Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Dusun Babatan


ALKISAH, menurut cerita, di dusun ini asal mulanya ada sebatang kayu, dan kayu ini disebut orang kayu babatan. Kemudian kayu ini oleh rakyat disini dijadikan sebagai salah satu bahan obat, apabila orang sakit demam malaria.

Oleh karena dusun ini, dahulu bertambah lama bertambah ramai maka diangkatlah kepala dusun. Setelah diadakan pemilihan ternyata Panjaga Piring yang menang, dan kepala dusun ini disebut Puyang Penjaga Piring. Setelah dia menjadi kepala dusun, maka Puyang Penjaga Piring membuat rumah di atas sebuah bukit yang sangat tinggal dengan dikelilingi sungai yang airnya jernih sekeli, merupakan tempat mandi yang bagus sedangkan di sekeliling rumah Puyang ini sangat terkenal pula dengan keangkerannya di sini banyak setan-setan yang berdiam dan melindungi rumah Puyang Penunggu Piring.

Sedangkan Puyang penjaga piring itu terkenal pula dengan kesaktiannya, yaitu beliau dapat membunuh orang dari jauh apabila orang itu bersalah kepada Puyang panjaga piring. Dan kesaktian yang lain, beliau dapat mengetahui apabila seseorang ingin berbuat jahat, seperti ingin membunuh, ingin menyakiti dengan mempergunakan alat sihir dan cara-cara yang lain, kesemuanya ini dia dapat mengetahui serta dapat menangkisnya. Hal ini, sudah sering dilaksanakan orang dan sudah banyak bukti yang nyata.

Pada suatu hari Puyang penjaga piring pergi ke sebuah hutan beliau bermaksud ingin mencari kayu untuk ramuan rumah. Setelah sampai di dalam hutan, secara tiba-tiba datang seekor binatang yang menyerupai manusia, tapi badannya masih agak kecil. Setelah puyang Penjaga Piring melihat binatang kecil itu maka beliau mendekatinya. Puyang Penjaga Piring bermaksud ingin mengambil binatang tersebut, tapi secara tiba-tiba ibu binatang itu keluar dari guanya dan langsung mendekati tempat anaknya serta hendak menerkam Puyang Penjaga Piring.

Kemudian Penjaga Piring mematahkan sebatang kayu, bermaksud memanah ibu binatang itu, tapi sebelum kayu dipanahkan ibu binatang langsung menerkam. Tapi Penjaga Piring mengelak sedikit dan langsung dipukulnya dengan kayu yang dipegangnya itu, binatang itu terus terjatuh ke dalam jurang yang dalam dan Penjaga Piring mendekatinya lagi binatang itu. Tapi binatang itu masih melawan, sehingga terjadi lagi perkenalan secara hebat sehingga kayu-kayu disekelilingnya banyak yang patah akibat perkelahian itu.

Oleh karena perkelahian ini sudah terlalu lama, sedangkan binatang itu nampaknya sudah agak kepayahan pada waktu itu Penjaga Piring dapat akal, dia langsung melompat ke atas kayu yang tinggi, dan setelah sampai di atas kayu tersebut Penjaga piring itu mematahkan ranting-rantingnya kemudian ranting kayu itu langsung dipanahkan kepada binatang tersebut. Sedangkan binatang di bawah kayu itu semakin mengganas, pohon kayu dinaiki Penjaga piring itu hampir-hampir roboh, karena digoyang-goyang bawahnya, oleh karena itu Puyang Penjaga piring memukul lagi dengan kayu yang berduri, sehingga kena badan binatang itu.

Binatang terus menggoyangkan pohon lagi, dan akhirnya kayu tersebut roboh dan Penjaga piring melompat ke batang kayu yang lain. Sedangkan kayu yang roboh ini langsung menimpa binatang itu sehingga binatang tadi tidak berbuat apa-apa dan akhirnya mati. Maka pulanglah puyang Penjaga piring dengan membawa binatang tadi setelah sampai di rumah, dihiasilah anak binatang itu, dengan memberi pakaian serta hiasan-hiasan yang lain sehingga binatang yang kecil itu persis seperti manusia biasa.

Puyang penunggu piring mempunyai seorang anak putri yang bernama Rio Alap, setelah Rio Alap anak puyang Penjaga piring melihat binatang itu langsung bertanya; “Dimanakah Ayah mendapat orang ini? Dan siapakah namanya? Dan apakah tujuannya datang ke sini?” Puyang Penjaga piring menjawab dengan berbohong; “Ayah mendapatkan orang ini di dalam hutan ia termasuk tawanan perang. Dan setelah ayah tanya ternyata beliau termasuk juga orang yang miskin.”

Lalu binatang itu diberinya makan, tapi dia tidak mau makan. Kemudian penjaga piring menyuruh anaknya Rio Alap untuk membuat bubur. Setelah bubur masak, langsung oleh Rio Alap diberikan kepada anak binatang itu dan bubur itu langsung dimakannya. Karena dia mau makan bubur, maka bertambah lama dan tambah besar, sehingga tidak menyerupai binatang lagi. Akhirnya dia sudah mau makan nasi, lalu dia didik dan dia dilatih mengikuti bermacam-macam kegiatan manusia, dan telah menjadi anak puyang Penjaga piring. Akhirnya anak pungut ini telah menjadi orang yang pintar dan termasuk orang yang lebih dari manusia lain, sehingga Penjaga piring sangat sayang kepadanya.

Pada suatu hari Rio Alap disuruh ayahnya untuk menjaga ladang, sedangkan ladang itu dikelilingi hutan lebat. Oleh karena perintah ayahnya pergilah Rio Alap menjaga ladang. Setelah sampai diladang, maka bermalam dia seorang diri. Pada malam harinya tepat tengah malam, datanglah setan-setan, ingin menakuti Rio Alap. Rio Alap sangat takut, maka dia berteriak-teriak minta tolong, tapi apa hendak dikata seorang manusia pun di sekelilingnya tidak ada yang akan menolong. Karena Rio Alap sangat takut, maka dia bertekad akan melawan setan itu, dia langsung mendekat dan terjadilah perkelahian. Perkelahian terjadi sudah lama. Rio Alap teringatlah dengan ucap ilmu kulhu Api, dan ucap itu langsung dibacanya. Kemudian Rio Alap berubah sifat menyerupai gajah yang besar dan dipunggungnya keluarlah berkepul-kepul asap bercampur api, akhirnya Setan itu ketakutan dan berlari.

Kemudian Rio Alap kembali ke dusun, dan setelah ia sampai di rumah maka dia bercerita kepada ayahnya bahwa waktu di ladang dia ditakuti oleh setan yang sangat menakutkan sekali. Ayahnya menjawab. “Aku sudah tahu tapi kejadian itu waktu malam hari, dan ayah tahu tidak akan ada bahayanya.” Kalau seandainya ada bahaya, sudah pasti ayah pergi ke ladang itu. Tapi ayah percaya bahwa engkau adalah seorang anak puyang dengan sendirinya engkau harus sakti.”

Sesudah itu Penjaga piring memanggil anaknya Rio Alap lalu Rio Alap datang, dan ayahnya langsung berkata; “Menurut penglihatanku engkau ini sudah dewasa. Bagaimanakah seandainya engkau ini dijodohkan dengan orang yang diam di rumah kita ini saja sebab wataknya sudah kita ketahui bahwa dia termasuk orang yang rajin lagi pula termasuk orang yang pintar.” Lalu Rio Alap menjawab, “Permohonan ayah itu aku terima dengan baik, sebab selama ini aku belum berencana untuk kawin karena yang cocok belum ada, sekarang saya setuju.”

Kemudian Penjaga piring memanggil anak angkatnya itu. Setelah anak angkatnya datang, lalu puyang berkata; “Bagaimanakah kiranya kalau engkau ini saya jodohkan saja dengan Rio Alap, dan nantinya sewaktu upacara pertemuan sekaligus diresmikan nama kamu yang sebenarnya. Dan rencana saya kamu akan saya beri nama Mandang Terambat.” Oleh anaknya nama itu disetujui dan rencana pertunangan juga disetujui. Sehingga ia menjawab, “baiklah permintaan puyang itu saya terima dengan senang hati.” Sebab walau bagaimanapun ia tetap menjadi anak puyang, jadi segala sesuatu yang diperintahkan puyang harus ditaati.

Setelah permufakatan ini selesai, akhirnya penunggu piring memanggil anak dusun untuk meresmikan upacara pertunangan antar Rio Alap dengan anak pungutnya, maka kedua insan ini disuruh bersalaman. Kemudian diumumkan pula nama dari pada tunangannya itu yang bernama Mandang Terambat. Selanjutnya mulailah bersiap-siap untuk mengadakan persiapan peresmian pernikahan. Lalu disebarkan undangan, baik undangan dalam dusun, maupun undangan luar. Dan tetangga sebelah menyebelah terus membantu di rumah puyang untuk membuat “tarup” untuk tempat para undangan yang datang nanti.

Oleh karena pertunangan sudah lama serta semua persiapan pernikahan sudah siap, para undangan sudah datang, baik undangan yang di dalam dusun maupun undangan yang datang dari luar dusun. Akhirnya dilangsungkanlah upacara peresmian pernikahan. Para tetangga diberikan pembagian tugas ada yang tukang masak, tukang masak air, dipotongkan kerbau sebanyak 10 ekor kemudian ditambah lagi kambing, sapi dan sebagainya. Semua tetangga, diserahi tugas agar peresmian dapat terlaksana dengan meriah dan baik, serta aman dan tenteram. Lalu kedua mempelai mulai dihiasi dengan pakaian adat setempat, kemudian terus dinaikkan ke atas mahligai/pelaminan. Dan seterusnya dihiasi dengan bermacam-macam kesenian untuk disaksikan dalam peresmian itu.

Dan tak lama setelah itu langsung diadakan jamuan makan bersama-sama, peresmian pernikahan ini berlangsung selama 7 (tujuh) hari, 7 (tujuh) malam. Setelah selesai perkawinan ini, maka puyang berkata pada Mandan Terambat, “Engkau telah menjadi anakku yang syahti kedudukan aku ini sebagai Kelapa Dusun.” dan engkaulah yang akan mengganti kedudukkan aku ini sebagai Kepala Dusun.”

Pada suatu hari Puyang Penjaga piring, telah menyerahkan jabatannya dan diangkat dan dinobatkan untuk memangku jabatan itu. Pada suatu malam puyang Penjaga piring telah menghilang untuk kembali ke asalnya, karena beliau berasal dari Perpenunggu palak tanah dan Babatan tempat dia menghilang, disitulah dianggap ia berkubur, sehingga kuburannya itu sampai sekarang masih diakui orang sebagai keramat tersebut. Maka Mandan Terambat mulailah memangku jabatannya yang baru itu secara baik dan bijaksana, ia adalah seorang Kepala Dusun yang sangat disegani, hidupnya rukun bersama istrinya.

No comments