Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Goa Suruman


ALKISAH, pada zaman dahulu tersebutlah empat orang pengembara yang keempatnya berasal dari kaki gunung Dempo. Mereka mengembara mengelilingi daerah-daerah di sekitar pantai Selatan pulau Perca. Tujuan mereka mengembara ialah mencari tempat yang baik untuk menetap, karena di kaki gunung Dempo telah padat penduduknya. Mereka akan membangun dusun yang baru untuk tempat tinggal. Itulah tujuan mereka mengembara berbulan-bulan lamanya untuk memilih tempat yang sesuai.

Setelah pengembara itu berjalan kian kemari berbulan-bulan, telah banyak tempat yang dilihat, akhirnya sampailah mereka berempat di suatu daerah, daerah dataran tinggi yang luas dan subur, lalu kempatnya bermusyawarah dan tempat inilah yang mereka anggap baik. Memang daerah itu keadaaan tanahnya dekat dengan sungai yang cocok benar untuk berladang, berkebun dan beternak. Para pengembara itu bernama Sindang Bersi, Mate Abang, Ngawak baju Alum dan Sak Ura Tanah Pilih.

Akhirnya permufakatan keempat pengembara itu telah bulat untuk menentukan pilihan tempat di daerah dataran. Di daerah dataran tinggi mereka menentukan pilihannya untuk dijadikan dusun yang baru, tempat keluarga mereka. Mereka mengatur rencana untuk memulai pekerjaan membangun Dusun yang baru, dan mulai membuka hutan, menebas dan memotong serta membersihkan pepohonan yang ada untuk dijadikan kebun, ladang dan serta yang lain-lainnya.

Mereka membangun dengan sederhana untuk tempat tinggal sementara. Cukup berat kerja mereka membuka hutan, bukan tak mungkin bahaya selalu mengintai. Seperti binatang buas atau jin-jin penunggu rimba yang selalu mengganggu pendatang baru. Namun mereka tabah dan ulet menghadapi segalanya. Berpuluh-puluh hektar tanah sudah dibuka itulah sebabnya sebelum mendirikan dangau mereka mengadakan kenduri, meminta kepada Yang Maha Kuasa supaya mereka bebas dari mala petaka dan mendapat rezeki murah. Dan untuk memberi nama daerah itu mereka musyawarah kembali, yang akhirnya daerah itu diberi nama “Dataran Matai” artinya Tempatnya mengarah ke matahari hidup. -daerah itu sekarang terletak di antara Kedurang dan Seginim-

Mulailah di sana mereka bercocok tanam, berladang, berkebun, beternak dan sebagainya. Semua tanaman tumbuh subur, padi melimpah ruah, sayur mayur tumbuh subur, ternak cepat beranak pinak. Mereka berempat hidup rukun damai dan sehidup semati. Mereka bangun dusun yang dicita-citakannya agar menjadi dusun yang baik, sebaik dusun yang mereka tinggalkan. Untuk membangun dusun yang baik bukanlah pekerjaan yang mudah.

Banyak sekali hambatan dan tantangan yang mereka temui. Dusun mereka masih dikelilingi hutan yang lebat, dan binatang buaspun sering mengganggu ternak mereka. Pada suatu malam, ternak mereka dimakan oleh seekor ular yang besar sekali. Sungguh marah mereka dengan kejadian itu. Karena marahnya Sindang Bersi pergi mengejar ular itu untuk dibunuhnya. Sindang Bersi mengejar ular tadi dengan tongkat dan diikuti oleh anjing piaraannya.

Ular besar pemakan ternak tadi terus dikejar oleh Sindang Bersi bersama anjingnya. Masuk hutan keluar hutan, dari bukit yang satu ke bukit yang lain terus diikuti kemana larinya. Berhari-hari, berminggu-minggu lamanya Sindang Bersi mengikuti dan mencari kemana dan dimana ular tadi lari.

Sedangkan ketiga sahabatnya masih tinggal di rumah dengan hati bimbang. Mereka bertiga menunggu, namun yang ditunggu tak juga tiba. Akhirnya setelah sekian lamanya Sindang Bersi tak juga muncul, bermusyawarahlah mereka bertiga untuk mencari temannya itu. Kemana dan dimana Sindang Bersi sekarang, masih hidup ataukah sudah mati?

Setelah diambil kata mufakat berangkatlah dua orang diantara mereka. Berangkat dan menyusul Sindang Bersi. Ngawak Baju Alum dan Sak Ura Tanah Pilih yang pergi dan Mate Abang menunggu rumah dan menjaga ternak yang ada. Dua orang pergi menyusul perjalanan Sindang Bersi, kemana dan di mana ia, masih hidup atau sudah mati harus mereka ketahui.

Diikutinyalah jejak Sindang Bersi oleh mereka berdua, masuk hutan keluar hutan mendaki bukit menuruni “Lurah” berhari-hari, berminggu-minggu. Cukup payah sudah mereka berdua menempuh perjalanan itu, mencari ke sana ke mari namun belum juga ketemu. Hampir saja mereka putus asa.

Akhirnya sampailah perjalanan mereka tadi ke sebuah sungai yang airnya jernih dan sejuk. Sungai di pegunungan. Beristirahatlah mereka di tepi sungai tadi untuk melepaskan lelah. Ketika mereka beristirahat terdengarlah sayup-sayup gongongan anjing nan Jauh. Mereka terkejut, ragu, bimbang dan gembira. Mungkin itu anjing Sindang Bersi yang sedang dicarinya. Segera mereka cari dimana letak bunyi anjing tadi. Mereka kejar untuk mendapatkan tempat itu.

Setelah sampai di tempat yang dicari, memang benar orang yang dicarinya sedang duduk termenung di tepi sebuah goa. Betapa gembira hati mereka semua, karena sudah sekian lamanya berpisah di tengah rimba belantara yang tak tentu tepinya. Terjadilah dialog dari mereka bertiga. “Apa yang engkau tunggu di sini?” tanya mereka berdua.

“Kemana ular yang kau kejar? Apakah sudah kau bunuh?”

Ular yang kukejar di “Surun goa ini…” kata Sindang Bersi sambil masuki Ga. Sampai sekarang gua tadi disebut Goa Suruman.

Setelah Ular yang dikejar tadi masuk ke dalam Goa, Sindang Bersi menunggu di mulut Goa tadi. Ditunggu sekian lama hingga teman-temannya curiga dan mencarinya. Di mulut goa itu Sindang Bersi ditemukan oleh dua orang temannya yang telah lama mencarinya. Ular yang ditunggu tak juga kunjung keluar, telah ditelan Goa Suruman.

Karena ular tadi tak juga mau keluar dari goa, maka mereka bertiga bermusyawarah untuk mengambil keputusan. Ngawak Baju Alum Sak Ura Tanah Pilih mengajak Sindang Bersi pulang meninggalkan tempat itu.

“Biarlah ular tadi tak terbunuh oleh kita. Mari kita teruskan pekerjaan kita, membangun dusun yang baru.” ajak mereka.

Namun Sindang Bersi berkeras hati, ia penasaran pada ular tadi, ia bertekad masih akan membunuh ular tadi walau bagaimanapun juga. Diputuskan oleh Sindang Bersi bahwa akan menunggu lobang itu sampai ia dapat membunuh ular yang dikejarnya. Ia akan tetap tinggal di mulut Goa Suruman sampai akhir.

No comments