Dahsyatnya Perlawanan Rakyat Bengkulu Terhadap Belanda


Belanda datang ke Bengkulu dengan harapan dapat menguasai daerah ini sepenuhnya dan dapat mengaplikasikan tanam paksa atas kopi. Belanda memang belum tahu mengenai kasus Thomas Parr, pasalnya tak ada sedikitpun arsip yang ditinggalkan oleh Inggris. Semuanya telah mereka kirim ke luar negeri.

Alhasil Belanda tak tahu sedikitpun tentang kuatnya perlawanan di Bengkulu. Belanda tidak tahu besarnya kebencian rakyat Bengkulu pada penjajah. Dan pada saat itu Asisten Residen Knoerle yang memimpin memang tidak sempat memahami dan mempelajari sejarah perlawanan rakyat Bengkulu.

Kalau saja Asisten Residen Knoerle sudah tahu banyak hal tentang rakyat Bengkulu, mungkin ia akan berpikir berkali-kali sebelum menjalankan sistem tanam paksa.

Diolah dari berbagai sumber mengatakan bahwa baru saja berjalan 7 tahun peralihan kekuasaan antara Inggris dan Belanda, terjadilah pembalasan dendam. Meluaplah rasa sakit hati rakyat Bengkulu atas perlakuan Belanda.

Hingga kemarahan rakyat memuncak dan hal itu menyebabkan Asisten Residen Knoerle lebih dekat dengan kematiannya. Ia dibunuh pada tahun 1832. Selama kepemimpinan, Knoerle dikenal menjalankan tanam paksa atas lada dan kopi. Ia juga merusak sistem pemerintahan dan hukum adat Bengkulu. Tindakannya telah menyikat habis hak asasi masyarakat Bengkulu.

Perlakuan Knoerle membuat rakyat Bengkulu merasa digunduli. Belanda mencopot satu demi satu kekuasaan dan lembaga pemerintahan tradisional rakyat Bengkulu. Belanda melakukannya secara bertahap tetapi cepat dan pasti. Hal itulah yang memicu perlawanan dan pemberontakan. Rakyat Bengkulu tentu tidak mudah pasrah saja dengan keadaan. Mereka datang dan melawan.

Hukum adat serta hak-hak kepala adat mulai tak diberlakukan. Semenjak pemerintahan Belanda, pengadilan bertindak tegas dan banyak kepala adat yang diadili. Bahkan beberapa kali hukuman mati di derakan pada rakyat.

Asisten Residen Knoerle juga melakukan pembasmian lapisan masyarakat adat dengan berbagai cara. Antara lain; memecat rakyat dari pekerjaan, membuat masyarakat jadi pengangguran, hingga hilang kepastian hidup.

Hal itu membuat amarah rakyat memuncak hingga ke ubun-ubun. Knoerle bertindak mengikuti nafsu, tindakan kejam Knoerle sendiri lah yang memicu perlawanan dan berujung pada kematiannya. Hal tersebut tertera dalam Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah, Sejarah Revolusi Kemerdekaan Daerah Bengkulu tahun 1945-1949. Disebutkan juga bahwa perlawanan terhadap Knoerle terjadi di Bentiring.

Perlawanan dan pemberontakan rupanya tak hanya terjadi di Bentiring, tetapi juga di sekitar dusun Tebat Monok, Kelilik, Kandang, Tertik, Taba Padang, Temedak, dan Kota Agung. Dusun-dusun tersebut merupakan benteng pertama saat menghadapi musuh yang datang dari arah pantai dan merupakan pertahanan rakyat seberang Air Musi.

Penjagaan dan pemasangan pos penghubung dari satu dusun ke dusun lainnya diatur sedemikian rupa. Menurut beberapa sumber, dusun Tebat Monok, Kandang, Tertik, dan Taba Padang masuk dalam wilayah Bermani Ilir, yaitu pecahan dari Petulai Bermani.

Penguasanya adalah anak dari Tunggal Terguling Sakti yaitu Gajah Rimbun yang mendirikan Kutai Bermani Ilir, berkedudukan di dusun Cintomandi.

Dusun Temedak dan Kota Agung masuk dalam wilayah Merigi (Migai), pecahan dari Petulai Tubei, penguasanya adalah anak dari Rajo Mawang yaitu Ki Geto yang mendirikan Petulai Migai dan menetap di Kelobak Rejang.

Saat itu rakyat mengadakan perlawanan besar-besaran hingga Kapten Deleau mati terbunuh di tangan rakyat Bengkulu yaitu oleh masyarakat dusun Temedak.

Pekik perlawanan saat itu pecah menggema di hutan belantara. Teriakan dan erangan penjajah yang jatuh menemui ajalnya tak terhindarkan. Hutan layaknya medan laga, pertempuran berkecamuk demikian hebatnya. Banyak tentara penjajah yang mati terbunuh. Pasukan penjajah Belanda pun dihancurkan oleh Rakyat Bengkulu.

Sungguh, rakyat Bengkulu telah banyak belajar dari satu abad lebih menderita di bawah jajahan Inggris. Hingga saat perlawanan terhadap Belanda, rakyat lebih bersatu padu.

Melihat rakyat yang terus berdatangan dan kekuatan semakin tak seimbang, sisa tentara Belanda melarikan diri dan hilang dari pengawasan rakyat yang memuncak amarahnya saat itu. Kocar-kacir berlarian, tentara Belanda menghilangkan jejak dengan tidak melewati jalan semula.

Rakyat Bengkulu telah belajar banyak, mereka sangat membutuhkan kemerdekaan lepas dari jerat penjajahan, mereka tidak mau jadi kacung di tanah sendiri. Ditarik-tarik hidung layaknya hewan, sungguh rakyat tak ingin diperlakukan seperti itu. Apalagi disuruh ini itu dan dihilangkan hak-hak asasi rakyat, Belanda memang terjun ke jurang dengan memperlakukan rakyat Bengkulu seperti itu.

No comments