Cerita Rakyat Bengkulu; Onak Berduri Sungsang


ALKISAH, konon kabarnya dahulu kala ada dua orang hulubalang yang gagah perkasa. Selain perkasa mereka juga cukup sakti. Keduanya saling mempunyai daerah jajahan yang cukup luas. Tak seorang pun yang berani menjejak daerah jajahan mereka. Kedua hulubalang itu satu sama lain saling bermusuhan, karena keduanya ingin memperluas daerah jajahannya. “Serunting Sakti” dan “Rio Tabing” demikian namanya.

Pada suatu hari terjadilah pertengkaran antara kedua pendekar tadi. Adapun yang menjadi pangkal pertengkaran tadi adalah batas daerah jajahannya. Keduanya saling mempertahankan pendapat masing-masing tentang letak batas kekuasaannya. Pertengkaran tak kunjung reda bahkan terus memuncak. Keduanya saling menepuk dada dan tak ada yang mau mengalah serta saling menunjukkan kesaktiannya. Dua raksasa berhadapan, bagaikan bermaian api di pandang lalang. Apa yang akan terjadi.

Pertengkaran memuncak diakhiri dengan adu kekuatan. Dua hulubalang bertemu di medan laga. Keduanya Sakti dan keduanya perkasa. Terjadilah perkelahian dari dua raksasa antara Serunting Sakti dan Rio Tabing yang saling adu kesaktian dan adu kekuatan. Silih berganti mereka maju dan mundur untuk mempertahankan daerah kekuasaannya serta masing-masing mempergunakan kekuatan dan kesaktiannya. Cukup lama peperangan itu berjalan, karenanya saling mendesak ke daerah musuh. Belum ada tanda-tanda salah satu akan menyerah.

Gemuruh suara di medan perang, sungguh dahsyat mengerikan. Bukit-bukit menjadi datar, pohon-pohon besar tumbang karenanya. Sungai-sungai terempang karena bukit yang gugur terkena tendangan mereka. Batu-batu besar kecil berhamburan laksana hujan dari langit karena mereka saling melempari. Tanah datar menjadi lurah karena jejak kakinya. Daerah pertempuran menjadi porak poranda karenanya. Adu kekuatan yang tak ada akhirnya demikian layaknya. Karena keduanya sama-sama sakti, keduanya sama-sama hebat akan kekuatannya dan kemahirannya di medan laga. Semakin lama semakin seru, medan bergegar bagaikan disambar petir. Suaranya gemuruh bagaikan ombak di pantai terjal. Memang keduanya hulubalang yang cukup sakti. Hulubalang yang paling disegani pada zamannya.

Dalam keadaan yang cukup hebat tadi. Rio Tabing mundur sejenak untuk mencari kekuatan. Mundur untuk mempertahankan diri. Mohon kepada dewa untuk menambah kesaktiannya. Dikawal oleh pengiringnya yaitu seekor anjing dan seekor burung hijau. Sambil mundur ia menerima ucap sakti dari dewa, sehingga banyak pohon menjadi tumbang terlanda olehnya. Tanah yang datar menjadi berbukit-bukit akibat jejak larinya. Apa yang dilaluinya menjadi rusak binasa sehingga dari Onak pun menjadi sungsang karenanya.

Rio Tabing membuat batas daerah kekuasaannya sambil berkata, “Jangan seorang pun anak cucu Serunting Sakti melewati batas ini, pasti mereka akan binasa.” Batas daerah Rio Tabing dan Serunting Sakti yang dibuat oleh Rio Tabing inilah yang disebut daerah “Onak Berduri Sungsang.”

Peperangan antara dua raksasa hulubalang tadi belum ada yang kalah atau menang. Keduanya telah sama-sama kalah karena daerahnya sama-sama mengalami kerusakan yang hebat. Kerugian yang diderita sama. Tenaga yang dikeluarkan sama. Kesaktian yang dicobakan sama banyaknya. Satu sama lain belum terkalahkan. Sumber pertengkaran yang membawa adu kekutan sampai mengakibatkan kerugian besar telah nyata, tak lain adalah batas daerah kekuasaan. Batas itulah yang dinamakan “Onak Berduri Sungsang.”

No comments