Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Pandan Narang


ALKISAH, disuatu dusun terdapatlah cerita tentang empat orang bersaudara, tiga orang laki-laki dan seorang perempuan. Empat bersaudara ini dianggap sebagai nenek moyang/Puyang dari dusun Pandan Narang. Oleh karena itu namanya dikenal dengan Puyang Ratu yang paling tua. Puyang Rio Magawan yang kedua, Puyang Rio Muncak yang ketiga dan yang keempat bernama Puyang Rebia. Pada waktu kecil keempat bersaudara ini telah menjadi yatim piatu. Pernah tercoret didalam riwayat hidup mereka sebagai orang peminta-minta.

Empat bersaudara ini tak kenal dengan keangkuhan tak mengenal hidup dan yang menghidupinya. Tawakal dan takabur semilu dilesung hatinya Iman menjadi landasan amalnya, karena itulah mereka dianugrahi oleh Yang Maha Kuasa dengan ilmu kebatinan dan kepandaian Pencak Silat, pernah pada suatu hari berkat kebatinannya dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Mereka dikenal oleh masyarakat pada masa dulu tergolong orang alim ulama.

Pada suatu kali saudara yang paling tua yaitu Puyang Ratu berkeinginan mengumpulkan adik-adiknya, berbincang-bincang tentang kehidupan di dunia ini dan di akhirat nantinya. Pertemuan pun diadakanlah. Pembicaraan diawali dulu Puyang Ratu, dia mendahului pembicaraan. “Hai adik-adik, kita orang dusun yang bodoh, kebodohan ini harus kita perangi, salah satu jalannya ialah kita harus berpisah. Karena berkumpul, berkenalan, berakraban dan perpisahan itu adalah saat-saat dari hidup manusia yang membahagiakan. Apalagi kita sudah dewasa. Tegakah kita hidup di dusun ini dengan nasib seperti ini?”

Kemudian serentak adik-adik Puyang Ratu menjawab dengan “Tidak,” Puyang Ratu pun melanjutkan tuturnya siapa yang memiliki rencana besar maka laksanakanlah atau kesannya selesaikanlah dengan cara bersama-sama. Adik-adik Puyang Ratu masih memberi seribu bahasa dan mendiam seribu kata. Apakah diantara kita tak ingin hidup berumah tangga menyebarkan anak-anak kita dapat menggembur tanah, menghijaukan hamparan daratan dan menyuburkan tanaman. Setelah diam agak sebentar atas pertanyaan yang diajukan Puyang Ratu kepada adik-adiknya, barulah Puyang Magawan menjawab dengan nada lemah sekali, “Kakanda, kalau aku memang sudah berniat membahagiakan diri dan orang banyak, yaitu ingin merantau ke negeri orang dan kalau ada jodoh, yah aku pun tak mengelak untuk berkeluarga, dan kalau dapat menjadi orang berguna, orang berjasa dan orang besar dirantau orang.

Kemudian menyela pula Rio Muncak. Katanya, “Memang hidup di dunia dan dilain dunia hari yang akan datang harus berprinsip dan bertujuan tiadakah yang paling banyak didunia, tiadakah itu selain ilmu pengetahuan, tiadakah sepahlawanan orang yang paling mempertahankan dusun Negeri. Tentang hidup berumah tangga . Kakanda tiada aku elakkan. Dan kalau aku berkeluarga kelak ingin yang berhadapan dengan lubuk buntak. Masalah cerita kakanda turut sebentar baru ini memadu janji suatu ikatan suci, apalagi dengan sang gadis dari keturunan Dewa-dewa dusun Gang.” Demikianlah tutur kata mereka adik beradik yang dapat disimpulkan bahwa mereka semua ingin merantau untuk menambah ilmu mereka, karena tak puas dengan ilmu mereka sekarang.

Sewaktu mereka akan saling berpamitan. Terbetik berita dari orang dusun, orang Banten akan menggempur dusun Pandan Narang tempat kediaman empat orang bersaudara itu. Terpaksalah keempat bersaudara itu menggagalkan niat mereka untuk menyelamatkan dusun mereka lebih dahulu. Semua tetua dusun mereka panggil semua saudara mereka berkumpul untuk berembuk dalam menyambut pasukan musuh. Dari perembukan mereka bersama, mereka semua bersepakat untuk tidak mengorbankan rakyat, pasukan musuh harus disambut dengan baik, sesudah melihat gelagat. Sementara itu pasukan musuh telah sampai ke dusun Pandan Narang. Mereka mengirimkan utusan kepada tetua dusun Pandan Narang. Kebetulan tetua Dusun Pandang Narang adalah Puyang Ratu.

Diwaktu utusan sampai, disambut oleh Puyang Ratu dengan arif dan bijaksana. Ketiga adiknya diperintah oleh Puyang Ratu, melayani dengan sebaik-baiknya, seakan-akan tidak mengetahui maksud kedatangan utusan musuh. Sebelum utusan musuh membuka suara, Puyang Ratu bertanya lebih dahulu, “Tuan ini siapa dan ingin kemana anak muda?” Utusan pasukan Banten menjawab, “Tuan tetua dusun, ketahuilah, kami datang ke sini ingin mencari daerah yang makmur untuk tempat tinggal anak cucu kami di kemudian hari. Oleh sebab itu semua peraturan di dusun ini dan kekuasaannya harus diserahkan kepada kami.” Adik-adik Puyang Ratu mulai gusar hendak menghajar utusan itu, tetapi Puyang Ratu arif bijakasana dan berkata kepada adik-adiknya. “Betapapun jahatnya utusan musuh, dia adalah tamu kita.”

Adik-adik Puyang Ratu menjadi turun amarahnya dan mengikuti nasehat kakak mereka, empat bersaudara itu menawarkan perjamuan kepada mereka sebagai utusan itu yang menjadi tamu dan sebagai musuh. Tiga ekor kerbau akan disembelih disiapkan untuk menjamu semua musuh itu, lengkap dengan sayur mayurnya. Tibalah saatnya semua musuh itu dijamu. Mereka makan bersama sambil berdialog juga bersenda-gurau. Ketika hendak merokok, para perwira musuh mengalami kesulitan untuk menghisapnya, karena api yang akan membakar rokok itu belum disiapkan. Lalu ia meminta api kepada puyang Ratu. Puyang Ratu terus memerintahkan anak buahnya Rio Muncak untuk mencari api. Rio Muncak pergi ke tungku api dan langsung mengambil bara api, kemudian diletakkannya di telapak tangannya dan langsung diedarkannya ke tempat tamu yang mau merokok tadi. Semua tamu itu cengar-cengir, kecut sekecut bagaikan kambing yang diseret ke dalam air melihat kekebalan tangan Rio Muncak yang tidak terbakar oleh api.

Melihat kenyataan itu pasukan musuh mulai gelisah, duduk bagaikan diatas bara api yang sedang menyala. Belum habis makanan yang disajikan dimakan, mereka berlari tunggang langgang. Sesampai keinduk pasukan, mereka melapor kepada atasan, menceritakan pengalaman yang baru mereka alami. Dengan kenyataan itu komandan pasukan musuh memutuskan untuk mengundurkan diri dari dusun Pandan Narang.nDusun Pandan Narang lepas dari bahaya, keeempat beradik bertambah dicintai masyarakat.
Kemudian keempat beradik berkumpul kembali ingin merembukkan niat mereka untuk merantau mencari ilmu dan pengetahuan untuk memajukan dusun Pandan Narang. Dalam perembukan ini, diputuskan bahwa ketiga beradik akan pergi merentau ke Negeri orang. Adik mereka puyang Rebia tinggal di dusun. Mereka berjanji bahwa keempat beradik dalam waktu tidak lama akan berada kembali di dusun Pandan Narang. Kemudian mereka bertiga ini berangkat merantau untuk mencapai cita-cita mereka masing-masing. Adapun tempat yang akan mereka tuju adalah Puyang Ratu merantau ke Negeri Cina, Rio Muncak merantau ke Negeri Bangka dan Rio Magawan merentau ke Negeri Arab.

Setelah mereka kembali, rakyat bertambah yakin dengan kemampuan ketiga bersaudara tersebut, sehingga ketiga beradik diperkokohkan menjadi tetua dusun. Puyang Ratu sebagai ketua Dusun Pandan, Puyang Rio Muncak sebagai ketua dusun Narang, sedang Puyang Rio Magawan menjadi penghulu Dusun Bajur. Di waktu ketiganya menjalankan kewajibannya masing-masing sebagai ketua dusun, rakyat di masing-masing dusun baik dan sejahtera, semua ini berkat ketua dusunnya yang arif, bijaksana serta sakti dan mantra guna. Kemudian terpikir oleh ketiganya untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk, yaitu dengan menyatukan ketiga dusun, Berdasarkan pikiran itu maka mereka mengumpulkan rakyat masing-masing dusun, untuk membicarakan hal penyatuan itu. Setelah hal itu dikemukakan kepada rakyat masing-masing, semua rakyat setuju. Akhirnya berdirilah suatu bentuk pemerintahan yang berupa Kerajaan.

Dalam menentukan pucuk pimpinan ini rakyat setuju bahwa Puyang Ratu sebagai Raja, Rio Muncak sebagai wakilnya, Rio Magawan sebagai Penglima, sedangkan Puyang Rebia sebagai Bendahara Negara. Setelah pucuk pimpinan dinobatkan, maka nama kerajaan diresmikan bernama Pandan Narang. Selama keempat beradik ini menjadi pucuk pimpinan Kerajaan Pandan Narang, kerajaan sangat aman dan makmur, sehingga banyak kerajaan lain yang segan dan senang kepada kerajaan Pandan Narang. Pada waktu akhir hayatnya keempat beradik ini tetap dihormati oleh orang, sebab tempat makamnya dijadikan Keramat oleh rakyatnya. Keramat ini bernama keramat Pandan Narang.

No comments