Manfaat Belajar Bahasa Asing untuk Anak Autisme


Autisme adalah gangguan perkembangan interaksi sosial, empati dan simpati, perilaku, komunikasi, serta gerakan berulang yang terjadi seumur hidup. Autisme tidak ada obatnya, tapi ada banyak pilihan terapi untuk anak autisme yang bisa membantu mengelola gejala sekaligus meningkatkan kualitas hidupnya. Salah satu jenis terapi yang diyakini mampu meningkatkan kemampuan komunikasi anak autisme adalah belajar bahasa asing.

Dilansir dari Science Daily, sebuah studi terbaru yang dimuat dalam jurnal Child Development menunjukkan bahwa belajar bahasa asing alias menjadi seseorang yang bilingual dapat meningkatkan serangkaian proses kognitif otak termasuk kontrol perhatian dan perilaku, serta meningkatkan daya ingat.

Peningkatan fungsi kognitif otak ini diyakini terjadi karena memiliki kemampuan berkomunikasi dengan dua bahasa berbeda berarti ia melatih otak untuk bisa beralih antara dua mode mental secara cepat dan lancar, misalnya mode bahasa Indonesia dan mode bahasa Inggris. Seiring waktu dan latihan terus, peralihan antara dua sistem bahasa ini dapat meningkatkan kinerja kognitif otak secara keseluruhan.

Kemampuan otak yang lebih cepat tanggap untuk beralih antara dua bahasa ini diyakini sangat bermanfaat sebagai terapi untuk anak autisme. Pasalnya, anak-anak autisme cenderung lebih sulit untuk “pindah persneling” ketika dihadapkan dengan dua tugas karena fleksibilitas kognitif otak mereka terganggu. Itu sebabnya mereka cenderung memiliki fokus yang lebih sempit, tidak bereaksi baik terhadap perubahan rencana atau spontanitas, rutinitas harian yang tidak fleksibel, serta menunjukkan ucapan atau gerakan yang terus berulang.

Belajar bahasa asing mengajarkan anak untuk memahami dan mengikuti instruksi verbal, merespon perkataan orang lain, mendeskripsikan sebuah benda, meniru ucapan dan gerakan orang lain, hingga mengajarkan baca tulis.

Manfaat belajar bahasa asing sebagai terapi untuk autisme ini dilaporkan setelah tim peneliti mengamati 40 anak autisme berusia 6-9 tahun dengan sebuah tes berbasis komputer. Mereka diperintahkan untuk mengurutkan objek gambar di layar komputer dengan komunikasi satu bahasa dan dua bahasa. Hasilnya, anak autisme yang mampu berbicara dalam dua bahasa bisa bekerja lebih efektif dan cepat.

No comments

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia