Cerita Rakyat Bengkulu; Api dan Angin dalam Kertas


ALKISAH, di suatu negeri terdapat seorang raja yang lalim dan gila hormat. Wataknya sangat keras. Pendapat dan perintahnya tidak boleh dibantah. Membantah dan mengingkari perintah raja berarti bersedia menerima hukuman dari sang raja, Pembantu dan pegawalnya pun bengis-bengis.

Tidak ada seorang pun yang pernah melanggar perintahnya bisa lepas dan bebas. Tugas para pengawal bukan hanya menjaga dan mengawal raja, tetapi juga bertugas menjaga keamanan keluarga, harta dan ternak peliharaan raja. Oleh karena itu, sering terjadi penangkapan dan penahanan terhadap rakyat jelata yang menggangggu hewan peliharaan raja.

Hampir setiap hari sang raja mengenakan pakaian kebesarannya. Berbagai tanda pangkat, tanda jabatan, bintang jasa, dan lambang identitas lain bergantungan di bajunya. Selain itu, senjata dan tongkat wasiat tidak pernah lepas dari dirinya.

Pada suatu ketika, sang raja dan beberapa orang pengawal, pengiring, dan tentaranya melaksanakan tugas kunjungan ke desa-desa. Sebelum berangkat, seluruh rakyat telah diperintahkan untuk menaikan bendera, memasang umbul-umbul, dan menghidupkan lampu penerang jalan yang akan dilalui raja di malam hari.

Dalam perjalanan itu, disuatu desa ada sebuah rumah yang tidak menaikkan bendera dan tidak memasang umbul-umbul. Dari dalam rumah terdengar ratap tangis beberapa orang. Dua orang pengawal masuk ke rumah itu. Salah seorang di antara mereka bertanya, “Siapa pemilik rumah ini?”

“Kami yang punya rumah ini, Pak.” sahut seorang pemuda sambil terisak-isak.

“Siapa namamu?” tanya pengawal itu lagi.

“Nama saya Yusuf, Pak,” jawab pemuda itu.

“Kenapa kamu tidak menaikkan bendera dan memasang umbul-umbul?”

“Maaf, Pak. Kami lupa Ibunda kami dalam keadaan sakit keras.”

“Apa katamu? Ibumu sakit keras? gertak sang pengawal.

“Ya Pak,” sahut pemuda itu sambil gemetar.

“Hemmmm…. rawatlah Ibumu baik-baik. Tetapi lusa, engkau harus menghadap raja di istana sebab kamu telah melanggar perintahnya,” kata pengawal itu sambil keluar. Mereka segera mengikuti rombongan raja.

Tidak berapa lama, terdengar ratap tangis lebih keras yang sangat memilukan dan semakin menjadi-jadi. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun! Ibu kandung Yusuf telah meninggal dunia. Dengan rasa sedih yang sangat mendalam, sore itu juga jenazah ibunya dikebumikan di tempat peristirahatan terakhir.

Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah Yusuf menghadap raja. Keempat adik Yusuf mengantar kepergiannya hingga pintu pagar halaman. Tidak begitu lama, tibalah Yusuf di istana sang raja. Seorang pengawal menemui Yusuf dan langsung mengantarkannya menghadap sang raja.

“Selamat siang, Tuan Raja,” sembah Yusuf.

“Selamat siang. Kenapa kamu kemari?” tanya raja.

“Saya diperintahkan pengawal untuk menghadap Tuan Raja hari ini.”

“Ooo…. kamu yang bernama Yusuf itu?”

“Benar, Tuan Raja,” jawab pemuda itu sambil bersimpuh.

“Kenapa engkau tidak mengindahkan perintahku?”

“Maaf, Paduka Kami lupa memasang bendera dan umbul-umbul pada hari itu karena Ibu kami sedang sakit keras.”

“Jadi, engkau lebih mementingkan ibumu dari pada perintah raja yang telah memakmurkan negeri ini?”sergah sang raja.

“Ibu kami benar-benar sedang sakit, Tuan Raja,” ujar Yusuf dengan nada mengiba.

“Ah…… jangan cari-cari alasan. Kamu telah bersalah!”

“Maafkan kami, Tuan Raja. Janganlah hamba dihukum. Adik-adik hamba masih kecil. Siapa lagi yang akan menjaga mereka?” sembah Yusuf.

Tanpa menghiraukan jawaban Yusuf, sang raja kemudian berkata, “Engkau tetap diberi hukuman!”

“Apakah gerangan hukuman itu, Tuan Raja?” tanya Yusuf.

“Pokoknya tunggu saja. Nanti engkau akan tahu sendiri.”

“Apakah tidak ada pengecualian bagi kami, Tuan Raja,” ujar Yusuf memohon ampun.

“Pengecualiannya hanya satu. Engkau bisa bebas dari hukuman kalau engkau dapat mencari dan menyerahkan kepadaku ‘api dan angin dalam kertas’!”

“Apa maksudnya itu Tuan Raja? Berapa lama waktu yang diberikan untuk mencari dan mendapatkan benda itu?” tanya Yusuf lagi.
“Dengar baik-baik. Waktunya hanya tiga minggu,” titah sang raja.

Yusuf segera pulang ke rumah untuk menjumpai adik-adiknya. Ia menceritakan segala hal ihwalnya ketika menghadap raja. Mendengar kisah kakaknya itu, adik-adik Yusuf tampak cemas dan gelisah.

Kemudian salah seorang adik Yusuf bertanya. “Jadi, bagaimana upaya kita untuk memenuhi permintaan raja itu .Kak?”

Yusuf langsung menjawab, “Hai, adik-adikku yang tercinta. Ingatlah, Tuhan Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kalian tak usah cemas dan gelisah. Jagalah dirimu baik-baik. Kakak akan pergi mengembara. Mudah-mudahan, dengan izin Allah, saya akan menemukan apa yang diminta oleh raja itu.”

Pengembaraan Yusuf telah memasuki minggu kedua, namun apa yang dicari belum juga ia dapatkan.

Pada suatu hari, Yusuf tiba di sebuah desa yang terletak di kaki bukit. Di desa itu ada sebuah pondok kecil. Pondok itu dihuni sepasang suami istri yang sudah tua. Yusuf mampir ke pondok itu dan menceritakan maksud dan tujuan pengembaraannya.

Lelaki tua pemilik pondok mengernyitkan keningnya. Tampaknya ia sedang berpikir, mengingat-ingat sesuatu. Sesaat kemudian ia berkata, “Nak, di sekitar kaki bukit ini memang masih ada tempat keramat dimana orang sering mencari pertolongan bila ditimpa kesulitan atau penderitaan. Tempatnya di gua yang ada di kaki bukit itu. Pergilah ke sana. Bertapa dan mintalah sesuatu yang kau inginkan dengan sungguh-sungguh. Syaratnya, engkau harus jujur dan bersih, Mudah-mudahan Tuhan Allah akan menolongmu.”

Setelah mendengar petunjuk dari orang tua itu dan mengucapkan terima kasih, Yusuf bergegas pergi ke mulut gua. Dengan hati-hati Yusuf memasuki gua itu. Banyak kelelawar keluar dari gua karena terkejut dengan kedatangan Yusuf.

Di dalam gua, Yusuf duduk bersimpuh sambil menundukkan kepala. Ia bertafakur dan menadahkan tangannya. Mulutnya komat-kamit, memohon sesuatu kepada Allah. Karena badannya sangat letih, Yusuf pun tertidur dengan pulas. Di dalam tidurnya, Yusuf bermimpi didatangi oleh seorang yang amat tua memakai jubah putih, dagunya penuh dengan jenggot yang sudah memutih pula.

“Hai, anak muda. Apa maksudmu datang ke gua ini?” tanya orang tua berjenggot itu.

“Aku sedang dalam kesulitan. Aku memohon pertolongan, Tuan,” jawab Yusuf.

“Katakanlah, apa maksudmu. Mungkin aku bisa membantu,” ujar orang tua itu lagi.

“Aku mencari ‘api dan angin dalam kertas’ sebagai penebus hukuman yang ditimpakan raja yang lalim kepadaku,” tegas pemuda itu. Lalu, ia juga menceritakan kenapa raja menghukumnya.

Orang tua itu mengangguk-angguk pertanda ia maklum dengan cerita Yusuf. Setelah merogoh kantongnya, orang tua itu mengeluarkan sebuah bungkusan sambil berkata, “Terimalah ini.”

Ketika Yusuf hendak mengucapkan terima kasih, secepat kilat orang tua itu menghilang. Yusuf merasa kaget, ia terbangun. Baru ia sadar kalau sedang bermimpi.

Setelah mengusap-usap matanya, Yusuf tersentak dan melihat ada sebuah bungkusan tergeletak disisinya. Perlahan-lahan Yusuf membuka bungkusan itu. Betapa girang perasaan Yusuf ketika ia menyadari bahwa yang dimaksud oleh raja dengan api dan angin dalam kertas’ itu sesungguhnya adalah lampion dan kipas yang terbuat dari kertas. Dengan wajah berseri. Yusuf segera beranjak meninggalkan gua lalu pulang ke rumah. Ia menceritakan semua pengalamannya selama dalam pengembaraan kepada adik-adiknya.

Pada hari berikutnya, dengan hati-hati Yusuf membuat sebuah lampion dan kipas dari bahan yang ia peroleh ketika bertapa di gua. Setelah selesai dengan baik, berangkatlah Yusuf untuk menyerahkan benda itu kepada sang raja. Selanjutnya raja bertitah,

“Mulai saat ini engkau dibebaskan dari hukuman.”

Yusuf merasa bersyukur mendengar pernyataan raja. Ia sangat gembira, kemudian pulang ke rumah dengan senang hati.

No comments