Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Sangsat dan Sangsit


ALKISAH, hiduplah kakak beradik bernama Sangsat dan Sangsit, yang tua Sangsat dan yang muda Sangsit mereka berdua tinggal di daerah perladangan orang Merbau. Ayah dan ibu mereka meninggal semasa Sangsat berumur 6 tahun dan Sangsit berumur 4 tahun, sehingga kedua anak ini menjadi anak yatim piatu.

Kehidupan mereka berdua begitu keras dan susah ditempuh. Mereka berladang dan untuk mengerjakan ladangnya ia telah berkali-kali membolak-balik tanah perbukitan itu untuk menghasilkan panen, namun tidak memadai, karena tumbuhan yang ditaman tergantung keadaan tanah dan datangnya curah hujan. Setelah lima bulan barulah dapat diambil hasilnya namun kurang memadai.

Pada suatu hari setelah menuai padi. Sangsat berkata kepada adiknya Sangsit; “Adikku Sangsit, tadi malam aku bermimpi akan diancam orang pertanda mimpi buruk. Aku harus meninggalkan daerah ini, tinggallah engkau di daerah ini dan pandai-pandailah hidup sendiri.”

Dengan hati cemas dan sedih Sangsit memohon; “Kakakku sayang, sampai hatikah kakak meninggalkan aku pergi merantau seorang diri? Aku ingin mengikuti kakak kemana saja, ada sama-sama dimakan tiada sama-sama ditahan, mati sama-sama mati, hidup sama-sama hidup.” Mendengar perkataan demikian, berlinanglah air mata Sangsat menatap wajah adiknya, apakah adiknya yang belum berdaya itu ditinggalkan pergi. Karena hatinya kuat juga hendak beranjak dari daerah gersang itu, ia berpikir juga untuk membawa serta adiknya merantau, biar hidup terlunta-lunta dan sengsara bersama-sama, dari pada bercerai berai. Kemudian mereka berdua mengadakan persiapan-persiapan semua harta benda dijualnya.

Setelah selesai persiapan ini, mereka berdua teruslah berangkat. Masuk hutan keluar hutan, naik gunung turun lurah, turun lurah menyeberang sungai, akhirnya sampailah di sebuah gunung yang sangat tinggi mereka berdua sudah tidak berdaya berjalan lagi, maka adiknya Sangsit berkata; “Hai Kakak, kita berhenti dahulu, karena aku sudah agak letih.” Lalu mereka langsung berhenti, dalam istirahat adiknya Sangsit tertidur tetapi Sangsat tak mau tidur malah memikirkan bekal apa yang dapat dijadikan makanan.

Sambil bersandar di akar pohon kayu dan wajah tengadah kepucuk-pucuk pohon, terlihatlah seekor burung yang sedang berkicau di atas pohon. Teringatlah Sangsit dengan panah yang ada di dalam kantongnya dan berniat untuk menjadikan burung itu makanan yang halal. Kemudian dipanahnya burung itu tapi belum memenuhi sasaran dan dipanahnya lagi, juga tidak memenuhi sasaran yang sebenarnya. Pada panahan yang ketiga, burung itu kena dan langsung jatuh terus disembelihnya dan dikulitinya, setelah itu terus dipanggangnya. Belum begitu lama burung itu dipanggang ada keanehan yang terjadi, burung yang dipanggang itu masih bisa bergerak-gerak.

Diusapnya matanya, seakan tak percaya pada penglihatan matanya sendiri namun burung itu kelihatan juga bergerak-gerak. Diusahakan oleh Sangsat membakar daging burung itu lama-lama. Ketika hendak menyantapnya terdengar suara gaib bergema di anak genderang telinga Sangsat; “Hei jika aku dimakan, makanlah. Siapa yang memakan kepala dan kaki serta tulang belulangku, maka dia alamatnya nanti akan menjadi seorang Raja. Tetapi siapa yang memakan daging serta isi perut dan perutku alamatnya nanti akan menjadi seorang yang hartawan dan bangsawan.”

Setelah mendengar kata-kata itu, Sangsat yang sangat lapar berkenan untuk memakan panggang burung tersebut sampai ketulang-tulangnya beserta kaki burung tersebut. Tentulah ia akan menjadi raja yang kaya raya. Kemudian Sangsit memakan semua panggang burung itu, tapi masih belum tertutupi laparnya. Sangsat menatap wajah adiknya yang tertidur dan juga lapar. Tiba-tiba terketuk hatinya untuk meninggalkan sisa dari panggang burung itu. Sangsat memakan kepala dan tulang belulang burung itu.

Selesai Sangsat makan, maka dia membangunankan adiknya Sangsit dan berkata; “Adikku Sangsit engkau mau makan, ia ada panggang burung sudah aku siapkan untukmu,” lalu Sangsit makan panggang burung itu yang dimakan dagingnya serta perut dan isi perut tersebut. Setelah makan, adiknya Sangsit merasa haus lalu ia berkata; “Kak carikan aku air sebab aku ingin minum, aku haus.”
Sangsat menengok ke kiri dan ke kanan ke arah dataran kalau-kalau ada telaga di dekat sana. Namun tiada kelihatan karena hutan melulu. Terus dia menaiki gunung yang tinggi, tiba di atas terlihatlah ada sebuah danau yang agak besar dan airnya sangat jernih sekali.

Kemudian Sangsat pergi ke tempat itu, lalu dipetiknya sehelai daun untuk penadah air, supaya dapat dibawa untuk diminum oleh adiknya Sangsit. Sewaktu menguak belukar, muncullah di hadapan Sangsat seekor kuda putih bersih. Timbul keinginan Sangsat menangkap kuda itu. Sangat berusaha melompat ke punggung kuda itu tetapi ketika kuda itu ditungganginya, ia tidak bisa menguasai kuda tersendiri karena kuda itu berlari kencang sekali dan semakin jauh tak tentu arah. Sangsat dilarikan kuda itu berjam-jam, berhari-hari malah hampir 2 (dua) minggu. Akhirnya, Sangsat sampai di suatu kerajaan yang bernama kerajaan Bagdad.

Raja Bagdad beberapa minggu ini merasa gelisah, karena kuda kesayanganya menghilang. Semua balatentara sudah dikerahkan untuk mengikuti jejak kuda itu namun tidak berhasil. Sekarang kuda itu datang lagi bersama Sangsat ke tahta Kerajaan tersebut. Sesampainya di sana Sangsat ditanya oleh Raja; “Hai orang asing dari mana engkau dan mengapa kesini?” Lalu Sangsat pun menceritakan kisahnya dari mula sampai akhir hingga tiba di sini tapi ia tidak pernah menyinggung masalah adiknya.

Raja yang semula mengira Sangsat yang mencari kuda itu tapi akhirnya Raja merasa berterima kasih kepada Sangsat yang telah menemukan kuda beliau yang telah lama hilang. Kemudian Raja menawarkan kepada Sangsat untuk menetap di rumah raja ini dan tentang adiknya rasanya sukar untuk dicari kembali di tengah hutan belantara. Lalu Sangsat langsung menetap di sini dan bekerja dengan rajin lagi pula jujur. Karena kerajinan dan kejujurannya sang raja mengangkatnya menjadi seorang Ulubalang raja. Dengan adanya Sangsat yang telah dinobatkan menjadi seorang ulubalang, maka ia bertambah tekun saja dan kerjanya bersemangat sehingga diantara ulubalang yang lain dialah yang terpuji oleh raja.

Raja sangat sayang kepada dia, sehingga anaknya langsung ditunangkannya dengan Sangsat. Dan tak lama kemudian diadakan persiapan untuk pesta perkawinan. Setelah siap, maka upacara peresmian perkawinan itupun berlangsung antara anak Raja bernama Putri dengan Sangsat. Pesta ini berlangsung selama tujuh hari tujuh malam, semua adat dan tari-tarian berlangsung terus selama tujuh hari tujuh malam.

Setelah selesai, maka Sangsat telah menjadi menantu raja. Pada suatu hari Raja memanggil Sangsat untuk datang menghadap. Sangsat pun datang kemudian Raja bersabda; “Hei Sangsat, rasanya tiada yang dapat untuk menggantikanku selain engkau. Sekarang bersiap-siaplah engkau memangku jabatanku.” Sangsat menerima jabatan itu, lalu dinobatkanlah Sangsat sebagai wakil Raja.

Setelah Sangsat memerintah selama tiga tahun, tiba-tiba dengan tak disangka-sangka, datanglah pasukan dari Siam (daerah tanjung seru) yang bermaksud ingin menguasi Kerajaan Bagdad (daerah tematang bungin). Maka terjadilah pertempuran yang dahsyat sehingga hampir-hampir kerajaaan Bagdad kalah, dan pada waktu peperangan inilah Raja Bagdad tewas, tapi pasukannya masih dapat menang. Oleh karena Raja bagdad sudah tewas maka secara otomatis Sangsat diangkat menjadi Raja Bagdad. Maka mulailah Sangsat mengatur daerahnya dan melantik beberapa ulubalang lagi untuk memperkuat pertahanan. Sangsat terkenal dengan kegagahan dan kesaktiannya, sehingga Kerajaan Bagdad pada waktu itu sudah terkenal dimana-mana.

Terkisahlah Sangsit yang menanti-nantikan kakaknya Sangsat yang sedang mencari air tapi tak kunjung datang. Karena tidak mungkin rasanya yang ditunggu itu akan datang maka Sangsit meneruskan perjalanannya. Sekaranag ia sudah sampai di pesisir dekat lautan. Diamatinya gelombang ombak yang memecah dan burung camar yang terbang melayang. Di situ sisi pantai terlihatlah oleh Sangsit sebuah kapal yang terdampar oleh gelombang. Sangsit mendekatinya kemudian oleh orang yang membawa kapal itu, Sangsit dimintakan bantuannya untuk menarik kapal itu, lalu Sangsit berkata; “Saya, Boleh saja,” jawab mereka.

Semenjak Sangsit memakan daging burung yang diberi oleh kakaknya terasa ada mukjizatnya. Lalu Sangsit mencoba menarik kapal itu dengan bermohon kepada puyang-puyang serta membaca manteranya; “Kalau menurut kata akal kapal ini tidak akan tertarik, tapi kalau menurut kata adat kapal ini bisa ditarik.” Dan ternyata Sangsit berhasil menarik kapal itu sampai ke tengah lautan. Kemudian Sangsit mengemudikan kapal itu, berbulan-bulan dia berlayar.

Sekarang Sangsit menjadi pelayar dan juga pedagang yang telah berlayar kemana-mana. Beberapa samudara telah diarunginya, beberapa penjuru angin telah diturtinya. Dari bandar pelabuhan negara lain ke bandar pelabuhan negara lain dia berlayar. Suatu ketika Sangsit membuang sauh kapalnya disalah satu bandar yang ramai di kerajaaan Bagdad, yang rajanya bernama Sangsat. Maksudnya, akan membeli barang dagangan disana. Setelah beberapa hari mangkal di dermaga pelabuhan Bagdad itu, tibalah saatnya Sangsit ingin bertolak dari pelabuhan. Pada waktu pemeriksaan surat menyurat ada larangan pembatalan keberangkatan karena beberapa barang tak diizinkan untuk dibawa. Nahkoda kapal harus berurusan dulu dengan raja.

Sangsit dengan dikawal oleh petugas pelabuhan menghadap raja. Sewaktu dihadapkan dengan raja, raja bertanya kepada Sangsit; “Hei Nahkoda, apakah tuan tidak mengetahui dengan peraturan negara kami?” “Tidak raja, karena saya baru sekali ini berlayar ke daerah raja ini.” jawab Sangsit. “Hei Nahkoda, tuan berasal dari mana?” raja bertanya lagi. Sangsit mengawali penjelasannya dengan riwayat hidupnya, hingga terceritakanlah dan tersebut nama Sangsat. Belum selesai Sangsit menceritakan, sang Raja langsung memeluk Sangsit dan berkata; “Engkau adikku, dan maafkan aku.” Perjumpaan dua orang bersaudara itu mengharukan sekali karena sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah bertemu.

No comments