Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Tembo Puyang Simpang


ALKISAH, hiduplah seorang yang bernama Tembo Puyang Simpang. Puyang ini tinggal di dalam sebuah dusun yang bernama Dusun Simpang. Dusun ini adalah hulu dari pada air Seluma, yang terletak di pinggir daerah persawahan sehingga daerah ini terkenal karena menghasilkan padi yang banyak dan dapat dikatakan gudang beras di daerah itu.

Puyang ini diakui sebagai tetua dusun, karena beliau mempunyai kesaktian yang hebat sekali dan diakui oleh masyarakat setempat, tetapi beliau tidak sombong. Adapun kesaktian yang pertama beliau miliki ia bisa melompat sampai 50 meter tingginya, sehingga kapan orang mau melawannya boleh dikatakan sangat susah sekali, lagi pula beliau ahli pencak silat.

Di dusun ini beliau mengajarkan pencak silat kepada penduduknya, sampai pengikutnya mencapai 500 orang. Pengikutnya berasal dari dalam dusun itu sendiri dan dari luar dusun juga ada. Pencak silat beliau ini tidak sama dengan silat yang dimilki orang lain, karena silatnya tidak begitu banyak langkanya. Dan kalau belajar silat kepadanya tidak akan memakan waktu yang lama.

Pada suatu hari Puyang Simpang ini merantau ke daerah Pasemah. Adapun tujuan beliau merantau ke sana tak lain dan tak bukan ingin mencari uang dengan jalan berjudi. Sesampainya disana Puyang Simpang terus mengadakan penyelidikan untuk mencari tempat orang bermain judi. Setelah beliau berjalan-jalan selama tiga hari, maka diketemukanlah tempat berjudi menyabung ayam. Dan Puyang Simpang langsung masuk ke gelanggang perjudian itu. Setelah beliau masuk ke dalam gelanggang tersebut langsunglah dia membeli seekor ayam maksudnya ingin berjudi menyabung ayam pula. Setelah itu Puyang Simpang menghadap kepada imam gelanggang sebagai kebiasaan untuk berjudi, dan langsung beliau menyerahkan taruhan kepada imam gelangggang tersebut.

Pada permainannnya yang pertama, Puyang Simpang mulai melepaskan ayamnya untuk diadu, dan ayam lawannya itu langsung dilepas pula sehingga terjadilah perkelahian kedua ayam tersebut dan ayam itu mencari kelemahan masing-masing untuk menang. Dan tampaklah bertambah lama, bertambah lemah saja lawan ayam Puyang Simpang itu. Tidak lama setelah itu ayam lawan telah jatuh akibat kena jalu ayam Puyang Simpang dan langsung dinyatakan kalah tadi, bertambah emosi ia menantang lagi Puyang Simpang untuk bermain adu ayam, jawab Puyang Simpang. “Jadi asal masih mau.”

Setelah pertarungan yang pertama selesai dilangsungkan pertarungan yang kedua. Sebelum dilangsungkan pertarungan ini, terlebih dahulu Puyang Simpang ingin minta sedikit waktu karena beliau ingin mohon terlebih dulu kepada dewa, lalu beliau bermohon sambil membakar kemenyan.

“Ut puyang, ut puyang, ut puyang…”

“Ut puyang dari Selatan aku ini adalah anak cucu puyang, aku bermohon kepada puyang, agar aku bisa menang banyak dalam perjudian ini.”

Lalu puyang dari Selatan menjawab, “Engkau kami akui sebagai anak cucu kami dan engkau walaupun di mana saja pasti akan kami tolong, sekarang apa yang engkau pinta akan kami penuhi.”

Puyang Simpang berkata, “Saya ingin menang dalam judi ini.”

“Akan kami penuhi,” kata Puyang dari Selatan. Setelah selesai Puyang Simpang bermohon, ia lalu bertaruh kembali.

Ketua gelanggang langsung memegang taruhan mereka itu. Lalu kedua penyabung itu terus melepaskan ayamnya masing-masing dan kedua ayam itu langsung berkelahi dengan serunya masing-masing akan mengetahui tuanya. Setelah pertarungan itu berjalan kira-kira setengah jam lamanya, ayam lawan tidak bisa berdiri lagi dan imam gelanggang telah menyatakan bahwa Puyang Simpang telah menang kembali. Dan taruhannya telah diambil oleh Puyang Simpang.

Oleh karena orang lawan ini sudah tiga kali kalah dan taruhan sudah banyak habis dia selalu main terus dan berharap agar dia menang. Lalu ia berkata lagi kepada imam gelanggang bahwa ia ingin mengajak main lagi. Sedangkan Puyang Simpang pantang menolak tantangan lawan. Akhirnya diadakan taruhan yang ke empat.

Pertaruhan ini terjadi sewaktu malam hari. Imam gelangang sudah memulai mengatur perjudian itu, lalu di suruhnya melepaskan ayam masing-masing. Tapi nampaknya lawan pada taruhan tahap ke empat ini sudah agak cemas dan geram karena taruhannya sudah habis. Dan belum begitu lama pertarungan terjadi ayamnya sudah menunjukkan kelelahan, ternyata ayam orang lawan tertikam oleh taji ayam Puyang Simpang, akhirnya kekalahan tak dapat ditimbuni dan ayam lawan langsung mati.

Melihat peristiwa itu lawan mulai panas dan marah-marah dia berkata, “Saya tidak senang kalau kita tidak berkelahi pula.” Tetapi Puyang Simpang tetap diam saja dan ketua gelanggang langsung memisahkan kedua orang ini. Tapi lama kelamaan kedua orang ini bertarung dan langsung berkelahi. Mula pertamanya orang lawan ini menendang Puyang Simpang, dan Puyang Simpang mengelakkan tendangan itu. Kemudian Puyang Simpang langsung membaca ucap jami tinjunya, lalu dia tendanglah orang tersebut dan terpelanting jauh ke semak-semak hingga badannya babak belur.

Melihat adegan yang sangat seru ini maka orang Pasemah yang ada disekitar gelanggang terus membantu kawan yang babak belur tadi untuk membunuh Puyang Simpang, tapi semua dapat ditangkisnya. Oleh karena pertempuran ini sudah lama berlangsung maka pasukan orang Pasemah ini sudah banyak pula yang mati akibat tendangan Puyang Simpang ini. Setelah pertarungan ini berlangsung selama 2 hari dua malam maka datanglah orang Pasemah ini sebanyak 1.600 orang yang bermaksud untuk membunuh Puyang Simpang atau dikubur hidup-hidup.

Setelah mereka sampai ke dekat dengan Puyang Simpang, Puyang Simpang melepaskan ucap segaris tanah berarti siap saja yang melewatinya pasti akan mati. Dengan adanya itu maka banyak korban pihak lawan yang mati dan makin banyak saja yang datang ingin membantu membunuh Puyang Simpang. Lawan semakin lama semakin banyak. Dengan terlihatnya orang-orang yang bertambah lama bertambah banyak itu maka Puyang Simpang mendapat suatu petunjuk dari ke-punyangan Selatan, bahwa Puyang Simpang harus melompat ke atas pohon kelapa yang tinggi.

Maka Puyang Simpang langsung membaca ucap seleman terus menghilang, kiranya dia telah melompat ke pohon kelapa dan setelah beliau di atas pohon kelapa, pihak lawan ingin menebangnya. Lalu pohon kelapa itu ditebang dan jatuh bersama Puyang Simpang. Tapi pohon kelapa itu jatuhnya ke air dan setelah jatuh Puyang Simpang langsung menyelam ke dalam air terus berjalan di dalam air mengarah ke hilir, sehingga mereka susah mencari, mereka mencari kesana-kesini, namun tak ketemu juga.

Akhirnya Puyang Simpang selamat dan langsung pulang ke dusun Simpang lagi. Setelah sampai di Dusun Simpang dia bercerita dengan penduduk bahwa dia waktu di rantau sangat menderita sekali dan teruslah diceritakannya sampai habis kisah perjalanannya. Setelah mendengar cerita demikian maka ulubalang berkata, “Kalau begitu kita harus membalas dan kita hancurkan lawan.”

Lalu hulubalang dari Puyang Simpang mufakat mengundang 3 (tiga) puyang beserta para hulubalangnya. Ketika puyang itu setuju dan mereka akan turut serta. Maka pada suatu hari pasukan ke empat Puyang berangkat dibawah komandan Puyang Simpang untuk membalas dendam. Setelah berjalan selama dua hari dua malam maka sampailah di perbatasan daerah lawan, kemudian mereka ini mengirim utusan bahwa ada satu pasukan menunggu di sana ingin mengajak berperang, lalu pasukan lawan langsung datang.

Setelah datang Puyang Simpang berkata, “Kami ingin membalas dendam sebelum daerah kamu ini menjadi daerah kekuasaan kami belum akan berhenti.” Peperangan tak dapat dihindarkan lagi, perang dimulai disebuah bukit yang tinggi. Perang berlangsung dengan dahsyatnya, sama-sama kuat dan sama-sama hebat, sehingga terjadilah pertumpahan darah dan masing-masing pihak banyak yang gugur. Semua pekik tanda kesakitan terdengar disana-sini, orang banyak berjatuhan dari atas bukit, tetapi perang tetap berjalan terus.

Rupanya perlawanan musuh telah mengendor, sebab telah banyak prajurit yang gugur, sehingga pihak lawan patah semangatnya dan akhirnya menyerah kalah. Lalu pertempuran berhenti. Setelah perang selesai puyang-puyang dari Selatan berembuk dengan pihak lawan, Pihak lawan berkata;

“Tuan ingin apa kepada kami ini?”

Lalu Puyang Simpang menjawab “Kami ingin daerah perkebunan sebab kami ini banyak anak cucu untuk tempat tinggal kami sebagai tempat hidup di hari kelak.” Lalu diberikanlah oleh pihak lawan sebagian tanah di daerah peperangan tersebut.

No comments