Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Puyang Gindo Lura


ASAL mula puyang Gindo Lura menurut riwayatnya berasal dari Dusun Rena Panco. Dan beliau ini termasuk keturunan dari keluarga Puyang Darah Manis. Sewaktu beliau berumur dua belas tahun ayah dan ibunya telah meninggal dunia tewas dalam pertempuran di medan peperangan. Oleh karena Gindo Lura ini berjiwa pahlawan maka dia telah bertekad dalam hatinya berjanji untuk membalas peristiwa terbunuhnya orang tuanya, setelah beliau dewasa nanti.

Gindo Lura ingin menuntut ilmu batin serta ilmu silat agar nantinya dia dapat menjadi orang yang gagah perkasa. Untuk dapat memenuhi hasratnya itu Gindo Lura mendatangi Puyang Rena Kandis. Setelah beliau sampai di rumah Puyang Rena Kandis, beliau bermohon kepada Gindo Lura lalu berkata;

“Wahai Tuan Puyang Rena Kandis, aku datang ke sini bukan sembarang datang, melainkan ada keperluan, keperluannya ini adalah bermohon supaya puyang dapat mengajari aku soal ilmu batin dan ilmu lain-lain.”

Lalu Puyang Rena Kandis menjawab; “Permohonan engkau akan aku kabulkan, asalkan engkau sanggup mentaati segala peraturan dan syarat-syarat yang ada. Adapun syaratnya yang pertama engkau selama dalam penuntutan ilmu itu harus berpuasa terus, sesudah itu bersemedi di keramat Rena Kandis.”
Kemudian Gindo Lura menjawab; “Semua persyaratan bisa kupenuhi.”

“Kalau begitu, baiklah,” kata Puyang Rena Kandis pula. lalu Puyang Rena Kandis mulailah memerintahkan Gindo Lura untuk bersemedi di Keramat Rena Kandis. Lalu dia datang pada malam hari dengan diantar puyang ke keramat tersebut, belum lama berjalan maka sampailah ke keramat Rena Kandis. Dan setelah sampai di sana puyang Rena Kandis menghilang tidak menentu kemana arahnya, sehingga Gindo Lura bersemedi seorang diri dan dia terus membakar kemenyan memohon agar guru di keramat ini dapat datang.

Pada malam kedua tepat jam dua belas malam bertepatan pula dengan hujan deras beserta angin dan keadaan sekeliling gelap gulita maka secara tiba-tiba datanglah seorang manusia yang menyerupai setan, giginya sebesar kampak, badannya sebesar gajah, dan tingginya kira-kira seratus meter, namun Gindo Lura tidak gentar menghadapinya.

Lalu Gindo Lura berkata; “Wahai Tuan engkau siapa? dan mau apa? Kalau Tuan Puyang Rena Kandis, sekarang saya ingin belajar ilmu yang puyang miliki.”
Lalu Puyang tadi menganggukkan kepalanya, tanda menerima. Semenjak itu ia mulai belajar dengan tekun dan terus Puyang itu bersilat, masang langkah menandakan minta dorongan dan minta didatangi, lalu Gindo Lura datang terus mendorong dan puyang langsung menendang, sehingga Gindo Lura terjatuh ke atas pohon kayu yang sangat tinggi.

Setelah sampai di atas pohon, Puyang Rena Kandis memerintahkan Gindo Lura supaya turun. Lalu Gindo Lura turun dari pohon kayu tersebut, setelah turun terus menghadap puyang tersebut dan langsung mendorong lagi, gurunya mengelak sedikit serta memberikan tendangan sehingga Gindo Lura terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam serta masuk ke dalam gua pula.

Melihat kenyataan itu Puyang Rena Kandis langsung mendekati Gindo Lura yang sedang didalam gua dan berkata; “Cobalah engkau ucapkan kata-kata yang kuberikan ini, “aku ini adalah anak buah puyang Rena Kandis. Sesak buntu dedap benaik, (terdesak betul dedap dipanjat), Pancing sepintu tali alus, kalau puyang mengakui aku naikkanlah aku dari sini.”

Kemudian Gindo Lura terus mengucapkan kata-kata yang baru diajarkan dan dengan secara tiba-tiba Gindo Lura dapat melompat keatas, ia sangat takjub atas hasil itu. Akhirnya Puyang Rena Kandis menyuruh lagi untuk mendorong, dan Gindo Lura mendorong lagi, sedangkan gurunya menahan saja tidak mengelak sedikitpun. Gindo Lura ingin menjatuhkan gurunya, lalu ia melakukan serangan dengan hebatnya. Dan gurunya betul-betul senang. Semenjak itu Gindo Lura belajar dengan tekunnya, setelah lama belajar semua langkah betul-betul telah dipahami dengan tekunnya, jampi-jampi telah didapatinya.

Pada suatu hari gurunya berkata; “Wahai Gindo Lura, kau betul-betul hebat, semua ilmu yang kumiliki telah kuberikan dan telah kau pahami. Hanya satu ilmu lagi yang belum kuberikan, yaitu ilmu kebal.”

Gurunya Puyang Rena Kandis berkata; “Apakah kau sanggup memenuhi syarat untuk menuntut ilmu kebal itu?”

Gindo Lura menjawab “Sanggup guru! asal saja syarat itu tidak akan merenggut jiwa saya, syarat itu akan kuturuti.”

Gurunya berkata, “Syaratnya ialah meminum duri campur darah manusia.”

Dijawab oleh Gindo Lura. “Sanggup dan dilaksanakan.” Sekarang Gindo Lura akan belajar ilmu kebal, sedangkan syaratnya sudah dipenuhi.

Gurunya langsung berkata; “Kalau engkau ingin ilmu kebal yang pertama engkau harus mentaati peraturan. Adapun peraturan itu ialah; jangan sombong, jangan serakah, dan jangan suka mengganggu orang, yang terakhir inilah yang paling berat untuk melaksanakan.”

Lalu Puyang Rena Kandis mulai mengajar Gindo Lura ilmu kebal, yang pertama puyang mengeluarkan sebilah keris, lalu puyang berkata; “Kau hapalkan bunyi ilmu kebal ini bunyinya sebagai berikut: “Urat menjadi kawat, tulang menjadi besi, daging menjadi batu.” Dan Gindo Lura langsung mengucapkan kata-kata itu, kemudian setelah selesai mengucapkan kata-kata tersebut terus puyang menyuruh Gindo Lura untuk menusuk perut puyang Rena Kandis, tetapi apa yang terjadi; keris itu terbengkok, bahkan hampir-hampir patah. Kemudian Puyang menyuruh menikam dengan pedang, tetapi apa yang terjadi, seperti itu juga.

Dan setelah itu puyang berkata: “Sekarang giliranmu lagi Gindo Lura ucapkanlah dulu kata-kata yang sudah aku ajarkan tadi.” Lalu Gindo Lura langsung mengucapkan jampi-jampi tadi sampai habis. Kemudian setelah habis bacaan, puyang langsung menikam Gindo Lura tadi, apa yang terjadi? Gindo Lura langsung pingsan akhirnya diobati oleh puyang Rena Kandis. Dan tak lama setelah itu Gindo Lura kembali sembuh, lalu puyang mengusap muka sampai badan dengan air jeruk yang sudah dijampi kepada Gindo Lura. Kemudian Puyang Rena Kandis mencoba lagi menikamkan keris ke dada Gindo Lura tetapi apa yang terjadi; keris itu melambung saja tak ubahnya seperti kita menikam batu.

Puyang akan mengujinya sekali lagi lalu Gindo Lura membelakangi puyang dan langsung ditikamnya, tetapi seperti kejadian di atas maka keris menjadi patah. Sekarang puyang Rena Kandis telah mengakui ilmu yang diberikan sudah dapat diterima oleh Gindo Lura dapat dipakai, asalkan tidak melanggar pantangan-pantangannya tadi dan mudah-mudahan ilmu itu akan selalu makbul dimana saja digunakan kata gurunya.

Sesudah itu Gindo Lura belajar Ilmu Kelam untuk menghilang apabila dalam keadaan terdesak. Dalam mempelajari ilmu ini Gurunya membawa Gindo Lura ke sebuah hutan, yang sangat lebat di waktu malam hari, ketika hujan turun dengan derasnya halilintar bersahut-sahutan puyang Rena Kandis langsung mencoba ilmu yang sudah diberikan tadi setelah diujinya terbukti, ilmu tersebut telah dikuasai oleh Gindo Lura.

Kemudian puyang Rena Kandis mengajarkan jampi dan diberikannya juga sebuah ajimat yang ampuh pada Gindo Lura. Setelah mengajarkan ilmu tersebut diatas, tiba-tiba diserangnyalah Gindo Lura dengan hebat sehingga mengakibatkan Gindo Lura langsung membaca jampi yang diajarkan tadi dan Gindo Lura langsung dapat menghilang sehingga tidak kelihatan lagi dengan puyang Rena Kandis.

Puyang Rena Kandis berkata; “Ilmu Kelam sudah diterima dengan baik berarti, ilmu yang kamu tuntut telah selesai. Dan saya yankin bahwa ilmu yang sudah kamu tuntut itu sudah dapat diandalkan dan juga jika kamu baik-baik artinya tidak melanggar larangan yang telah kuberikan.”

Gindo Lura lanjut pamitan kepada gurunya sebab dia sudah selesai belajar dan mau pulang ke kampung halamannya. Gindo Lura pamitan kepada Gurunya dan terus pulang, dan sesampainya di desa Gindo Lura terus pula pamitan dengan sanak pemilihnya, karena ia ingin merantau dengan maksud untuk mengelilingi dunia. Tapi rupa-rupanya kerabat beliau ini berat sekali melepaskannya, tapi dia selalu beralasan ingin mencari pengalaman.

Pada suatu hari secara diam-diam Gindo Lura langsung berangkat merantau, dengan tekadnya yang bulat dia akan menemui sasaran yang telah direncanakannya; yaitu membalas dendam orang tuanya. Setelah berjalan selama tiga bulan maka Gindo Lura sampailah suatu negeri kebetulan di dalam negeri itu ada serombongan penyamun. Waktu itulah Gindo Lura dicegat penyamun. Rupanya negeri itu adalah negeri penyamun.

Begitu sampai di negeri itu, Gindo Lura diserang dengan dahsyat maksud penyamun mau membunuh tetapi Gindo Lura mempertahankan diri dengan tangkasnya, akhirnya semua penyamun dapat dikalahkan. Dengan kenyataan itu semua penyamun lari tunggang langgang dan melapor kepada rajanya, mengenai orang tidak dikenal. Dengan adanya laporan itu raja penyamun memerintahkan kepada bawahannya supaya mengerahkan semua pasukan untuk melawan orang tersebut.

Setelah pasukan berhadapan dengan Gindo Lura, pertempuran tak dapat dihindarkan lagi segala ilmu digunakannya. Akhirnya untuk kedua kalinya Gindo Lura tetap menang dan amanlah negeri itu. Kemudian Gindo Lura meneruskan perjalanannya dan meneruskan cita-citanya ingin membalas dendam orang tuanya. Sudah hampir setahun di dalam perantauan juga ia menemukan sebuah negeri, negeri ini ramai sekali.

Pada waktu itu Gindo Lura sudah tidak mempunyai bekal lagi, dia pikir apa boleh buat untuk mengisi perut aku harus mencuri. Dilaksanakannyalah niatnya dengan sempurna dan berhasil dengan baik berkat ilmu hilang yang ia tuntut. Melihat kenyataan ini dia lupa dengan sumpah gurunya, bahwa pekerjaan yang kurang baik dan tercela itu tidak boleh dilakukan. Tetapi karena terdesak apa boleh buat.

Pada suatu hari ia sampai ke suatu negeri, negeri tempat musuh ayahnya. Seperti pepatah mengatakan; “Kalau tidak terbalas musuh orang tuanya lebih baik mati berkalang tanah.” Maka didatangilah negeri tersebut, dia telah sampai di muka istana Raja. Istana di jaga oleh beberapa ulubalang yang gagah perkasa. Gindo Lura mengangkat sumbaran di muka istana, serta mengatakan mau membalas pati orang tuanya.

Para hulubalang telah siap sedia, sebab musuh didepan mata, akhirnya pertempuran berlangsung banyak para hulubalang mati terbunuh, akhirnya musuh dapat dimusnahkan. Gindo Lura puas dengan hasil yang tercapai telah dapat membalas dendam atas kematian orang tuanya. Setelah pertempuran berakhir maka Gindo Lura mengucapkan ilmu menghilang. Tak lama kemudian ia menghilang dari pandangan mata orang.

Sampai sekarang tempat ia bertempur itu orang jadikan keramat, sekarang bernama keramat, “NEGAM” yang terletak di Dusun Tanjungan, Kecamatan Seluma Selatan, Kabupaten Seluma, Bengkulu.

No comments