Dampak Negatif dan Positif dari Supersemar

foto: Istimewa - pelantikan Soeharto oleh Soekarno
52 tahun yang lalu terjadi peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret atau biasa disebut Supersemar yang menjadi salah satu tahapan masa transisi negara Indonesia. 'Titah Sakti' tersebut mampu mengubah rezim Orde Lama yang dipimpin Ir. Soekarno menjadi Orde Baru yang dipimpin oleh Soeharto.

Supersemar muncul setahun setelah peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965. Saat itu Partai Komunis Indonesia (PKI) didapati berada di belakang pembunuhan sejumlah jenderal TNI Angkatan Darat. Dalam Supersemar menginstruksikan Soeharto sebagai Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang sangat buruk pada saat itu.

Surat Perintah 11 Maret itu juga membuat kekuasaan Soekarno sebagai orang nomor satu di Indonesia redup. Hal itu juga menyebabkan terbukanya gerbang bagi investor asing untuk masuk ke Indonesia, seperti dilansir dari berdikarionline.com yang menuliskan tentang Freeport dan Tonggak Neokolonialisme di Indonesia.

Dapat disimpulkan dari pembahasan tersebut bahwa dampak negatif terbesar supersemar adalah menjadikan Indonesia lebih mendukung Negara-negara Barat.

Kebijakan luar negeri Indonesia menjadi mendukung Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat. Hal tersebut terlihat dari menguatnya hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat dan normalisasi hubungan dengan Malaysia dimana sebelumnya Bung Karno menganggap Malaysia sebagai antek-antek dari Nekolim (Neo Kolonialisme dan Imperialisme).

Indonesia menjadi anggota PBB kembali setelah sebelumnya mengundurkan diri dari keanggotaan PBB. Tindakan Soeharto berbeda 180 derajat dengan kebijakan pada masa pemerintahan Soekarno, khususnya pada masa Demokrasi Terpimpin.

Pasca Supersemar dikeluarkan, posisi Soekarno sebagai Presiden RI semakin tergerus akibat terjadinya dualisme kekuasaan di dalam tubuh pemerintahan RI dimana Soekarno sebagai Presiden dan Soeharto sebagai pelaksana segala tindakan pemerintah dengan bermodalkan Supersemar.

Dalam dokumen Amerika Serikat yang dikutip oleh Baskara T. Wardaya dalam bukunya yang berjudul Membongkar Supersemar, disebutkan bahwa Supersemar adalah suatu kudeta khas Indonesia. Dalam bukunya tersebut, Baskara T. Wardaya menggunakan beberapa dokumen penting dari Amerika Serikat yang menunjukkan bagaimana sikap Amerika Serikat yang sangat aktif memantau kondisi politik Indonesia serta keterlibatan AS dalam perjalanan politik bangsa Indonesia saat itu.

Sementara itu, di sisi lain dalam Supersemar juga terdapat dampak positif yakni diberantasnya paham komunisme di Indonesia. Seperti yang diketahui bahwa paham tersebut sangat bertentangan dengan Pancasila.

Kemudian, sejak tercetus Supersemar, pemerintah perlahan mampu membangun pondasi yang kuat bagi kekuasaan lembaga kepresidenan, dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi di dalam negeri.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pemberantasan paham yang bertentangan dengan Pancasila itu patut dijadikan contoh, namun akan jauh lebih baik jika Indonesia terlepas dari cengkeraman 'dijajah' secara halus oleh Negara luar.

Dan dibalik keberhasilan pemerintah orde baru, banyak yang harus ditinggalkan seperti; terjadinya otoritas, KKN, dwifungsi ABRI/Polri, pembangunan yang tidak merata, dan fundamental pembangunan ekonomi yang sangat rapuh. Sebab sekarang sudah waktunya orang Indonesia berjaya di negeri sendiri dan tidak lagi menjadi budak orang Barat.

No comments