Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Puyang Melintang


ALKISAH, terdapatlah sebuah dusun di Kecamatan Talo dan dusun ini pada zaman dahulu didiami oleh seorang kepuyangan yang disebut Puyang Melintang.

Pada zaman dahulu dusun ini telah didiami oleh orang, tapi belum begitu ramai jika kita bandingkan dengan penduduknya sekarang. Dusun ini pada mulanya merupakan daerah pedalaman. Karena orangnya tiap tahun bertambah, baik pertambahan di dalam dusun itu sendiri maupun yang datangnya dari daerah lain maka dusun itu makin ramai. Dusun ini diapit oleh dua buah sungai yang besar sehingga merupakan persinggahan bagi pelayar-pelayar yang mengarungi kedua buah sungai ini. Lalu dusun ini disebut dusun “Talang Alai”, yang artinya dusun tempat bersinggah.

Dusun ini, terletak di atas tebing yang tinggi, dan tebing ini merupakan tanah liat yang sangat keras sekali dan tanah liat inilah yang disebut orang napal. Napal inilah yang menjadikan puyang dusun ini artinya Puyang Dusun Napal Melintang yang asalnya dari tanah liat. Dan orang inilah yang mula pertamanya berdiam di dusun Napal Melintang ini. Dan yang menamakan Dusun Napal Melintang ini, ialah orang ini sendiri.

Puyang ini terkenal pula dengan kesaktiannya tentang ilmu sihir. Dia bisa menghimpun bermacam-macam binatang, diantaranya; Binatang-Binatang buas seperti, harimau, buaya, gajah, badak dan lain-lain.

Dan juga beliau ini bisa mengobati orang yang digigit oleh binatang-binatang buas, seperti dicotok ular, lipan kala dan lain-lain. Orang daerah lain banyak yang datang ke sini untuk menuntut ilmu kepada beliau. Tapi setiap orang yang akan menuntut ilmu tersebut terlebih dahulu diberi nasehat oleh beliau. Dia mengatakan, kalau ingin menuntut ilmu kepada saya, syarat yang pertama, jangan dibawa untuk sombong-sombongan. Yang kedua tidak boleh melawan guru. Dan yang ketiga tidak boleh saling ancam-mengancam sesama kawan seperjuangan. Oleh karena Puyang ini sudah sangat terkenal dan anak buahnya sudah tersebar kemana-mana, maka rupanya, sudah banyak pula orang yang iri kepadanya. Mereka berniat hendak menghancurkan dusun Napal Melintang ini.

Pada suatu malam Puyang Napal Melintang bermimpi yang isi mimpinya menyatakan bahwa ada suatu daerah yang bermaksud ingin mendatangi kerajaan Napal Melintang ini. Rupanya mimpi ini memang tepat, kebetulan secara tiba-tiba datanglah sepasukan musuh dari Bumi Semilang, ingin menggempur dan teruslah mereka berjalan menuju kerajaan Puyang Napal Melintang ini, beliau memerintahkan anak buahnya yang berupa binatang, maka mulailah rombongan binatang-binatang buas merintangi mereka ini di tengah jalan. Adakalanya dihadang oleh harimau, gajah, dan yang paling banyak ular yang besar.

Rupanya pasukan ini tidak dapat menyampaikan niatnya, karena tidak bisa melewati rintangan-rintangan yang banyak. Dan akhirnya mereka ini pulang lagi ke Dusun Bumi Semidang. Lalu Puyang Napal Melintang memanggil kembali anak buahnya dengan jalan “besiwo.” membakar kemenyan yang berbunyi demikian:

“Ut puyang dari Gunung, Ut puyang dari laut, Ut puyang dari langit.” Kalau puyang masih mengaku aku cobalah perintahkan semua binatang-binatang buas di Napal melintang ini ke daerah Bumi Semidang untuk menghancurkan daerah Bumi Semidang.” Lalu binatang buas di antaranya harimau dan buaya, langsung menyerang ke sana untuk menghancurkan daerah tersebut.

Puyang Napal Melintang ini memerintahkan anak buahnya yaitu buaya bersama harimau untuk pergi ke dusun Bumi Semidang tersebut, maka para rombongan buaya dan harimau ini teruslah berangkat. Buaya berangkat dengan mengambil jalan air, sedangkan harimau mengambil jalan daratan. Setelah para rombongan ini berjalan selama 3 (tiga) bulan maka sampailah mereka ke daerah tersebut, dan setelah sampai di sana mulailah mereka menggunakan taktiknya.

Diantaranya harimau memakai taktik menyamar seperti manusia, sehingga daerah Bumi Semidang ini dikacaukan oleh kedua macam binatang buas ini. Dan akhirnya orang yang tinggal di Dusun ini hampir habis akibat dibunuh kedua macam binatang buas ini. Kemudian mereka yang masih hidup melarikan diri ke darah lain. Dan pada saat inilah Puyang Napal Melintang berkata, “Penduduk dusun Bumi Semidang sampai kapan saja dan dimana saja berada penduduknya tetap akan diintai oleh harimau dan buaya itu.”

Inilah sejarahnya Dusun Bumi Semidang yang sampai sekarang hampir habis dimakan oleh buaya dan harimau, bahkan dusun Bumi Semidang ini hampir tak ada lagi orangnya akibat bencana itu. Kemudian setelah kejadian ini, maka Puyang Napal Melintang memerintahkan anak buahnya untuk kembali lagi ke Dusun Napal Melintang. Tapi nyatanya hanya separuh yang pulang yang separuh lagi masih menetap di sana ingin menghabisi penduduk Bumi Semidang tersebut.

Sesudah itu Puyang Napal Melintang mulailah menyusun daerahnya kembali dengan baik dan diaturnyalah sedemikian rupa. Oleh karenanya daerah ini telah terkenal kemana-mana, maka penduduk di sini boleh dikatakan telah padat, sehingga banyak penduduk mengeluh, lalu Puyang Napal Melintang berkata, “Hai anak buahku sekalian, janganlah engkau mengeluh, sebab daerah kita ini, akan kita perluas lagi tunggulah sebentar lagi.”

Pada suatu hari Puyang Napal melintang pergi bersemedi ke suatu tempat, dan tiba di sana beliau membakar kemenyan menandakan untuk memohon kepada puyang agar dikabulkan semua yang akan dipinta.

Ketika sedang membakar kemenyan puyang berkata, “Permintaan tuan boleh kami kabulkan asal permintaan kami terlebih dahulu dikabulkan yaitu Kami meminta asal yang dari air harus menjadi air kembali, dan yang berasal dari tanah harus kembali tanah.” Maka puyang Dusun Napal Melintang menyanggupi semuanya permintaaan itu.

Setelah itu Puyang Napal Melintang langsung disuruh pulang untuk melaksanakan permohonannya tadi. Setelah ia sampai disana maka beliau langsung melaksanakan perintah itu tadi. Dan teruslah Puyang Napal Melintang melepaskan tinju yang pertama ke dalam air Napal Melintang itu, tapi belum ada reaksi apa-apa.

Kemudian dilepaskannya pula tinju yang kedua belum juga ada reaksi apa-apa. Lalu dihantamnya lagi dengan pukulan yang ketiga, tanah telah geger, dan air sungai telah berobah menjadi keruh. Kemudian dilepaskannya lagi tinju yang keempat, maka timbullah semua buaya yang ada disitu berkumpul.

Kemudian buaya ini langsung diusirnya dengan kata-kata demikian, “Hai anak buahku kalian pergilah jauh-jauh dari sini karena daerah ini akan kuperluas, air sungai ini akan kujadikan daratan dan aku akan kembali lagi kepada asal mulaku. Bertepatan dengan kedua kejadian yang bersamaan waktunya, maka Dusun Napal Melintang menjadi luas karena air sungainya telah menjadi daratan. Dan kejadian yang kedua Puyang Napal Melintang telah kembali ke asalnya yaitu dari “TANAH LIAT” telah kembali seperti semula.

No comments