Cerita Rakyat Bengkulu; Legenda Serekamun dan Mengkudu


ALKISAH, hiduplah seorang bernama Serekamun, ia seorang anak yang telah yatim piatu, ayahnya telah lama meningal dunia, meninggal dalam keadaan yang menyedihkan.

Di hutan lebat Gimbo Nebuak berladanglah ayah Serekamun sungguh sulit berladang di dalam hutan, apa lagi tak ada teman-teman berladang di sana, bila tiada tabah bisa putus asalah yang menang. Binatang buas, binatang pemakam tumbuhan-tumbuhan sering mengganggu ayah Serekamun.

Pada suatu malam seekor binatang buas mengaum mendekati perladangan ayah Serekamun. Ngaumnya kian lama kian mendekat juga dan mencemaskan penghuni ladang itu seluruhnya. Sekarang binatang itu telah tiba di bawah pondok menggoncangkan pondok yang tak kokoh itu. Dalam keadaan yang mencemaskan itu ia hadapi dengan hati yang tenang dan siaga. Ayah Serekamun telah bertekad dari pada menyerah saya pada binatang itu tanpa mengatasinya, pastilah dia dan anak bininya tiada bersisa dicengkeram binatang itu. Karena itu ayah Serekamun berusaha melawan sambil berkata:

“Hai binatang, saya adalah manusia, yang tidak mengganggu engkau, sekarang larilah dari sini.”

Semula mendengar teriakan pertahanan yang diujarkan oleh ayah Serekamun, binatang itu diam sejenak tiada lagi mengaum, tetapi tiba-tiba menggaris tanah di bawah pondok ayah Serekamun, mengamuk dan sampai-sampai kayu dekat pondok itu dipatahkan semuanya. Ayah Serekamun mulai naik pitam dan semua mantera-mantera yang telah dimilikinya tentang penangkis serangan musuh dikeluarkannya. Memang dasar binatang, dia tetap mengganas bahkan berusaha hendak merobohkan rumah dan pondoknya.

Nah, pada waktu inilah ayah Serekamun melompat dari atas pondok dengan membawa pedang terhunus langsung siap berkelahi dengan binatang buas itu. Perkelahian begitu gesit dan seru. Kedua makhluk Tuhan itu tidak satu pun yang mau mengalah. Perkelahian itu berlangsung dua jam sudah. Serekamun yang lagi kecil berteriak-teriak memangil ayahnya. “Ayah……Ayah…….Ayah!” ayahnya menyahuti teriakan anaknya, “Ayahmu masih hidup.”

Sekali lagi ayah Serekamun mengeluarkan mantera yang tangguh dan ampuh, mantera itu berbunyi, “Ini Ucap segaris tanah, saponyo melangkai, tanah yang garis ini itulah yang mati.” Setelah mantera itu dihamburkan kepada binatang itu, serta merta binatang itu melompat, kesempatan bagi ayah Serekamun menghunus pedangnya dan dihujamkannya tepat mengenai perut binatang itu. Tertikamlah sudah perut binatang itu dan perlahan-lahan binatang itu menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Dengan letih dan lelah terhuyung-huyung ayah Serekamun memberitakan kepada isteri dan anaknya yang berada di dalam pondok tentang hal kemenangannya. Hati binatang buas itu diperlihatkan kepada Serekamun membuktikan ayahnya betul-betul jantan dan kesatria. Sang ibu diisyaratkan agar memasak hati binatang itu untuk dimakan. Setelah sang ibu selesai memasak hati binatang buas itu, tibalah saatnya menyantap. Selesai makan hati binatang itu badan terasa panas dan tidak letih, tetapi sayang muka kelihatannya merah. Semenjak itu Ayah Serekamun wataknya berubah. Dia selalu murung, ingin saja hendak mencari binatang buas untuk diajak berkelahi, tak peduli bertemu di siang hari atau di malam hari.

Pada suatu malam terdengar gaung binatang buas dari kejauhan. Gaungnya membakar semangat ayah Serekamun untuk menghancurkan binatang itu. Terlihat samar-samar di malam pekat binatang itu sejenis singa yang bertanduk. Tiba-tiba ayah Serekamun diseruduk oleh binatang aneh itu. Ayah Serekamun tak dapat mengelak lagi sehingga tanduk singa itu mengenai badan ayah Serekamun hingga mengakhiri hayatnya.

Serekamun tak mendengar lagi suara ayahnya dan ingin mengetahui ke mana gerangan ayahnya. Ingin ia jenguk ke sisi hutan kalau-kalau ayahnya berada di sana. Waktu ia berlari-lari ke sana kemari untuk mengetahui ayahnya didapati dada ayahnya sedang diobrak-abrik oleh binatang buas. Tiada jalan lain, Serekamun memohon kepada hadirat Illahi memohon diberi kekuatan membunuh binatang itu, kemudian Serekamun mengucap mentera:

Urat menjadi kawat, Tulang menjadi besi, Badan seperti batu. Serekamun memegang batang kayu yang bertentangan dengan binatang itu. Dicobanya ditekan kuat-kuat seakan-akan hendak merobohkan batang kayu itu supaya dapat menimpa singa tersebut. Rupanya menjadi kenyataan, Singa itu ditimpa pohon kayu yang dirobohkan Serekamun.

Didekatinya singa yang mati itu, tetapi aneh kepala singa itu bukan satu tetapi tujuh. Serekamun menginginkan kepala singa itu. Satu demi satu dipotongnya. Potongan yang pertama seketika berubah menjadi sebuah keris yang indah; potongan yang kedua berubah menjadi bahan obat-obatan; potongan yang ketiga berubah menjadi sehelai baju terbang, dan potongan yang lain menghilang seketika tak menentu. Anggota singa itu menjelma kembali kembali sebagai Patung Singa.

Serekamun pulanglah dengan hati sedih meninggalkan pusara ayahnya, bermaksud untuk menemui ibunya yang lagi di pondok. Setelah sampai di sana apa yang terjadi tak diduga ibunya juga telah tewas diterkam oleh binatang buas. Serekamun menjadi anak yatim piatu, tak beribu dan tak berayah sendirian ditengah hutan belantara. Pada suatu hari Serekamun bermimpi; “Hai Serekamun pulanglah engkau ke Gimbo Nebuak. Raja di sana sedang melaksanakan sayembara, jangan lupa engkau membawa senjata, bawah beras di tengah jalan berasmu habis dimakan tikus. Tikus inilah yang membantumu nanti.”

Esoknya Serekamun terus menuju Gimbo Nebuak untuk membuktikan mimpinya itu. Setelah Serekamun sampai di Dusun Gimbo Nebuak dia menghadap raja untuk menanyakan tentang perlombaan yang akan diadakannya itu.

Sesampainya di rumah raja Serekamun langsung berkata; “Terlebih dahulu maafkan kami Tuan, tujuan kami ke sini memang ada Tuan. Menurut berita dari kawan-kawan bahwa sebentar lagi akan diadakan suatu perlombaan untuk mengambil kain Nangko Purin diseberang lautan di mahligai rumah Raja, siapa yang mendapatkan maka orang itulah yang akan mengawininya.”

Lalu Raja menjawab; “Melihat potonganmu telah tidak mengizinkan, apalagi untuk menyiapkan perabot-perabot permaisuri. Kaya raya kamu belum melengkapi syarat.” Kemudian perlombaan itu menjawab lagi; “Ampun Tuanku kalau memang ada perlombaan itu beta bermohon kepada Tuan supaya Tuan dapat mengizinkan beta-beta bermohon kepada Tuan supaya Tuan dapat mengizinkan beta untuk mengikuti perlombaan tersebut.” Jawab raja; “Boleh saja kalau memang engkau ada kemauan.” Setelah Serekamun mendengar perkataan demikian teruslah Serekamun mendaftarkan diri untuk mengikuti perlombaan itu.

Seminggu kemudian sampailah saatnya untuk mengadakan perlombaan itu. Semua peserta berkumpul di kerajaan untuk mengikuti perlombaan tersebut. Setelah kumpul semua peserta, ternayata Serekamunlah yang tidak begitu melengkapi persyaratan untuk mengikuti pertandingan itu, hingga Serekamun memperoleh ejekan dari kawan-kawannya. Dan Serekamun hampir tak boleh ikut. Sewaktu di tengah jalan sedang berlayar Serekamun melihat bekalnya hampir habis, tetapi dia teringatlah dengan mimpinya tempo hari bahwa bekalnya itu dimakan tikus. Sewaktu sampai di pelabuhan itu raja terus memberi pengumuman yang bunyinya demikian; “Barang siapa yang mendapatkan Kain Nangko Purin di mahligai istana raja, nanti akan diberi hadiah dan orang itulah yang akan menjadi menantu raja.”

Setelah pengumuman ini diberitahukan maka para peserta mulailah menyiapakan diri dan menyiapkan semua alat-alat untuk mengambil kain Nangko Purin itu. Kemudian raja memberi pertanda kepada semua peserta bahwa perlombaan akan dimulai, maka tibalah saatnya perlombaan berjalan. Tapi hanya Serekamun seorang diri yang tidak mengadakan reaksi apa-apa. Raja berkata; “Hai Serekamun mengapa engkau tidak berangkat, apa gunanya engkau ikut berlayar kalau engkau tidak akan mengikuti perlombaan ini.” Serekamun menjawab; “Maaf Tuan Raja saya ada wakil, wakil saya sudah duluan dari pada mereka yang akan ikut perlombaan ini.” Tapi secara tiba-tiba setelah itu Kain Nagko Purin telah dibawa Tikus dan langsung diberikan kepada Serekamun tersebut.

Kemudian setelah lama menunggu orang yang ikut perlombaan itu tadi belum ada yang pulang lagi ke kapal, kiranya mereka ini berperangan satu sama lain, bahkan para peserta sudah banyak yang tewas dan akhirnya mereka berlari semuanya ke kapal lagi karena kain di mahligai itu sudah ketahuan dibawa seekor tikus menuju ke kapal.

Sewaktu mereka ini sampai di kapal terus melapor kepada raja, bahwa kain itu tidak adalagi di mahligai, dia sudah ada di kapal kita ini tapi siapa yang memegangnya tidak tahu. Raja terus berangkat lagi untuk pulang. Kebetulan sewaktu di tengah lautan Nengkudu Mudo melihat kain tersebut dipegang oleh Serekamun. Tiab-tiba Nengkudu Mudo hendak merebut langsung kain itu. Dan mereka berdua ini berkelahi akhirnya Serekamun di dorong oleh Nengkudu Mudo ke dalam laut dan Kain Nangko Purin jatuh ketangan Nengkudu Mudo. Setelah sampai di rumah raja Gimbo Nebuak mengumumkan bahwa yang menang dalam perlombaan ini adalah Nengkudu Mudo dan dia akan dikawinkan dengan anak raja di seberang lautan.

Sebulan setelah itu sampailah hari peresmian pernikahan Putri raja dengan Nengkudu Mudo, tapi sewaktu hari pernikahan berlangsung datanglah seekor burung yang bernama burung Sarkeling bernyanyi bukan main merdunya yang bunyinya demikian.

“Aku ini burung Sarkeling, menggunggung ulat Serekamun. Di bunuh Nengkudu Mudo, sebab lantaran kain Nangko Purin.” Dengan terdengarnya suara yang begitu merdu itu semua orang disitu tidak ada yang berbicara saking konsentrasinya. Berulang kali beliau datang tiba-tiba Nengkudu Mudo tidak bernyawa lagi, tapi burung Sarkeling tadi telah menjelma menjadi “SEREKAMUN,” langsung duduk bersanding pada Putri Raja. Kiranya Nengkudu Mudo ini tadi telah menjadi satu tumbuh-tumbuhan atau kayu bernama KAYU MENGKUDU.

No comments