Cerita Rakyat Bengkulu; Simbar Menjangan


DAHULU kala lahirlah seorang anak perempuan yang cantik sekali. Krikip namanya. Ia anak tertua dari keluarganya. Perangainya baik. Budinya halus dan tegur sapanya sopan, serta penurut pada kata ayah bundanya. Setelah berumur tiga tahun. Lahirlah adiknya. Seorang anak laki-laki. Sejak itu sang putri Krikip dipanggil oleh adiknya dengan panggilan “Wo” yang artinya Kakak.

Malang tak dapat ditolak dan untung tak dapat diraih. Dua tahun kemudian, meninggallah sang ayah tercinta. Puteri Krikip dan adiknya menjadi anak yatim, mereka menangis tersedu-sedu. Ibunya menghibur. Namun tak berhasil. Gundah gulanalah hati sang ibu. Lalu dalam keputusan itu, sang ibu membawa kedua anaknya ke sebuah hutan. Disanalah mereka membuat kebun. Dan akhirnya kedua kakak beradik itupun lama kelamaan terhibur juga. Mereka mulai lincah bermain-main sambil memancing ikan. Pertumbuhan badannya cukup baik dan menggembirakan.

Di suatu pagi yang cerah. Krikip dan adiknya meminta sesuatu yang cukup sulit untuk dikabulkan oleh ibunya. Mereka menginginkan sehelai baju baru. Maklumlah baju mereka sudah sangat lusuh dan penuh tambalan. Karena dimakan waktu. Sang ibu memaklumi keinginan kedua jantung hatinya. Keesokan harinya, pergilah si ibu membawa hasil kebun menuju kota. Hasil kebun itu akan dijualnya untuk membeli baju anak-anaknya. Sebelum berangkat, si ibu berpesan kepada kedua anaknya supaya mereka jangan pergi bermain jauh-jauh sebelum ia kembali dari kota.

Kedua anak itu berjanji untuk menuruti sepanjang pesan ibunya. Karena lama tidak pernah ke desanya, si ibu tersesat di hutan. Berminggu-minggu sang ibu mencari jalan keluar tapi sia-sia dan waktu pun berjalan terus. Si ibu akhirnya jatuh pingsan. Ia diketemukan oleh seorang pengembara. Oleh si pengembara itu, ia antarkan ke sebuah desa lain yang agak jauh dari desanya. Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Si ibu teringatlah ia akan pesan kedua anaknya. Ia meminta agar orang desa itu sudi mengantarkannya ke desanya kembali.

Di desanya ia mengisahkan penderitaannya pada kerabatnya. Atas rasa persaudaraan, si ibu tadi diberi oleh orang desanya dua helai baju untuk kedua anaknya. Dan ia diantarkan ke ke kebunnya. Pagi-pagi sekali si ibu berjalan menuju kebunnya dengan dua orang penunjuk jalan. Ia berharap agar dapat bertemu kembali dengan dua anaknya, berjalan berhati-hati, hati di dalam gundah gulana, berpegang di kayu mati, apadaya badan binasa.

Begitulah gambaran si ibu berjalan di sepanjang jalan itu, tiada senyuman bermain di bibirnya. Sekali-kali kakinya tersandung diakar dan ia pun tertelungkup, di dorong semangatnya. Kedua orang penunjuk jalan itu selalu memapahnya dengan sabar. Akhirnya sampai juga ia ke kebun itu. Kedua anaknya sudah tiada lagi. Tiada bekas yang ditinggalkannya. Tiada harapan bersinar lagi. Ia pun jatuh pingsan.

Kedua penunjuk jalan itu sibuk menolong. Mereka mencari air untuk memberi minum si ibu yang jatuh pingsan itu. Di tengah jalan, mereka menemukan sebuah tumbuh-tumbuhan aneh. Mereka terpesona. Keindahan yang menarik keduanya untuk membawa tumbuhan itu ke desanya. Mereka sibuk pula membongkar tumbuhan itu, sehingga lupa dengan tugasnya semula. Sepeninggalan kedua penunjuk jalan itu si ibu bermimpi. Wajah kedua anaknya muncul bermain di alam bawah sadarnya. Anak-anak itu seolah-olah berteriak; “Ibuuuuuuuuuuuu!”.

“Oh anakku, Maafkan ibu nak. Ibu terlambat sayang”.

“Tidak bu, Ibu tidak terlambat.”

“Pesanmu dulu kini ibu bawa, ini baju baru untukmu.

“Oh terima kasih bu. Sayang sekali kami tak bisa menggunakannya lagi.”

“Terima kasih anakku.”

“Kami tak bisa menggunakannya lagi Bu.”

“Kau menghukum ibumu nak.”

“Tidak. Bu kami terima pemberian ibu, tapi kami tak bisa menggunakannya lagi.”

Si ibu itu sangat sedih sekali. Pemberiannya ditolak dengan berbagai alasan, sedangkan ia sudah bersusah payah mencarinya. Dipandangnya wajah anaknya dan iapun menangislah. Tidak tahan rasa hati puteri Krikip itu melihat ibunya bersedih hati. Ia membujuk ibunya untuk berhenti menangis dan berkata:

“Ibu, janganlah bersedih hati, mari kuterima baju itu.”

“Oh anakku. Percuma kau terima baju itu. Kau tak bisa menggunakannya lagi.”

“Mari bu. Kini kupakai pemberianmu.” Baju itu diterimanya juga. Namun setelah dipakainya, ia baru teringat bahwa baju lamanya belum ditanggalkannya. Ia berusaha membukanya. Tapi tak bisa. Dan celaka lagi. Setiap ada usaha untuk menanggalkannya. Terasa sakit. Seakan-akan baju itu sudah melekat erat didagingnya. Ia pun menyerah. Baju itu tetap dipakainya. Diluar yang baru dan baik. Sedang dibagian dalam bajunya yang lusuh dan kotor. Putri Krikip menghibur dirinya.

“Cantik kah aku sekarang ibu?”

“Cantik anakku.”

“Pantaskah aku memakai baju seperti ini bu?”

“Pantas. Mari kita pulang ke desa anak ku.”

“Tidak bu.”

“Kita tidak bisa hidup terus di hutan ini, nak?”

“Ibu. Aku tidak mau pulang ke desa. Aku hanya butuh kasih sayangmu.”

“Mari anakku. Kita pulang ke desa.”

“Tidak bu, pulanglah ibu. Biarkan kami di sini.”

“Mari anakku, kita pulang.”

“Tidaaaaak.” Puteri Krikip berteriak melengking.

“Jangan kau bawa aku ke desa. Kalau ibu rindu akan daku, bawalah sehelai dari bajuku ini. Itu akan melepaskan rindu ibu.”

Si ibu tersadar dari pingsannya mendengar teriakan nyaring itu. Setelah kembali ke alam sadarnya, ia tak menemui lagi anaknya. Disisinya tegak dua orang penunjuk jalan tadi dengan membawa sebuah tumbuhan hutan yang aneh. Indah dan menakjubkan. Ia teringat akan pesan anaknya. Ia tak ingin dibawa ke desa.

Ia terpesona. Dalam hatinya ia berbisik. Itulah putrinya yang tercinta. Puteri Krikip. Kemudian mereka bertiga tersentak, dikejutkan oleh seekor binatang kecil yang berbentuk kera. Bunga itu direbutnya dari tangan salah seorang penunjuk jalan itu. Bunga itu dibawanya ke atas pohon yang tinggi. Binatang itu melihat ke arah ibu yang nampak sedih. Binatang itu berbunyi.

“Wo…..wo…..wo.” sambil memeluk bunga itu.

Tumbuhan bunga itu dipeluk dan diciumnya terus sambil berteriak, “wo….wo…..wo…..wo.” Ibu itu tersadar dari kagetnya. Dalam hatinya ia berkata “itupun putraku yang tercinta.” Adiknya puteri Krikip yang tidak rela kakaknya dibawa ke desa. Kedua penunjuk jalan itu menyaksikan peristiwa-peristiwa itu dengan sedih tanpa mengetahui latar belakangnya. Mereka mengajak ibu itu pulang ke desa. Pulanglah si ibu tadi dengan membawa seribu duka yang menggelantung di hatinya.

No comments