktu juga dapat menjadi belenggu. Tumpukan rasa penasaran yang tidak tahu harus diapakan.

Cinta memang begitu...
Tapi cinta bukanlah nafsu. Sungguh! Cinta jauh dari itu. Cinta adalah menjalin harap pada Tuhan agar kelak dibersamakan pada sosok yang didambakan. Cinta akan mengangkat derajatmu bila dipersembahkan baik-baik pada sang pemilik cinta. Sebab cinta adalah anugerah dari-Nya. Maka, pasrahkan cintamu pada keputusan-Nya.

Aku pernah jatuh cinta. Meski selalu berujung temu tanpa sapa. Aku pernah mencintai lalu kemudian menutup hati. Ia adalah milik Tuhan, maka dalam doa namanya kutenggelamkan dalam-dalam. Aku diam. Begini caraku mencintai. Tak seorang pun tahu siapa atau dimana keberadaannya. Cukup menjadi rahasia antara aku dan Tuhanku.

Lalu masa depan... entah siapa dirimu yang berada dalam harapan, yang jelas aku sudah berangkat dari segala pengharapan. Kulepas semua beban, lalu melangkah perlahan. Kamu... entah siapa dirimu, siapa namamu, dimana keberadaanmu, aku sungguh tak tahu... dan bagiku, cinta memang begitu. Tuhan sedang mengatur hal itu untukku. Siapapun kamu... aku mencintaimu.


Bengkulu, 22 Februari 2018

Eva De

2 comments