Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Dusun Bunga Mas


ALKISAH, terdapatlah sebuah dusun, Bunga Mas namanya yaitu dusun yang telah lama berdiri hampir beratus-ratus tahun yang silam.

Di dusun ini didiami oleh bermacam-macam suku dan memiliki beraneka ragam adat istiadat yang ada di situ, karena pada umumnya mereka yang berdiam disini boleh dikatakan orang pendatang semuanya, diantaranya dari dusun, Selingsingan, Dusun Puguk, Dusun Lubuk Gesam dan lain-lain. Oleh karena itulah di dusun ini banyak sekali terjadi percekcokan-percekcokan. Adapun percekcokan ini terjadi, dikarenakan saling berbeda antara adat istiadat mereka sehingga sering terjadi perang kecil-kecilan antara suku dengan suku yang lain, akibatnya tak urung terjadi pertumpahan darah, sehingga dusun ini boleh dikatakan kurang aman.

Pada suatu hari, ada sepasukan yang datang dari dusun Selebar yang bermaksud untuk merebut dusun Bunga Mas agar dapat menjadi daerah kekuasaannya. Kemudian salah seorang Kepala Suku Dusun Bunga Mas berkata kepada Dewan dusun, “Bagaimana kita ini, daerah kita akan diserang oleh daerah lain.”

Kemudian Puyang Lubuk Gesam mengusulkan agar orang-orang yang mengacau di daerah kita ini harus kita usir dengan secepat mungkin. Lalu Puyang (kepala suku) yang lain setuju semuanya, bahkan kepala suku dari Dusun Selingsingan mengungkapan dengan peribahasa, “Seruncing-runcing tanduk kerbau yang datang sudah pasti runcinglah tanduk kerbau yang menunggu.” Dewan dusun berseru pada seluruh warganya, “Kita berperang sekarang juga.” Terus diperintahkan, bagi yang ada pedang bawalah pedang, bagi yang ada keris bawalah keris, yang ada tombak bawalah tombak, yang ada panah bawalah panah dan lain-lain.

Setelah siap semua alat bertempur, disusunlah strategi dan taktik sergapan. Pada malam hari dimulai dari pangkal dusun sampai ke ujung dusun secara serentak menyerang. Lalu terjadilah peperangan secara dahsyat yang tidak menentu lagi, hiruk-pikuk, sehingga pasukan banyak yang tewas mungkin sudah mencapai ratusan keatas, darah yang mengalir hampir menganak sungai, peperangan ini berlangsung tujuh hari tujuh malam. Segala perbekalan hampir habis karena akibat bumi hangus serta hampir mati semuanya.

Setelah peperangan berlangsung tiga hari tiga malam tidak tahu siang dan tidak tahu malam mereka itu banyak sekali yang menyingkir melarikan diri ke dalam hutan, dan pada malam hari banyak terjadi penculikan yang tak disangka-sangka. Kemudian Kepala rombongan puyang Selebar ini bermufakat dengan anak buahnya hendak kembali ke Desa Selebar. Puyang Selebar berpendapat, bahwa perjuangan ini tidak akan berhasil, jika pasukan makin lemah dan berkurang, karena anak buahnya sudah hampir habis, mati akibat peperangan tersebut.

Walaupun musibah sudah banyak, namun pasukan masih bersemangat untuk bertempur. Sedangkan pasukan berpendapat lain yaitu puyang Selebar ini akan kembali ke desanya. Pengacau-pengacau itu untunglah dapat dikikis habis, maka penduduk dusun Bunga Mas, ini kembali aman sedia kala. Bagi yang ditalang harus kembali ke dusun, bagi yang menyingkir ke dalam hutan kembali lagi ke dusun dan bagi yang di ladang kembali pula. Setelah penduduk dusun ini tadi berkumpul semuanya, terus diadakan mufakat yang menerangkan bahwa Dusun kita ini sudah aman kembali. Terniatlah bagi rakyat untuk mengangkat Kepala Dusun dan penetapan nama Dusun ini. Dusun ini cocok sekali untuk daerah pertanian, maka diaturlah apa yang cocok untuk ditanam.

Untuk mengatasi kekurangan pangan semasa perang itu, maka rakyat di situ mencari tumbuh-tumbuhan yang bersifat mengenyangkan. Semua rakyat terus bercocok tanam secara serentak. Kira-kira setelah berlangsung tiga tahun, maka durian Kepala Suku Dusun Selingsingan telah berbuah, tapi buahnya aneh sekali yaitu buah durian itu bukanlah merupakan buah durian seperti biasa. Oleh kepala Suku Dusun Selingsingan buah durian tersebut diperlihatkan kepada seseorang yang cerdik pandai, lalu buah durian tersebut langsung diselidiki, ternyata buah durian tersebut adalah biji emas. Dan kepala suku langsung pulang membawa durian tadi. Setelah ia sampai di rumah, buah durian yang masih ada diatas pohonnya itu langsung diturunkan semuanya. Kemudian buah durian tersebut terus disimpan baik-baik. Kepala Suku berprinsip, bahwa buah durian ini adalah sebagai modal.

Pada suatu malam Puyang Selingsingan ini bermimpi, isi mimpinya demikian, bahwa untuk nama dari Dusun yang didiami ini harus dinamakan Dusun Bunga Mas, dan mengangkat Kepala kampung secepat mungkin, agar dusun ini tidak diganggu oleh daerah lain lagi. Dalam waktu yang singkat, dilangsungkan pemancangan kepala dusun dan penetapan nama dusun. Lalu diadakanlah pemilihan, ternyata Puyang Selingsingan mendapat suara yang terbanyak, dan beliaulah yang dinyatakan menang dalam pemancangan tersebut.

Kemudian diadakan upacara pengangkatan kepala Desa. Terbentuknya Kepala Desa, maka langsung Kepala Desa tersebut mengumumkan kepada rakyatnya tentang nama dusun yang dinamakanya “Dusun BUNGA MAS.” Kepala Desa berkata kepada orang banyak. Namun dusun kita ini adalah “BUNGA MAS” karena sebelum diadakan pemancanagn pengangakatan kepala desa kita saya sudah bermimpi dahulu yang menyatakan nama dari Dusun kita ini.” Nah inilah sebagai riwayat ringkas tentang sejarah asal mula terjadinya nama dari Dusun Bunga Mas, yang sampai sekarang masih dipakai nama lama itu. Dengan terbentuknya nama dusun dan Kepala Dusun maka Kepala dusun mulai mengatur daerahnya, serta membangun dan mentertibkan desanya itu, sehingga rakyatnya menjadi makmur dan aman tenteram sampai terkenal kemana-mana.

Adapun daerah ini sudah maju dan makmur lagi pula sudah terkenal kemana-mana, maka sudah pasti orang dari daerah lain ingin menetap di sini. Bahkan mungkin ada yang berminat untuk menguasai daerah ini. Lalu orang dari daerah lain semakin lama semakin banyak yang datang ke dusun bunga mas ini. Kemudian secara tiba-tiba datanglah pasukan puyang Rimbo Kedui yang bermaksud untuk mencari mas yang ada di dusun Bunga Mas itu. Setelah pasukan ini sampai di dusun Bunga Mas, lalu mereka ini menyamar menjadi tukang mas dan langsung mencari Kepala Dusun Buda di rumah Kepala Dusun Bunga Mas, untuk merampas mas yang ada dirumah Kepala Dusun Bunga Mas tersebut.

Pada malam hari pasukan Puyang Rimbo Kedui ini mulailah untuk mencari mas tersebut, terus mereka mencari ke sana ke mari, tapi belum juga ketemu dengan barang itu. Setelah lama mereka itu mencari, maka bertemulah dengan gudang mas tersebut dan dilihat ada penjaganya 15 orang Ulubalang. Dengan terlihatnya para ulubalang itu, maka mereka ini mencari jalan bagaimana caranya untuk melewati 15 orang ulubalang tersebut.

Kemudian mereka secara mendadak menyerang sehingga para Ulubalang itu terbangun semuanya dan langsung mengambil pedangnya masing-masing. Peperangan berlangsung dengan dahsyatnya, terjadi pada siang hari dan malam hari berlangsung terus selama tiga bulan, sehingga puyang dusun Rimbo Kedui minta bantuan kepada puyang Padang Rambun. Maka pasukan puyang Bunga Mas bertambah lama, bertambah lemah dan akhirnya Kepala Dusun Bunga Mas (Puyang Bunga Mas) tewas akibat kena panah dari jauh, dan secara otomatis pasukan Puyang Bunga Mas menyerah.

Lalu secara bersama-sama diadakanlah upacara pemakaman Puyang Bunga Mas di Padang Periangan dengan diikuti bermacam-macam arakan dan bunyi-bunyian sewaktu upacara pemakaman itu berlangsung. Maka makamnya ini oleh rakyat setempat dianggap keramat dari dulu sampai sekarang, karena menurut kepercayaannya bahwa siapa saja yang bermohon kepada puyang ini pasti akan terkabul apa yang kita pinta. Puyang ini terkenal pula dengan nama Puyang Periangan atau Puyang Padang Periangan.

No comments