Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Remidu dan Remayu


ALKISAH, kabarnya di zaman bahari ada sebuah dusun yang letaknya di hulu sebuah sungai. Dusun itu baik sekali letaknya, penduduknya padat dan kaya raya. Hasil pertaniannya melimpah dan dapat dikatakan rakyat di susun itu hidup sejahtera, aman, damai dan ramah tamah.

Di dalam dusun itu tinggal dua orang gadis cantik jelita, merekalah gadis yang tercantik diantara gadis-gadis yang ada di susun itu. Konon Remidu dan Remayu namanya. Selain wajahnya yang cantik molek, budinya pun baik dan pandai pula berdendang. Suaranya merdu tak ada bandingannya. Gadis yang cantik ini semampai, wajahnya ayu bagaikan bulan purnama, suaranya merdu bagaikan buluh perindu. Berbudi baik berwajah ayu dan bersuara merdu. Rambutnya hitam panjang terurai, bibirnya merah seperti delima merekah matanya seperti bintang timur dan kulitnya seperti kemang masak. Tiada cacat tiada celah, dua gadis jelita ini idaman setiap pemuda. Demikianlah kira-kira gambaran dua orang gadis itu, Remidu dengan Remayu.

Setiap hari dan senja hari gadis-gadis dusun itu pergi bersama untuk mandi di sungai, sambil pulang mereka berdendang memuja alam dan dusun mereka. Dusun yang mereka cintai, tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Dusun yang aman makmur, penduduknya ramah tamah seramah alam di sekitar mereka. Seperti halnya gadis-gadis lain demikian juga Remidu dan Remayu, suaranya merdu menawan hati bagi yang mendengarnya.

Kecantikan dan budi luhur Remidu dan Remayu terkenal kemana-mana. Hampir di semua daerah, Remidu dan Remayu menjadi buah bibir mereka. Parasnya yang cantik tak ada duanya dan budinya yang baik membuat semua orang mengenalnya. Ditambah pula suaranya yang merdu membuat orang terpukau mendengarnya. Termashurlah nama kedua gadis itu kemana-mana, tua muda pria atau wanita selalu menyebut-nyebut namanya.

Di dusun lain, di daerah yang jauh dari dusun Remidu dan Remayu, tinggallah beberapa orang penyamun. Penyamun itu mendengar juga kabar tentang kecantikan dan kebaikkan Remidu dan Remayu. Mereka mendengar pula, bahwa penduduk dusun itu kaya raya dari hasil pertaniannya.

Mendengar kabar tadi, maka para penyamun itu merencanakan untuk mencari di mana letak dusun Remidu dan Remayu. Mereka berembuk, untuk membuat rencana jahat. Akan merampok semua harta benda penduduk dan akan melarikan gadis cantik yang ramai dibicarakan orang.

Di hari baik menurut perhitungan mereka, berangkatlah mereka mencari di mana letak dusun Remidu dan Remayu. Mereka berangkat dengan membawa senjata untuk merampok, membunuh dan sebagainya. Sungguh menyamun yang tak kenal belas kasihan.

Dari hari berganti, hari, dari minggu berganti minggu para penyamun berjalan mencari di mana dusun Remidu dan Remayu. Setelah melalui beberapa dusun dan menempuh hutan rimba serta bertanya kesana-kesini akhirnya sampailah para penyamun tadi ke dusun yang dicari. Mereka tidak langsung memasuki dusun ini, tetapi mereka mengatur dulu siasat baik-baik. Beberspa diantara mereka memasuki dusun secara diam-diam untuk mengetahui situasi dusun itu, dan lainnya bersembunyi di tepi dusun. Mereka sangat berhati-hati sekali agar jangan sampai tercium maksud jahatnya.

Setelah hari yang redup, senja yang sial bagi penduduk dusun itu, sedang para gadis bercanda di halaman dan orang tua duduk-duduk di rumah, tiba-tiba datanglah para penyamun itu. Rombongan penyamun memasuki dusun itu dengan serentak. Penduduk menjadi panik, suasana tak menentu dan setiap orang meyelamatkan dirinya masing-masing. Dusun ditinggalkan dan harta benda berhamburan. Mereka lari masuk hutan untuk menyelamatkan dirinya. Dusun porak poranda dikuasai para penyamun, penghuninya telah menghilang karena ketakutan.

Remidu dan Remayu tak lari bersama penduduk lainnya tetapi tetap berada di dusun itu. Mereka menyambut para penyamun tadi. Di sambutnya para penyamun itu dengan tari dan nyanyi yang merdu. Kedua gadis itu menyanyi dan menari di tengah-tengah dusun itu, sehingga para penyamun tadi datang menghampirinya. Rombongan penyamun berkerumun mengelilingi Remidu dan Remayu yang sedang menyanyi dan menari.

Mereka semua terpesona dan terpukau mendengar suara gadis tadi. Mereka termangu melihat kecantikan Remidu dan Remayu, sehingga para penyamun telah lupa datang ke dusun itu. Berjam-jam lamanya Penyamun mengelilingi gadis cantik itu. Di dusun yang tinggal hanya Remidu dengan Remayu, karena penduduknya telah lari masuk hutan ketakutan.

Akhirnya malam pun tiba. Remidu dengan Remayu terus menyanyi dan menari yang dikelilingi oleh para penyamun. Sampai dini hari mereka menyanyi dan menari di halaman, yang ditonton oleh para perampok. Sampai larut malam mereka menari dan menyanyi dan secara gaib kedua gadis cantik tadi hilang dari pandangan mata para penontonnya. Tinggal suaranya yang terdengar dan makin lama semakin menghilang pula. Lenyaplah gadis Remidu dan Remayu.

Bersamaan dengan menghilangnya kedua gadis tadi dusun-dusun yang tinggal tadi berubah menjadi hutan belantara. Dusun itu pun “Silam” seperti halnya Remidu dan Remayu. Para penyamun terjebak di hutan yang tak bertepi. Di malam gelap gulita di tengah rimba raya rombongan penyamun terkurung.

No comments