Cerita Rakyat Bengkulu; Lahmuddin dan Putri Raja


ALKISAH, di suatu negeri, tinggal seorang anak namanya Lahmuddin. Pada suatu hari dia berkata kepada bapaknya. Bapak saya mau sekolah sebab kawan-kawan saya semuanya telah bersekolah.” Bapaknya lalu menjawab; “Bagaimana kamu mau sekolah, sedangkan baju saja tidak punya.” Kemudian Lahmuddin memohon kepada orang tuanya agar ia dibelikan baju. Orang tuanya berkata; “bagaimana nak, untuk makan saja kita tak dapat. Sedangkan pencaharian bapak sehari-hari hanya mengambil rumput dan menjualnya ke pasar, hasilnya hanya dapat secanting beras, untuk dimakan saja tak cukup.”

Mendengar kata bapaknya itu Lahmuddin maklum, karena ingin sekali bersekolah ia setiap hari pergi juga ke sekolah. Hanya saja ia mengintip dari luar, sambil memperhatikan pelajaran yang diajarkan oleh guru kepada murid-muridnya. Begitulah seterusnya dan waktupun terus berjalan. Lahmuddin tetap rajin datang ke sekolah dan tekun memperhatikan pelajaran. Biar ia hanya dari luar dan bukan pula menjadi murid sekolah tersebut.

Akhirnya masa ujian sekolah rendah sudah sampai waktunya. Pada waktu itu, pikir Lahmuddin, saya akan mencoba kepada orang tuaku mohon lagi pakaian. Maka dengan hati-hati dimohonkannya lagi untuk dapat baju dari bapaknya. Tetapi bapaknya tetap tak bisa membelikan baju untuk anaknya. tetapi ia tak putus asa, tetap saja ia dengan setianya datang ke sekolah dan mengikuti dengan hidmat segala pelajaran yang diajarkan guru dalam kelas. Anak-anak sudah melaksanakan dan mengikuti ujian dan sudah ada yang lulus.

Pada waktu itu si Lahmuddin memberanikan diri masuk ke dalam kelas, maksudnya ingin coba-coba mengikuti ujian. Lahmuddin mengucapkan “Assalamualaikum,” jawab si guru Alaikum salam.” Lalu Lahmuddin berkata kepada pak guru dan menyampaikan maksudnya. “Saya mohon kepada bapak, soal ujian yang dilaksanakan oleh murid bapak tadi.”

Karena guru tersebut tidak mengenal Lahmuddin, ia bertanya identitas Lahmuddin. Lahmuddin menceritakan asal usulnya dan bagaimana selama ini ia mengikuti pelajaran dengan setiap hari di luar. Lahmuddin mengatakan bahwa ia bisa menjawab soal yang diberikan kepada muridnya tadi. Guru tersebut sangat terharu kepada cerita Lahmuddin, sehingga guru tersebut berkata kepada Lahmuddin. “Kau tunggulah, kami akan bermusyawarah dahulu.” Lalu guru tersebut bermusyawarahlah mengenai Lahmuddin. Akhirnya berkeputusan untuk membolehkan Lahmuddin mengikuti ujian. Ternyata si Lahmuddin lulus dan dia berhak menerima ijazah dari sekolah tadi, kemudian Lahmuddin pulang. Sebelum pulang guru berkata kepada Lahmuddin, katanya; “Jika kamu ingin meneruskan sekolah, ijazah harus dibawa dan kamu tentu akan diterima.”

Setelah sampai di rumahnya, Lahmuddin berkata lagi kepada bapaknya, “Bapak tolong belikan saya pakaian untuk sekolah, sebab saya mau meneruskan sekolah saya ke tempat lain. Sebab sekolah lanjutan dari ijazah saya ini, di sini tidak ada. Sedangkan untuk melanjutkan sekolah itu memerlukan pakaian yang lengkap.” Bapaknya menjawab sambil berpikir, “Saya betul-betul tak dapat membelikan kau baju anakku. Tetapi ada jalan, jika betul-betul kau mau melanjutkan sekolah, gadaikanlah kami berdua kepada raja.”

Atas pikiran orang tuanya itu Lahmuddin tidak ada jalan lain, selain menggadaikan kedua orang tuanya. Seterusnya ia pergi ke rumah raja. Lahmuddin dipesan oleh bapaknya supaya dihadapan raja nanti mereka diakui sebagai budak Lahmuddin. Setelah sampai ke rumah raja, apa yang kamu pinta, pintalah kepada raja sesuai dengan keperluanmu. Biarlah kami menjadi tanggungan dijadikan sebagai pembantu raja dan kami akan taati perintahnya seperti merumput, mengambil kayu api dan apa saja perintah raja. Si Lahmuddin berangkatlah ke rumah raja, setelah sampai di rumah raja berkatalah ia “Assalamualaikum, raja.” “Alaikum salam,” jawab raja. Setelah disuruh raja duduk, barulah Lahmuddin mengemukakan maksudnya, katanya; “Saya datang ke rumah raja sebenarnya ada perlu.”

“Apa perlumu?” kata raja. Jawab Lahmuddin; “Begini tuanku raja, saya mau menggadaikan budak saya sebanyak dua orang. Maksud saya menggadaikan mereka, karena saya sangat membutuhkan pakaian selengkapnya dan seekor kuda. Dan juga sedikit uang buat belanja saya.” “Permohonanmu akan saya kabulkan, tapi sebelumnya saya minta budak-budakmu itu kamu bawa ke sini menghadapku.” kata raja. Lahmuddin pamit kepada raja dan terus pulang kerumahnya untuk menjemput kedua orang tuanya. Tak lama kemudian Lahmuddin beserta kedua orang tuanya datang kembali menemui raja. Setelah mereka sampai di rumah raja, raja berkata, “Inikah budakmu Lahmuddin?” “Ya.” jawab Lahmuddin.

Setelah raja melihat kedua orang tua yang disebut oleh Lahmuddin sebagai budaknya, kemudian permintaan Lahmuddin dipenuhi oleh raja. Lahmuddin merasa gembira, setelah Lahmuddin mengucapkan terima kasih. Lahmuddin minta pamit kepada raja. Karena semua keperluannya telah terpenuhi, akhirnya berangkatlah Lahmuddin ke tempat tujuannya yaitu Negeri Mesir untuk melanjutkan sekolahnya. Selama dalam perjalanan, Lahmuddin melalui hutan rimba, padang, rawa dan sebagainya dengan penuh tawakal. Setelah lama dalam perjalanan dia merasa haus, air persiapan yang dibawanya telah habis. Dicarinya sumber mata air tidak ada, sedangkan hausnya sudah tak tertahankan lagi.

Karena jauhnya perjalanan, kuda yang ditungganginya juga telah bermandi keringat. Melihat itu dengan tidak berpikir panjang lagi ditampungnyalah keringat kuda itu lalu diminumnya. Tak lama kemudian dia merasa lapar pula, sedangkan makanan sudah habis. Dia melihat kesana kemari, tiba-tiba dia menemukan seekor induk rusa yang telah mati. Tidak ada jalan lain lagi, sedangkan perutnya sudah keroncongan minta diisi. Setelah rusa itu diamatinya, dan dibelahnyalah perut rusa itu. Di dalam perut induk rusa itu yang dibelahnya itu kedapatan seekor anak rusa yang masih hidup. Anak rusa itu diambilnya, kemudian dipotongnya dan terus dibakarnya. Setelah masak lalu makanlah dia. Setelah kenyang dia istirahat sebentar, kemudian meneruskan perjalanannya.

Tidak berapa lama dalam perjalanan, sampailah dia di ujung dusun Mesir. Di dusun itu dia melihat sebuah pondok, yang mana penghuninya seorang tua bernama nenek Bibik Rade Gasian. Kemudian nenek tadi bertanya kepada Lahmuddin.

“Kamu mau kemana cung?”

“Saya mau menumpang bermalam,” jawab Lahmuddin.

“Kalau mau bermalam naiklah ke rumah ini dan kudamu ikatlah disebelah rumah.”

Setelah istirahat sebentar, nenek tadi menyiapkan makanan dan minuman buat Lahmuddin. Keesokan harinya setelah bangun dari tidur, dilihatnya sangat banyak orang memakai kuda. Pagi harinya mereka pergi dan sore harinya mereka itu baru pulang. Kebetulan Lahmuddin belum disuruh oleh nenek tadi berlalu. Setelah sepekan Lahmuddin berdiam di rumah nenek tadi, Lahmuddin melihat orang-orang yang berkuda, lewat di depan pondok nenek tersebut bertambah ramai. Akhirnya Lahmuddin bertanya kepada nenek tersebut.

“Nek! saya ingin tanya orang-orang yang berkuda itu dari mana dan apa saja kerja mereka. Setiap pagi mereka pergi dan setelah petang mereka pulang dan lewat muka pondok nenek ini. Kemana saja mereka pergi nek dan pulangnya mereka kemana?” Nenek menjawab; “Orang-orang itu sedang ujian soal dunia dan soal akhirat. Jika mereka berhasil dalam menempuh ujian yang diadakan raja, maka mereka akan dikawinkan dengan putri Hayatunnukus yang sangat cantik Tetapi kalau orang yang ikut sayembara itu kalah, ia akan dihukum mati. Sebelum orang itu akan dihukum mati ia diarak dulu keliling kota, dengan diiringi pakai gong dan kulintang secara beramai-ramai dan seterusnya dihukum mati.”
Begitulah nenek tersebut memberi nasehat dan keterangan kepada Lahmuddin. Maksudnya supaya Lahmuddin maklum akan hal itu. Lahmuddin termenung mendengar keterangan nenek itu, dan tak lama kemudian ia berkata kepada nenek tersebut.” Nek saya ingin ikut dan mencoba.” “Nenek berkata; “Jangan cung! Telah sembilan puluh sembilan orang ikut, tetapi semuanya tak berhasil dan semuanya telah dihukum mati.” Lahmuddin menjawab; “Biar nek, saya akan mencukupinya menjadi seratus orang.” Nenek berkata lagi; “Orang yang ikut tersebut adalah orang-orang yang diundang dan juga orang-orang yang kaya dan juga anak raja . Ujian diadakan mulai pagi-pagi sekali sampai matahari terbenam, begitulah setiap hari sampai ada yang menang “ Lahmuddin berkata lagi;” saya mau ikut Nek.” Kata nenek; “Terserahlah.”

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali bersama orang banyak Lahmuddin pergi pula ke tempat ujian. Setelah sampai dia melihat, kenyataannya yang menguji adalah putri raja tadi yang bernama Hayatunnukus. Setelah melihat ada orang baru, putri ingin menguji orang baru tersebut. Orang yang baru ikut sayembara itu tidak lain adalah Lahmuddin. Ujian segera dilaksanakan. Sudah banyak soal-soal yang diberikan, hari telah semakin sore dan ini menandakan waktunya hampir selesai. Semua soal yang diujikan oleh puteri Hayatunnukus semuanya dapat terjawab oleh Lahmuddin. Kemudian Lahmuddin berkata kepada puteri.

“Coba saya pula yang memberi soal dan saya harap putri dapat pula menjawabnya.” Putri menjawab; “Apakah soalnya?” Lahmuddin berkata, “Soalnya mudah saja, coba puteri dengarkan! Yang pertama menderaikan ibu, memakaikan bapak; yang kedua meminum air tidak dari bumi dan tidak dari langit dan yang ketiga memakan barang yang haram, dan membuangkan barang yang halal.” Cukup lama puteri memutar otaknya, tapi satu soal pun yang diberikan Lahmuddin kepadanya belum satupun yang terjawab olehnya. Oleh karena telah lama menunggu dan waktu semakin sore akhirnya Lahmuddin minta izin dan langsung pulang ke rumah nenek tempat dia menumpang. Siang telah berganti dengan malam dan dengan tidak disangka-sangka sehabis magrib datanglah puteri Hayatunnukus ke rumah nenek randa Kasian, mau menemui Lahmuddin. Maksudnya ingin menyelesaikan soal yang diberikan oleh Lahmuddin pada siang hari tadi.

Jangkrik telah mulai bernyanyi, ini menandakan hari telah larut malam, tapi satu soalpun belum terpecahkan oleh sang puteri, Lahmuddin tetap setia menemani putri, matanya sudah merasa agak pedih karena kantuknya sudah tak tertahankan lagi. Putri sadar akan itu, dengan segera putri menyuguhkan minuman kepada Lahmuddin, yang sengaja dibawa putri raja tadi dari istana. Minuman mana berupa susu dan kopi dan telah dicampur dengan sebangsa obat pemabuk. Maksud putri supaya Lahmuddin setelah meminum-minuman itu akan menjadi mabuk, dalam keadaan mabuk itu Lahmuddin akan memberitahukan jawaban dari soal tersebut. Lahmuddin tidak merasa sangsi, apalagi minuman yang disuguhkan oleh putri itu adalah kopi susu yang sangat sedap sekali rasanya. Lahmuddin tidak menyangka sedikitpun juga bahwa dalam minuman itu putri Hayatunnukus telah memasukkan sesuatu alat pemabuk. Sehabis minum kopi susu itu, Lahmuddin merasa kepalanya terasa berat dan matanya telah berkunang-kunang, dan tak lama kemudian Lahmuddin sudah hampir tidak sadar lagi. Ia mulai bercerita yang tidak-tidak, rupanya Lahmuddin telah mabuk akibat meminum minuman tadi.

Kesempatan baik ini tidak disia-siakan oleh putri. Di waktu mabuk itulah putri Hayatunnukus menanyakan jawaban dari soal yang diberikan oleh Lahmuddin tadi. Dalam keadaan mabuk dan tidak sadar ini Lahmuddin memberikan jawabannya. Jawaban dari ketiga soal itu ialah “yang pertama menderaikan ibu, memakaikan bapak artinya ialah ketika saya akan pergi, saya menggadaikan beliau kepada raja; yang kedua meminum air tidak dari bumi dan tidak dari langit artinya ketika dalam perjalanan saya merasa kehausan dan tidak ada jalan lain kecuali keringat kuda saya tampung buat saya minum, dan yang ketiga memakan barang yang haram, dan membuangkan barang yang halal artinya ialah ketika dalam perjalanan saya telah merasa lapar sekali, makanan sudah tidak ada, kemudian saya ketemu seekor induk rusa yang telah mati, ketika saya belah perutnya saya menemukan anak seekor rusa di dalam perutnya. Kemudian anak rusa itu saya sembelih dan saya panggang lalu saya makan.”

Setelah semua jawaban diberikan oleh Lahmuddin, Lahmuddin lalu dimandikan dan tak lama kemudian dia sadar kembali. Setelah Lahmuddin sadar, putri lalu mulai memberikan jawaban satu persatu, persis seperti jawaban yang diberikan oleh Lahmuddin sewaktu dia mabuk tadi. Ternyata apa yang dijawab oleh putri Hayatunnukus semuanya benar. Sebelum putri pulang dan akan berangkat ke istana, dipeganglah oleh Lahmuddin tangan sang putri. Putri melepaskan gelang tangannya dan diberikannya kepada Lahmuddin. Setelah itu putri berlalu dan pulang ke istananya. Setelah sampai di istana, dilihatnya orang-orang di Balai masih ramai mengadakan persidangan. Setelah sampai di balai, putri berkata kepada ayahnya; “Ayahanda, Lahmuddin telah kalah.” Mendengar itu raja berkata; “Kalau dia kalah saya perintahkan supaya Lahmuddin dibawa kemari untuk dihukum karena ini sesuai dengan persyaratan.”

Tak lama kemudian Lahmuddin telah dihadapkan dimuka sidang, dan sewaktu dihukum pancung akan dilaksanakan, Lahmuddin meminta permisi kepada raja untuk bercerita sedikit. Oleh raja permintaan itu dikabulkan dan Lahmuddin langsung bercerita; “Ceritanya begini raja, waktu petang datanglah seekor burung. Ketika burung itu akan pulang ditinggalkannyalah sayapnya selembar dan harga sayapnya itu ratusan ribu rupiah .” Mendengar cerita itu raja menjadi terperanjat dan sambil berkata; “Alangkah bagusnya bulu burung itu! coba kami lihat.” Lahmuddin berkata; “Kalau mau melihatnya lepaskan saya dulu.” Akhirnya permintaan Lahmuddin itu dipenuhi oleh raja dan oleh Lahmuddin ditunjukkkannya gelang putri tadi dan ketika dilihat oleh raja ternyata gelang itu adalah gelang putrinya sendiri.

“Hai,” kata raja, “Di mana kamu mengambil gelang ini, Lahmuddin?” Jawab Lahmuddin; “Inilah jalannya maka putri Haytunnukus dapat menjawab semua pertanyaan yang saya ajukan padanya. Dan sebagai penebusnya ialah gelang ini.” “Kalau macam ini persoalannya kamu tidak jadi dihukum,” kata raja.

Akhirnya raja bermusyawarah dan terpaksa putri harus dihukum. Hukumannya ialah putri harus kawin dengan Lahmuddin, karena Lahmuddinlah yang telah memenangkan sayembara itu. Pernikahan dan pesta dilangsungkan dengan sangat meriah di istana. Rakyat semuanya ikut bergembira. Sebulan telah berlalu, Lahmuddin dan isterinya putri Hayatunnukus hidup berkasih-kasihan. Pada suatu hari Lahmuddin berkat menjadi raja, karena ia menggantikan mertuanya menjadi raja. “Hai istriku!, saya mau pulang ke kampungku agak sebentar mau menjemput kedua orang tuaku.” Isterinya mengizinkan. Setelah dia pamit kepada mertuanya dan semua perbekalan dan persiapannya selama di jalan telah disiapkan, lalu berangkatlah Lahmuddin ke kampungnya. Tak berapa lama dalam perjalanan sampailah Lahmuddin di kampungnya, dan dia langsung menuju istana raja tempat dia menggadaikan kedua orang tuanya.

Setelah sampai di rumah raja; “Assalamualaikum raja.” “Wa’alaikumsalam. ” jawab raja. “Apa khabar Lahmuddin, dan kapan pulang, dan bagaimana keadaanmu selama di negeri orang adakah baik-baik saja.” “Berkat doa raja, saya ada sehat-sehat saja dan tak kurang suatu apa.” Kemudian Lahmuddin terus bercerita kepada raja selama dia dirantau dan disamping itu tak pula lupa dia menyampaikan maksudnya apa sebabnya dia menemui raja. “Begini raja saya ingin mengulang janji saya kepada raja.”

“Janji apa?” kata raja.

“Saya mau mengambil kedua orang budak yang saya gadaikan dulu, dan disamping itu semua apa-apa yang pernah saya pinjam dulu akan saya kembalikan beserta bunganya sekalian. Sebenarnya kedua orang yang saya gadaikan itu bukan budak saya, mereka adalah kedua orang tua saya.” Raja sangat terharu mendengar cerita dan pengakuan Lahmuddin. Dan raja dapat mengerti karena Lahmuddin berbuat itu adalah untuk sesuatu yang sangat baik.

Lalu raja berkata; “Lahmuddin, tentang semua apa-apa yang kamu pinjam dariku tidak ada. Anggap saja itu semuanya hadiah dariku. Saya mengerti kamu melakukan itu semuanya adalah untuk tujuan yang baik. Dan sekarang bawalah kedua orang tuamu pulang.” Lahmuddin beserta kedua orang tuanya minta diri dan tak lupa mengucapkan terima kasih. Tak lama kemudian Lahmuddin beserta kedua orang tuanya berangkat menuju kerajaan dimana Lahmuddin sekarang telah menjadi raja. Kedua orang tuanya hidup berbahagia sampai akhir hayatnya bersama anak dan menantunya.

No comments