Cerita Rakyat Bengkulu; Biawak Sepiak


ALKISAH, pada zaman dahulu kala di sebuah desa yang terpencil tinggallah seorang ibu yang sangat miskin hidupnya. Ia mempunyai seorang anak laki-laki. Biawak Sepiak (Biawak Sebelah) namanya. Kenyataannya Biawak Sepiak ini setelah dewasa bukanlah Biawak Sepiak, akan tetapi ia adalah seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa.

Sang ibu tidak berputus asa dan ia tetap menyayangi anaknya walaupun berupa Biawak Sepiak Lama Kelamaan Biawak Sepiak ini bertambah dewasa ia sudah mempunyai cita-cita untuk berumah tangga.

Pada suatu hari ketika sedang makan bersama-sama dengan ibunya, ia berkata; “Oh ibu, tolonglah ibu pinangkan anak putri raja yang tak jauh dari kampung kita ini.” Jawab ibunya: “Hai anakku, dimanakah ibu akan menghadapkan muka, kita orang miskin, sedangkan kau adalah Biawak Sepiak. Ibu merasa malu menghadap tuan raja.”

Akan tetapi Biawak Sepiak terus mendesak ibunya untuk melamar putri raja. Maka ibunya terpaksa memenuhi permintaan anaknya. Pergilah ibunya menghadap tuan raja, Baru saja muncul ibunya di depan pintu istana, sudah dimarahi tuan Raja.

“Hai orang miskin, mau kemanakah engkau?”

“Maaf tuan Raja, saya malu mengemukakannya”

“Kalau kau malu mengatakannya, apa maksud kedatanganmu, pergilah dari sini!” kata sang Raja.

Dengan perasaan risau, kembalilah sang Ibu Biawak Sepiak tadi ke rumahnya. Setelah sampai ke rumah kembali, bertanyalah anaknya, “Bagaimana bu, berhasil apa tidak.” Ibunya menjawab, “Dari semula telah kukatakan padamu, tak mungkin tuan Raja menerima lamaranku.” Biawak Sepiak berkata lagi. “Kalau begitu baiklah, coba ibu ulangi sekali lagi, pasti berhasil.”

Karena kasih sayang ibu terhadap anaknya, ia memaksakan diri untuk menghadap tuan Raja kembali. Pergi yang kedua kalinya belum juga berhasil, karena ibunya belum berani mengemukakannya maksudnya. Yang ketiga kalinya barulah ibunya, mengatakan maksud kedatangannya; “Begini tuan Raja, anakku adalah Biawak Sepiak, ia ingin mempersunting Putri Bungsu tuanku.”

“Oh, kalau begitu maksudmu, baiklah, Kuminta ia dapat memenuhi permintaanku.” Jawab Tuan Raja.

“Katakanlah tuan, andaikata kami bisa memenuhinya akan kami penuhi, kalau tidak terpaksa dibatalkan,” kata Ibu Biawak Sepiak. Tuan Raja berpikir tentang syarat-syarat yang sekiranya tak bisa dipenuhi oleh Biawak Sepiak. Lalu berkatalah Raja.

“Saya minta agar dibuat titian berlapiskan emas dari rumah Biawak Sepiak, hingga ke istana ini. Dan pelaminannya juga terbuat dari emas.” Setelah mendengar syarat-syarat itu ibu Biawak Sepiak menjawab; “Baiklah tuan, aku akan menyampaikan kepada anakku Biawak Sepiak.”

Setelah sampai ke rumahnya, dikatakannyalah hal itu kepada Biawak Sepiak. Apa jawab Biawak Sepiak.” kalau begitu permintaan tuan Raja, baiklah bu, semuanya akan kita penuhi.” Mendengar itu ibunya kebingungan, sebab bagaimana cara mendapatkan hal tersebut sebagai syarat, sedangkan makan saja untung dapat dari hari ke hari.

Akhirnya Biawak Sepiak minta waktu satu tahun kepada tuan Raja untuk melengkapi syarat-syarat tersebut. Untuk memenuhi syarat itu akhirnya disuruhnya ibunya mencari bibit buah labu sebanyak tujuh biji. Setelah ditanam, bibit labu itu tumbuh semuanya dengan keadaan subur. Kira-kira beberapa bulan lamanya, berbuahlah labu ini. Sebuah dalam satu batang, di mana labu ini besar-besar sekali buahnya.

Dipetiknyalah buah labu itu dan dibawanya ke pinggir sungai untuk dibersihkan bijinya. Sewaktu ia mencuci labu tersebut dan dicelupkannya beberapa kali ke dalam air itu, datanglah Raja ikan dari dalam air sungai tersebut, sambil bertanya; “Hai Biawak Sepiak, apakah yang kau kerjakan di sini hinga air ini keruh?” “Saya akan mengeringkan air sungai ini, andai kata kau tak bisa memenuhi permintaanku,” jawab Biawak Sepiak. Raja ikan sangat khawatir atas ancaman Biawak Sepiak, lalu ia berkata; “Apakah permintaan itu?”

Biawak Sepiak berkata lagi. “Saya minta emas perak sebanyak labu ini.” “Baiklah Biawak Sepiak, permintaan akan saya penuhi besok pagi sebelum matahari terbit,” jawab raja ikan.

Akhirnya ketujuh labu tadi dibawa oleh Raja ikan menyelam ke dalam air. Pada keesokkan harinya, sebelum subuh pergilah Biawak Sepiak ke sungai menanti kedatangan Raja ikan membawa emas permintaannya. Tak seberapa lama muncullah Raja ikan bersama anak buahnya membawa labu yang diisi penuh engan emas semuanya. Biawak Sepiak menyambut labu-labu itu sambil mengucapkan terima kasih. Lubang labu itu ditutupnya dengan pasir. Setelah sampai di rumah, bertanyalah ibunya kepada Biawak Sepiak.

“Untuk apa pasir ini?”

“Pasir ini untuk tempat tidurku, tolong ibu jaga baik-baik, jangan sampai dicuri orang” kata Biawak Sepiak. Ibunya tak mengetahui apa ini sebenarnya labu itu, mana mungkin orang akan mencuri pasir pikir ibunya.
Tiba saatnya, barulah ia memohon kepada ibunya untuk memberitahukan kepada tuan raja bahwa persyaratan Raja dapat dipenuhinya. Setelah ia menghadap Raja. Raja berkata; “Mana syarat itu?” Biawak Sepiak menjawab; “Akan saya penuhi dengan segera tuan Raja.” Sebenarnya Biawak Sepiak itu adalah seorang yang sangat sakti. Pada waktu itu pulalah ia memohon kepada Tuhan supaya persyaratan yang ditentukan oleh Raja dapat ia penuhi.

Pada suatu ketika tibalah masanya Tuhan menampakkan kekuasaan-Nya, hari gelap, angin ribut datang, semua orang tak ada yang keluar dari rumahnya, ketika itu juga tampaklah titian berlapiskan emas dan di dalamnya istana berdirilah mahligai singgasana yang indah. Setelah angin reda, hari mulai terang, sungguh menakjubkan sekali. Semua orang kagum melihat keindahan negeri itu, sehingga syarat itu telah terpenuhi hingga Raja mengadakan persiapan peralatan untuk perkawinan Biawak Sepiak dengan putri Bungsunya.

Di waktu itu pula Biawak Sepiak membuka kulit Biawaknya. Di kenakannya pakaian angkatan perang yang lengkap. Barulah ibunya mengetahui bahwa anaknya adalah seorang pemuda yang tampan dan perkasa. Ia pergi menunggu seekor kuda berkeliling pasar dan kota. Siapa saja yang melihat semuanya terpesona akan ketampanan Biawak Sepiak. Bahkan ada yang bertanya; “Utusan kerajaan manakah ini.”

Ia sengaja melintasi depan istana, kebetulan sang Putri Bungsu sedang berdiri di muka jendela. Melihat Pemuda tampan yang tak dikenal melintas istana, berkatalah sang putri dalam hatinya; “Andai kata Pemuda ini calon suamiku alangkah bahagianya daku nanti.” Sedangkan di istana telah mempersiapkan perlengkapan perayaan perkawinannya.

Pada keesokan harinya, pesta perayaan akan dimulai, semua peralatan sudah disiapkan. Semua rakyat sudah diundang pada perayaan yang akan dilaksanakan. Ketika kedua mempelai dipersandingkan di singgasananya, Biawak Sepiak tetap mengenakan baju kulit Biawaknya. Apa kata tuan Raja sambil mengeluh, “Memang sudah takdir yang Maha Kuasa bahwa daku mendapatkan menantu Biawak Sepiak.” Akan tetapi siapakah yang sebenarnya Biawak Sepiak itu, tuan Raja belum mengetahui.

Setelah beberapa hari selesai perayaannya, Biawak Sepiak berjalan-jalan keluar istana, tanpa diketahui sang putri ia melepas bajunya dan kelihatanlah seorang pemuda yang perkasa. Hal ini dilakukannnya berulangkali, setiap meninggalkan rumah istrinya tidak diberitahu. Mulailah sang istrinya menjalankan siasat, ia berura-pura kebelakang, akan tetapi ia mengintip dibalik pintu tengah.

Barulah sang putri mengetahui siapakah yang sebenarnya suaminya itu. Rupanya di dalam koper yang dikirimkan ibunya adalah pakaian angkatan lengkap bentul Biawak Sepiak. Pakaian itu dikenakannya. Sedangkan di waktu ia berjalan-jalan keluar Biawak Sepiak meninggalkan bajunya dan disembunyikannya di antara kayu-kayu bakar. Waktu melepas pakaian Biawak Sepiak , begitu tampannya pemuda tersebut, memang tak di duga bahwa pemuda yang pernah jadi idamannya itu telah menjadi suaminya. Setelah rahasia itu diketahui oleh putri bungsu, Sang Putri memberitahukan hal itu kepada ayahnya, agar mengambil kulit Biawak yang disembunyikannya. Pada saat Biawak Sepiak pulang, ia mencari bajunya ternyata baju itu sudah tak ada lagi. Ia telah menduga bahwa yang menyembunyikannya baju itu adalah istrinya sendiri. Lalu ia menanyakan kepada istrinya; “Istriku yang baik, kembalikan saja kulit Biawak itu, daku berjanji akan membakarnya.”

Dengan tersenyum istrinya mengembalikan baju kulit Biawak itu, lalu dibakarnya bersama-sama. Pada saat dibakar kulit Biawak itu meletus, melanting ke darat menjadi binatang darat, melenting kelaut menjadi binatang laut. Sekarang Biawak Sepiak tidak bisa lagi menyembunyikan dirinya dari yang sebenarnya.

Pada saat ia senggang bersama raja berkatalah ia; “Ayahanda, sekarang ananda bercita-cita untuk berdagang. Ananda minta siapkan kapal sebanyak 3 buah sebagai modal dan alat angkutan.” “Baiklah” jawab ayahnya. Setelah itu Raja menyiapkan permintaan menantunya, kapal telah disiapkan lengkap dengan peralatannya.

Setelah semua siap. Raja bertanya; “Bagaimana istrimu? Apakah ia ikut berlayar bersamamu?” “Sang putri ikut mendampingi ananda.” Jawab Biawak Sepiak. Semua peralatan dan barang dagangan telah disiapkan dan teruslah berangkat bersama dengan istrinya mengarungi lautan. Akhirnya tibalah ia di suatu daerah. Sekarang kita kembali menceritakan nasib ibunya. Semenjak perkawinan Biawak Sepiak ini tadi, ia tak pernah lagi menghiraukan ibunya. Akan tetapi ibunya selalu mendoakan anaknya.

Sekarang ibunya mengetahui, bahwa anaknya telah mempunyai kapal dagang beberapa buah dan menuju ke tempatnya. Maka ia ingin mencoba untuk menyongsong kedatangan anaknya. Ketika kapal merapat ke pelabuhan ibunya berteriak; “Hai anakku, kembali engkau? Mana istrimu?”

Apa jawab anaknya; “Siapakah perempuan tua ini? bisa-bisa saja mengaku ia adalah ibuku.” Lalu diusirnya ibunya yang sedang mendekatinya itu. Sebenarnya ia tahu bahwa itu adalah ibunya, akan tetapi pemuda itu malu mengakui bahwa perempuan itu adalah ibu kandungnya. Karena peristiwa itu sangat menyedihkan ibunya, maka ia memohon kepada Yang Maha Kuasa dan dikutuknyalah anaknya itu. “Hai anakku, akan menjadi beruk bangkalah engkau nantinya.”

Sumpah dari ibunya ini dikabulkan Yang Maha Kuasa, pepatah pernah mengatakan, bahwa surga itu dibawah telapak kaki ibu. Kapal Biawak Sepiak berlayar kembali, angin topan mengamuk dengan dahsyatnya. Lama kelamaan kapal pecah, semua barang dan awak kapal karam di tengah lautan. Pemuda yang durhaka itu tadi bersama istri serta pengiring-pengiringnya menjadi beruk semua. Sekarang menurut kepercayaan orang, asal beruk pulau Bangka, adalah jelmaan dari pemuda yang durhaka tersebut.

No comments