Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Pauak Demak


ALKISAH, dahulu kala ada sebuah dusun yang terletak di Kabupaten Bengkulu Selatan, dusun tersebut bernama dusun Demak. Di dusun tersebut ada sebuah pauak. Perigi ini oleh penduduk setempat dinamakan Pauak Demak, jadi oleh penduduk dusun tersebut diberilah nama dusun itu Pauak Demak. Asal mulanya terjadi pauak tersebut asalnya dari Kerajaan Demak di Jawa Tengah.

Dulu pada zaman nenek moyang, pada suatu tempat di bagian bawah dari desa Padang Lebar sekarang, memerintahlah seorang raja yang gagah dan sakti. Beliau cukup terkenal, karena sangat arif dan bijaksana. Oleh karena itu, beliau sangat dicintai oleh semua rakyatnya. Raja ini, bernama Puyang Agung Negara. Raja Agung Negara ini kesenangannya adalah belajar. Sudah banyak pelajaran-pelajaran dan ilmu-ilmu yang dipelajarinya. Terdengar saja oleh beliau ada ilmu baru, walaupun tempat itu jauh beliau pasti akan datang buat berguru. Pokoknya dalam satu bulan saja beliau tidak belajar, beliau merasa tidak puas.

Pada suatu hari, beliau bertemu dengan kawan-kawan lamanya. Kawan-kawannya ini bernama Puyang Raden Emas yang berasal dari dusun Gunung Mesir, dan Puyang Bambang Wani yang berasal dari dusun Tanjung Aur. Karena sudah lama tidak berjumpa, banyaklah hal-hal yang mereka bicarakan. Kedua temannya itu oleh Agung Negara dihidangkan makanan dan minuman. Dalam pembicaraan, mereka bertiga telah sepakat untuk berlayar. Sehabis makan dan minum, mereka bertiga langsung mengatur rencana dan kemana mereka akan berlayar. Rupanya mereka bertiga ini mempunyai kesenangan yang sama yaitu belajar dan menuntut ilmu. Oleh karena bertiga telah diambil kata sepakat, bahwa mereka akan mengadakan perjalanan dan pelayaran yang cukup jauh. Mereka bertiga akan menuju Kerajaan Demak.

Mereka telah mempersiapkan bahan keperluan-keperluan yang akan dibawa selama dalam pelayaran dan perjalanan. Bahan makanan dimasukkan ke dalam perahu mereka. Oleh para hulubalang mereka masing-masing telah dipersiapkan alat-alat perang untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diingini selama dalam pelayaran dan dalam perjalanan. Sesudah makan dan minum selesai, semua barang-barang yang akan dibawa sudah lengkap dimasukkan ke dalam perahu. Setelah semua persiapan selesai berangkatlah mereka, mereka dilepas oleh rakyatnya masing-masing dengan doa dan tepuk tangan yang gemuruh.

Di dalam perjalanan berkatalah Puyang dari Tanjung Aur yaitu Puyang Bambang Wani: “Hai sanak! sebelum kita menuju ke tempat tujuan sebaiknya kita tunjuk dulu siapa yang akan memimpin kita ini dalam perjalanan. Supaya mudah bagaimana kalau kita tunjuk saja siapakah yang tertua diantara kita bertiga untuk menjadi pemimpin rombongan dalam perjalanan ini. Sedangkan yang lain tetap akan membantu sepenuhnya dalam perjalanan ini”.

Dalam hal ini berkata pula Puyang dari Gunung Mesir yaitu Puyang Raden Emas; “Saya sangat setuju sekali apa yang disusulkan oleh sanak kita Puyang Agung Negara yang memimpin kita sekalian ini dalam perjalanan. Karena kita semua mengetahui Puyang Agung Negara adalah yang tertua di antara kita bertiga dan disamping itu pula Puyang Agung Negara lebih banyak pengalamannya dalam berlayar.” Semua Puyang Agung Negara menolak atas usulan dari kawan-kawannya ini, tapi atas desakan Puyang Bambang Wani dan Puyang Raden Emas diterima jugalah pengangkatan ini, sebagai ketua rombongan.

Setelah selesai semuanya, maka berlayarlah mereka. Dengan penuh semangat dan penuh tawakal mereka terus berlayar dengan gagahnya menempuh gelombang, dan akhirnya dengan susah payah mereka dapat mengatasi semuanya ini. Berhari-hari kapal mereka berlayar, karena kerajaan Demak yang mereka tuju cukup jauh. Tak lama di jalan sampailah kapal mereka di kerajaan Demak. Mereka tidak menyangka karena baru saja sampai, kapal merapat di dermaga, dengan tiba-tiba diserang oleh tentara Demak. Rupanya menjelang kapal mereka akan merapat, kedatangan mereka telah diketahui oleh tentara Demak. Kedatangan mereka ini dilaporkan kepada raja Demak dan mereka menyangka kalau yang datang itu adalah musuh. Itulah sebabnya, oleh raja Demak diperintahnyalah prajurit-prajuritnya untuk menangkap mereka. Kalau perlu mereka semua yang berada di kapal harus dibunuh semuanya. Kapal dan semua barang -barang yang ada di kapal harus dirampas.

Rakyat dan raja Demak mengira setiap orang yang datang dan tidak memberitahu terlebih dahulu, apalagi yang datang itu lengkap dengan alat-alat perangnya, sudah pasti tujuan mereka tidak baik dan maksud mereka mau merampas kerajaan. Agung Negara tidak menyangka kalau mendapat serangan tiba-tiba itu. Agung Negara dengan segera memerintahkan dan memberi komando kepada kawan-kawannya untuk membalas serangan itu.

“Hai! kawan-kawan siapkan senjata masing-masing, kita diserang oleh tentara Demak. Mari kita balas serangan mereka dan kita bertempur. Dalam pertempuran ini, kawan-kawan tak usah gentar. Karena kita diserang kita pantas membalasnya. Tentara Demaklah yang mengajak kita berperang dan bertempur, mari kita lawan mereka dan berjuanglah dengan penuh semangat. Dalam pertempuran ini jangan kepalang tanggung, bunuhlah mereka kalau tidak kita yang akan dibunuh oleh mereka. Karena Demak yang menyerang kita terlebih dahulu, maka pantaslah kita membalas serangan mereka. Marilah kita bela kehormatan kita, karena kita datang bukan untuk mencari musuh tapi kalau datang tak perlu takut. Mari kita lawan mereka, esa hilang dua terbilang.” Demikianlah Agung Negara mendorong dan memberi semangat kepada para prajurit dan para hulubalangnya.

Atas komando dari Agung Negara, prajuritnya bertempur dengan gagah berani. Pertempuran langsung dipimpin oleh ketiga Puyang tadi. Pertempuran berlangsung dengan serunya. Kedua belah pihak, prajurit-prajuritnya telah banyak yang luka dan tewas. Kedua belah pihak masih bertahan dengan gigihnya dan tidak ada yang mau mengaku kalah. Sudah dua hari, dua malam peperangan terus berlangsung dengan serunya, tetapi kelihatannya belum ada tanda-tanda perang akan berakhir. Dan juga sulit menentukannya siapa yang unggul dalam peperangan ini.

Dalam sibuknya peperangan ini, Agung Negara masih sempat memperhatikan lawan dari Bambang Wani. Baik Bambang Wani maupun lawannya, kedua-duanya sama gagah dan sama-sama sakti. Tapi malang bagi Bambang Wani, lawannya lebih unggul. Lawannya dapat mengetahui letak-letak kelemahan dari Bambang Wani. Bambang Wani tewas dalam pertempuran itu, dia tewas dalam membela kehormatan negaranya. Setelah dilihat dan diperhatikan rupanya lawan Bambang Wani itu bukanlah manusia biasa, tapi adalah seekor gajah. Gajah tersebut bernama Gajah Berbaju Rantai.

Dengan tewasnya Bambang Wani, bukan membuat rombongan Agung Negara menjadi patah semangat. Tapi malah Agung Negara dan Raden Emas bertambah mengamuk dengan ganasnya. Banyak prajuri-prajurit dari kerajaan Demak yang mati diujung keris dan pedang Agung Negara dan Raden Emas. Agung Negara lebih bersemangat lagi memimpin pasukannya. Agung Negara dan rombongannya bersemboyan, timbang malu di dusun laman, lebih baik mati di medan perang, lebih baik berkalang tanah dari pada berkalang bangkai. Mereka akan terus berperang sampai titik darah terakhir, terlebih lagi setelah kawan mereka tewas ditangan musuh. Di sana-sini terdengar pekik kesakitan dan suara senjata beradu dengan senjata. Agung Negara dan Raden Emas tambah menggila, mereka mengamuk ke kanan dan ke kiri. Siapa yang kena sambarannya pasti mati. Agung Negara dan Raden Emas telah bersumpah lebih baik mati dari pada tidak terbalas. Dalam peperangan ini semua prajurit dari Agung Negara telah tewas semuanya dan tinggallah mereka berdua lagi.

Agung Negara dan Raden Emas baru teringat kalau Bambang Wani ada mempunyai senjata yang sangat ampuh yang selalu dipergunakannya. Senjata itu oleh Bambang Wani selalu dipergunakannya diwaktu-waktu mendesak. Senjata itu bernama baju terbang dan buli sembilan. Oleh Raden Emas, diperiksalah mayat Bambang Wani. Ternayata kedua senjata pusaka Bambang Wani tersebut sudah tidak ada lagi. Dicari-cari disekitar tempat Bambang Wani bertanding tadi, tapi tidak ada. Kemungkinan sekali senjata itu telah pindah tangan, dan dirampas oleh tentara musuh. Melihat kenyataan itu Agung Negara dan Raden Emas bertambah mengamuk. Sampai-sampai Agung Negara dan Raden Emas berteriak-teriak sampai ke ujung langit menantang tentara kerajaan Demak dan rajanya sekalian. “Hai! orang-orang Demak datanglah ke sini, datanglah satu persatu akan kami cincang kamu. Kalau seorang-seorang kamu takut, datanglah semuanya kemari sekalian dengan raja kamu. Kami berdua tidak akan mundur setapakpun. Kami beri waktu buat kamu sekalian untuk berpikir. kalau mau menyerah, menyerahlah dari sekarang.”

Mendengar kata-kata dan caci maki dari Agung Negara dan Raden Emas itu, Raja Demak memerintahkan seluruh kekuatan dan balatentaranya buat melawan Agung Negara dan Raden Emas harus dipatahkan. Semua bala tentara dari kerajaan demak telah rapat mengepung, dan juga tidak ketinggalan Gajah Berbaju Rantai yang telah membubuh Bambang Wani. Agung Negara dan Raden Emas, sudah berkali-kali tercampak dan terguling dilempar oleh Gajah Berbaju Rantai. Agung Negara dan Raden Emas telah luka-luka, walaupun begitu mereka tidak merasa gentar sedikitpun. Pedang dan keris mereka telah jatuh tercampak. Waktu itu Raden Emas baru teringat bahwa dia ada mempunyai sebuah keris yaitu keris pusaka turun temurun yang bernama Lepu Biring. Keris pusaka itu oleh Raden Emas dicobanya untuk menikam Gajah Berbaju Rantai. Rupanya benar kata pepatah, “Pukul akan bertemu dengan beliung, unak akan bertemu dengan kain buruk.” Rupanya keris pusaka kepunyaan Raden Emas benar-benar bertuah dan sakti, sekali tikam saja Gajah Berbaju Rantai tak dapat berkutik lagi. Hulubalang raja Demak itu mati seketika kena tikaman keris pusaka Raden Emas yaitu keris pusaka Lepu Biring.

Suasana ini membuat barisan dari kerajaan Demak menjadi kurang terkontrol lagi. Rakyat Demak dan bala tentaranya sudah mulai mengendur dan telah mulai merasa patah semangat. Karena hulubalangnya Gajah Berbaju Rantai telah mati di tangan Raden Emas. Raja Demak sudah mulai merasa kuatir, ia mulai berpikir untuk mengatur rencana dan siasat bagaimana caranya untuk menyelamatkan rakyat serta seluruh isi istananya. Kalau mereka menyerah, ini berarti Kerajaan Demak akan menjadi jajahan dan dibawah kekuasaan Raja Agung Negara. Raja Demak tidak mau menyerah begitu saja, walaupun dia tahu bahwa pasukannya telah kucar-kacir. Untuk menyelamatkan rakyatnya, maka diperintahkannya supaya mengungsi ke Bukit Kalkambing. Sebagaian dari prajuritnya tetap bertahan menjaga kemungkinan-kemungkinan yang tidak diingini.

Prajurit-prajurit yang bertahan, tetap berperang melawan Agung Negara dan Raden Emas. Agung Negara dan Raden Emas terus berperang dengan sigapnya setiap lawan yang dihadapinya pasti mati, dan yang takut melarikan diri intaian maut Agung Negara dan Raden Emas. Mereka yang melarikan diri terus bergabung dengan teman-teman mereka di Bukit Kalkambing. Suasana medan laga telah sepi, disana-sini mayat bergelimpang. Bau darah menusuk hidung, ini membuat suasana pemandangan yang tidak enak dilihat. Ini menandakan perang telah selesai dan Agung Negara menang dalam peperangan ini. Waktu itu berkatalah Agung Negara kepada Raden Emas, “Hai, Ki sanak Raden Emas! mari kita menyelesaikan dan mengubur mayat Bambang Wani ini dan sekalian semua mayat prajurit yang tewas.” Berjalan mereka berdua dengan sigapnya, sebentar saja pekerjaan itu selesai. Maklumlah mereka berdua adalah orang-orang yang sakti dan mempunyai kekuatan yang luar biasa. Setelah selesai mengerjakan itu semua, barulah mereka mulai merencanakan dan menentukan apa-apa yang akan mereka lakukan untuk selanjutnya.

Berkatalah Agung Negara kepada Raden Emas : “Ki sanak Raden emas, perang telah selesai semua lawan-lawan kita sudah melarikan diri beserta rajanya. Bagaimana pendapat Raden dan bagaimana rencana kita selanjutnya?” Raden Emas menjawab: “Betul katamu ki sanak Agung Negara, tetapi perlu diketahui bahwa sewaktu kita pergi, bertiga dengan Bambang Wani, tetapi sekarang kita akan pulang tinggal berdua. Aku punya usul bagaimana kalau kita pulang, kita bawa seorang rakyat dari Demak sebagai bukti bahwa kita benar-benar berperang dengan kerajaan Demak.”

Usul dari Raden Emas sangat baik sekali dan dapat diterima oleh Agung Negara, Dijawab oleh Agung Negara: “Kemana orang Demak akan kita cari, sekeliling kita hanya ada mayat-mayat yang bergelimpangan.” Seluruh kampung dan istana telah sepi. Mereka berdua terus mencari. Setelah sekian lama mencari sampailah mereka di Bukit Kalkambing. Setelah sampai di Bukit Kalkambing, mereka bertemu dengan seorang putri. Putri itu cantik sekali. Rupanya putri tersebut adalah anak raja Demak. Putri tersebut bernama Bidadari Sanggul Begelung. Agung Negara dan Raden Emas bercerita kepada putri tersebut apa maksud sebenarnya datang ke kerajaan Demak ini dan tak disangkanya kalau mendapat sambutan yang sangat tidak terpuji ini. Dan Agung Negara juga menyampaikkan akan membawa salah seorang rakyat Demak ke negerinya, sebagai bukti bahwa mereka berdua benar-benar telah pergi ke Kerajaan Demak. Bidadari Sanggul Begelung terharu mendengar cerita dari Agung Negara.

Berkatalah Agung Negara kepada Bidadari Sanggul Begelung. “Kami telah mencari kemana-mana tapi tak satupun yang dapat kami ketemukan kecuali putri. Jadi dengan ini kami mengharap sekali kalau putri mau ikut beserta kami sebagai bukti bahwa kami benar-benar pergi ke Kerajaan Demak ini.” Sang putri lalu menjawab; “Baiklah, saya mau ikut bersama tuan-tuan asal tuan-tuan dapat menerima dan memenuhi syarat-syarat yang saya ajukan, apakah tuan-tuan bersedia?” Syarat-syarat saya antara lain ialah:

– Supaya diterima dan diayangi dengan baik-baik.
– Supaya semua alat-alat keperluan saya dibawa semuanya, alat-alat keperluan saya itu antara lain yaitu: Tajau tempat air sebuah, seperangkat kelintang, piring atau pinggan lenggu sebuah, gong sebuah dan sumur tempat bidadari biasa mandi.

Mendengar permintaaan dari putri Bidadari Sanggul Begelung, Agung Negara dan Raden Emas agak terkejut tapi walaupun begitu mereka gembira karena putri itu mau ikut serta. Akhirnya berangkatlah mereka bertiga, tak lama dalam perjalanan, akhirnya mereka sampai di Muara Sungai Manna. Selama dalam perjalanan, Agung Negara dan Raden Emas berunding lagi mengenai Bidadari Sanggul Begelung yang mereka bawa. Siapa diantara mereka berdua yang akan memelihara putri Sanggul Begelung. Dalam hal ini, oleh Raden Emas mengusulkan supaya Agung Negara lah yang patut memelihara putri Bidadari Sanggul Begelung. Mula-mula Agung Negara menolak usul Raden Emas, tapi akhirnya diterima juga karena terus didesak oleh Raden Emas.

Oleh puyang Agung Negara, putri Bidadari Sanggul Begelung dan semua peralatannya langsung dibawa ke Padang Lebar tempat Agung Negara memerintah. Sesampai di Padang Lebar Puyang Agung Negara mencari tempat dimana akan meletakkan sumur tempat mandi bidadari. Setelah dapat tempat yang baik dengan pemandangan yang cukup indah yaitu di tepi air Nganut. Air sumur yang dibawa oleh Agung Negara ditumpahkan ke tanah dan bening sekali. Disinilah putri Bidadari Sanggul Begelung mandi pagi dan sore. Putri Bidadari Sanggul Begelung semakin cantik saja kelihatannya berkat mandi di sumur sakti itu.

Semua sanak famili dan mufakat adik sanak dari Agung Negara, Bidadari Sangul Begelung dikawinkan dengan raja Agung Negara. Pesta perkawinan diadakan sangat meriah sekali, semua penduduk Dusun Padang Lebar diundang untuk memeriahkan pesta perkawinan itu. Semua permainan dan pertunjukkan diadakan. Pesta berlangsung tujuh hari tujuh malam. Penduduk sekitar Padang Lebar diundang juga tidak ketinggal kawan karib dari Agung Negara yaitu Raden Emas ikut hadir dalam memeriahkan pesta perkawinan itu.

Sejak itu putri Bidadari Sanggul Begelung tinggallah hidup berkasih-kasihan dengan Raja Agung Negara dan sumur tempat mandi putri Bidadari Sanggul Begelung disebut Pauak Demak. Dan sejak itu pula dusun tempat tinggal Agung Negara dan isterinya putri Bidadari Sanggul Begelung dinamakan dusun Muara Demak. Nama ini diambil, karena permaisuri dari Agung Negara berasal dari Kerajaan Demak.

No comments