Pemuda Bengkulu Melek Seni Rupa dengan Hadirnya Tinta Rafflesia

Tinta Rafflesia
Setelah dibentuk pada tanggal 20 Mei 2018 lalu, komunitas menggambar Tinta Rafflesia kembali mengadakan pertemuan antar anggota yang bertempat di Sekolah Alam Mahira. Namun, kali ini lebih spesial sebab komunitas ini kedatangan tamu istimewa; Para master seni yang ada di Bengkulu.

Nah, jika ada diantara pembaca yang masih belum tahu tentang Komunitas Tinta Rafflesia, silakan KLIK DISINI.

Tinta Rafflesia adalah komunitas yang fokus pada seni rupa. Seperti yang kita ketahui bersama, seni rupa adalah cabang dari seni untuk menghasilkan karya dengan ekspresi dan kualitas yang bisa dilihat oleh indera penglihatan dan diraba oleh indera peraba.

Seni rupa lebih menuju pada keindahan visual dan jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, seni rupa adalah fine art. Namun seiring berkembangnya seni modern arti fine art lebih condong ke seni rupa murni dan kemudian menggabungkannya dengan desain dan kriya ke dalam bahasan visual arts.
Tinta Rafflesia
Cabang seni rupa sendiri ada beberapa macam, yaitu: 1. Seni rupa murni (lukis, grafis, patung, instalasi, pertunjukan, keramik, film, koreografi & fotografi), 2. Desain (Arsitektur, grafis, komunikasi visual, interior, busana & produk), 3. Kriya (Kursi rotan sebagai hasil karya kriya, tekstil, kayu, keramik, rotan, Logam, Kulit & Bambu).

Komunitas Tinta Rafflesia fokus pada seni lukis atau menggambar, namun tidak menutup kemungkinan akan merambah ke cabang seni rupa yang lain.

Kemarin tepat pada tanggal 3 Juni 2018, pertemuan komunitas diisi dengan sharing atau berbagi pengalaman dari tiga pakar hebat di bidang seni.
Pak Morry, Bang Dedi, Pak Rommi
Sharing dibuka oleh Bapak Alcala Morry Zamora atau yang lebih akrab disapa Pak Morry. Hal mengejutkan yang baru diketahui dari sharing kemarin adalah bahwa Pak Morry merupakan orang yang mendesain dan mengembangkan motif batik besurek (batik khas Bengkulu) pada tahun 1987.

Beliau menceritakan pengalaman yang berkaitan dengan seni. Hal itu tentulah menjadi motivasi tersendiri bagi anggota komunitas Tinta Rafflesia. Jejak yang diukir oleh Pak Morry sangatlah menginspirasi.

Lalu sharing dilanjutkan oleh Bang Dedi, cerita singkat, jelas dan padat dari Bang Dedi diakhirinya dengan kalimat "Ungkapkan emosi dalam karya dan hidupkan damai dalam seni." tak ayal lagi, kalimat itu disambut riuhnya tepuk tangan.
karya Sonyamon
Kemudian pengalaman dari Pak Rommi Roestam (dari Dinas Pariwisata Bengkulu) tak kalah menarik. Beliau menerangkan, bahwa keinginan untuk berkarya jangan terganggu oleh teoritis. Jangan takut untuk berkarya, jangan memikirkan pendapat orang yang bermaksud menjatuhkan atau tidak mendukung.

"Berkaryalah sesuai dengan apa yang kita sukai." ungkap beliau penuh semangat. Pak Rommi juga menjelaskan bahwa dasar penting sebuah karya adalah ide, sebab kekuatan kreatifitas ada pada sebuah ide.

Anggota komunitas Tinta Rafflesia menyimak dengan fokus. Lalu setelah sesi sharing berakhir giliran anggota komunitas yang berbagi cerita dan bertanya. Antusias mereka pun diakhiri dengan menggambar bersama. Seperti biasa, sepuluh menit kemudian mereka selesai membuat karya yang luar biasa menakjubkan.

Hadirnya Komunitas Tinta Rafflesia diharapkan dapat mendongkrak dunia seni di Bengkulu dan dapat memberi warna baru. Bagi teman-teman yang ada di Bengkulu dan hobi menggambar,  kesempatan untuk bergabung bersama orang-orang hebat di komunitas Tinta Rafflesia akan selalu terbuka lebar.
aku juga mau foto hehe (bersama Pak Rommi dan Pak Morry)

No comments

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia