Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Empat Saudara


ALKISAH, ada seorang raja yang alim dan bijaksana. Ia mempunyai anak empat orang. Anak raja tersebut laki-laki semuanya. Sedangkan raja ini isterinya telah lama meninggal dunia. Adapun yang mengurus rumah tangga mereka adalah dayang-dayang pengasuh.

Pada suatu ketika disaat raja duduk melamun seorang diri, datanglah anaknya yang tertua menghampirinya sambil berkata: “Hai Ayah izinkanlah kami empat bersaudara untuk merantau. Di sana nanti kami akan menuntut ilmu untuk bekal di masa depan. Andai kami ini hanya tinggal di negeri ini selama-lamanya sudah pasti kita akan ketinggalan dari pada daerah-daerah lain.”

Raja berkata: “Hai anak-anakku, ayahanda izinkan kalian pergi merantau, asalkan saja kalian bisa menjaga diri masing-masing dan carilah ilmu yang berguna dan bermanfaat.” Ada satu lagi pesan ayahanda; “Apabila nanti kalian kembali, harapan ayahanda kembalilah semuanya secara serentak bersama-sama.”

“Baiklah!” jawab anak-anaknya.

Keesokan harinya berangkatlah anak-anaknya dengan peralatan lengkap dan senjata-senjata pun lengkap. Sejak kepergian anak-anaknya, tinggallah raja seorang diri yang kerjanya melamun.

Perjalanan keeempat saudara tersebut belum ada tujuan yang pasti kemanakah tempat yang akan dituju. Telah lama mereka berjalan bertemulah mereka dengan sebuah jalan bersimpang empat. Di sini mereka berhenti sambil melepaskan lelah. Waktu istirahat kakaknya yang paling tua berkata kepada adik-adiknya; “Hai adik-adikku kita telah lama berjalan, sudah jauh kampung kita tingalkan, tujuan perjalanan kita belum kita pikirkan.” Salah satu adiknya berkata; “Hai kakanda, saya ingin mengajukan pendapat, pendapat mana syukur kalau saudara-saudaraku setujui, tidak disetujui tidak jadi soal.”

Begini,” katanya, “sebaiknya kita berjalan secara berpisah, kebetulan sekarang ada jalan simpang empat maka masing-masing kita tempuh satu dari jalan ini, dengan jalan berpisah. Tentu kita akan mendapatkan pengalaman masing-masing, sehingga akhirnya waktu kita pulang kita akan mendapat banyak ilmu.”

Keempat saudara itu setuju jalan memisah sehinga pada persimpangan empat inilah mereka berpisah satu persatu. Masing-masing harus mengikuti salah satu arah simpang jalan tersebut. Sebelum mereka berpisah kakaknya berkata kepada adik-adiknya. “Kalian jangan lupa pesan ayah, tuntutlah ilmu yang berguna. Setelah berjabatan tangan berpisahlan mereka masing-masing meneruskan perjalanan sesuai dengan persetujuan. Berhari-hari berjalan naik bukit turun bukit, masuk hutan keluar hutan waktu hari sudah larut bertemulah empat saudara tadi disebuah gubuk usang yang dihuni oleh seorang nenek tua. Maka mampulah disana untuk melepaskan lelah. Rupanya nenek tua itu adalah seorang yang pandai dan berilmu terutama ilmu bertenung. Mulai saat itu belajarlah ia disana hingga mahir ilmu tersebut dan lebih pandai dari pada gurunya.

Adiknya yang kedua ini rupanya bergaul dengan pencuri. Di dalan komplotan pencuri itu ia selalu unggul. Sehingga ia lebih lincah dan lebih pandai dari pada teman-temannya yang lain. Saudaranya yang ketiga bertemu dengan seorang pemburu. Dimana si pemburu ini adalah orang ahli dalam ilmu menembak. Berkat lamanya bergaul akhirnya ia lebih mahir dan lebih tangkas dalam menembak dari pada si pemburu tadi. Kemahirannya bisa menembak burung terbang, bisa menembak telur yang dilemparkan ke atas dan sebagainya. Yang paling bungsu belajar tentang menambal, dan menjahit. Pokoknya setiap barang retak yang pecah dan lain-lain diperbaikinya hingga baik seperti semula. Setelah cukup ilmu yang diperoleh mereka masing-masing, mereka menyiapkan diri untuk pulang ke kampung halaman menemui ayahnya sesuai dengan janjinya.

Dalam perjalan pulang, mereka saling tunggu menunggu dipersimpangan jalan dimana mereka berpisah pada saat pergi dahulu, pada waktu bersamaan rupanya mereka telah berkumpul kembali dengan rasa senang dan gembira mereka bertemu dalam keadaan selamat dan masing-masing bercerita tentang suka duka yang mereka alami. Setelah lama mereka saling membicarakan pengakaman masing-masing dan berkumpul di tempat tersebut berangkatlah keempat bersaudara tadi kembali ke tempatnya, yang mana ayahnya telah lama menanti kehadiran mereka. Mereka disambut dengan hati yang penuh perasaan rindu oleh orang tuanya.

Pada suatu hari ketika mereka duduk-dududk di taman halaman rumahnya sambil bersendagurau dengan ayahnya, berkatalah anaknya yang tertua; “Hai, adik-adikku sekalian, diatas pohon pinang ini ada sarang-burung.” Memang di halaman mereka ada sebatang pohon pinang. Adik-adiknya menjawab; “Ah mana mungkin ada, andai kata ada, biar saya yang akan mengambilnya.” berkata yang pandai mencuri. “Dijawab lagi oleh kakaknya yang tertua, “telur pasti ada.” Lalu adiknya memanjat pohon pinang itu dengan hati-hati betul-betul telur itu ada, Lalu diambilnya.

Kebetulan sekali induk burung itu sedang ada di dalam sarangnya. Akan tetapi induk burung itu tidak terbang, karena ia tidak mengetahui bahwa ada orang yang mengambil telurnya. Melihat kelihaian anaknya ini ayahnya betul-betul kagum dan takjub, begitu juga saudara-saudaranya yang lain. Kemudian dilemparkannya telur tadi ke udara oleh saudaranya yang nomor tiga, begitu dilemparkan ditembaknyalah oleh saudaranya yang ahli tembak. Tembakan itu tepat sekali, telur tadi jatuh lalu pecah. Ayah mereka bertambah kagum kepada anaknya ini, lalu yang pandai menambal berkat, “Rugi telur ini pecah, biar saya yang memperbaikinya.” Kemudian dikumpulkannya kulit telur tadi, terus digenggam-genggamnya, ajaib betul telur ini pecah, biar saya yang akan memperbaikinya.” Kemudian dikumpulkannya kulit telur tadi, terus digenggam-genggamnya, ajaib betul telur itu kembali seperti semula. Dengan melihat pertunjukkan keempat anaknya tersebut orang tuanya sangat senang dan gembira.

Pada suatu ketika disebuah daerah lain ditempat itu ada seorang raja, raja itu kehilangan putrinya. Setelah dicari dimana-mana belum juga dijumpai. Semua dukun-dukun telah diundang untuk menemukan putri itu namun belum juga ada hasilnya. Putri tetap hilang bagaikan ditelan kabut. Oleh sebab itu, raja memanggil seluruh rakyatnya dan mengumumkan; “Barang siapa yang menemukan putri raja tersebut dialah yang akan menjadi jodohnya.”

Mendengar peristiwa itu, pergilah ayah mereka menghadap pada raja yang kehilangan anak itu, sambil berkata; “Maaf tuanku, konon kabarnya tuan dalam kesusahan, tuan kehilangan anak putri tercinta.”

“Benar katamu,” jawab raja itu pula.

“Dalam hal ini, mungkin anak-anakku bisa mencarinya tapi anakku ada 4 orang, lelaki semuanya.”

“Biarlah! Nanti siapa yang mendapatkannya, itulah bakal suaminya,” jawab raja.

“Kalau begitu tuan, saya permisi pulang untuk member tahukan pada anak-anak saya,” Sesampai di rumah ia menceritakan hal tersebut pada anak-anaknya. Mendengar itu mereka berempat berembuk ingin menghadap raja, lalu pergilah menghadap raja. Tiba di muka raja, berkatalah yang pandai bertenung, “Putri itu sekarang berada di sebuah pulau sedang ditawan oleh seekor burung Garuda. Putri itu diletakkan di bawah sayapnya.” Raja berkata; “Sekarang pergilah kalian mengambilnya apa yang kalian perlukan akan saya penuhi.” Keempat bersaudara itu menjawab; “Kami minta sebuah kapal dan lengkap dengan bahan makanan selama kami dalam perjalanan.” Lalu kata raja; “Kalau begitu baiklah, semuanya akan kusiapkan.”

Keesokan harinya berangkatlah rombongan empat bersaudara itu mengarungi lautan. Dalam perjalanan di antara mereka ada yang kebingungan sambil mufakat bagaimana cara mengambil putri tersebut. Kata yang pandai mencuri: “Biar nanti saya yang mengambil putri tersebut, dan pasti burung garuda itu tidak akan mengetahui.”

“Bagaimana kalau ketahuan?”

“Biar saya yang menembaknya,” kata yang ahli menembak.

“Bagaimana kalau kapal kita ditimpanya, bisa pecah nanti?”

“Nanti saya yang menambalnya,” kata yang pandai menambal.

Tibalah mereka tak jauh dari pulau tempat garuda itu menyembunyikan sang putri, lalu berhenti. Dengan diam-diam yang pandai mencuri tadi mengambil sang putri. Dilihatnya memang benar sang putri disembunyikan dibawah sayap burung garuda itu. Karena kelicikan dan keanggunan pemuda itu, sang putri berhasil diambil dan dibawa ke kapal. Kapal segera diberangkatkan, akan tetapi baru beberapa kilometer berjalan, burung Garuda tadi menyadari bahwa putri telah hilang. Ia mengembangkan sayapnya, lalu terbang dilihatnya ada kapal yang sedang berlayar di tengah lautan, terbang burung itu mulai merendah.

Begitu dekat dengan kapal, si jago tembak tidak memberi kesempatan. Ditembaknyalah garuda itu tepat mengenai dada burung garuda tersebut. Burung itu terjatuh menimpa kapal, kapal pecah dan semua isinya bertebaran. Dengan tangkas dan cepat pemuda ahli tambal itu langsung memperbaiki kapal yang bocor itu. Kapal mereka telah baik kembali. Garuda yang malang itu mati tinggal ditengah lautan. Kapal berjalan terus, dengan hati gembira sambil membawa hasil yang gilang-gemilang sebab putri raja telah bisa diselamatkan. Dalam perjalanan pulang, kemudian timbul perdebatan antara mereka memperdebatkan putri hanya seorang, sedangkan mereka empat bersaudara. Siapa diantara mereka yang akan memperistri putri tersebut. Saudara yang tertua berkata kepada adik-adiknya.

“Putri ini bakal menjadi istriku, karena aku mengetahui di mana tempatnya di sembunyikan.”

Yang nomor dua menjawab; “Kalau bukan saya mengambilnya, tidak mungkin putri itu bisa kakak dapatkan.” “Andaikata bukan saya yang menembak burung Garuda tadi, sudah pasti mati semua kalian di kapal ini.” jawab tukang tembak itu. Yang terakhir berkata pula si bungsu; “Kapal kita tadi pecah dan bocor, kalau bukan saya yang memperbaikinya tentu kita dan putri ini ikut tenggelam ke dalam laut.”

Lama kelamaan pertengkaran menjadi-jadi tak terasa kapal telah tiba di pelabuhan. Sang raja serta ayahnya telah menunggu di sana. Dengan hati gembira menyambut kedatangan anaknya. Setelah sampai dan melepaskan rindu dan kegembiraan, dalam perjalanan putri menceritakan tentang pertengkaran ke empat bersaudara itu tadi. Sehingga raja mengadakan persidangan untuk mencari penyelesaian. Akhirnya diambil kesimpulan, karena ayah dari keempat bersaudara ini telah lama menjadi duda, maka sang putri kawin dengan ayah mereka. Keempat bersaudara tersebut juga setuju akan penyelesaian itu. Maka tinggallah semuanya bersama keluarga dalam suasana baru hidup rukun dan damai.

No comments