Jadi Pemimpin Anti Korupsi? Patut Mencontoh Bung Hatta

Moh. Hatta
Kisah dari para tokoh kemerdekaan Indonesia selalu menarik untuk diceritakan kembali. Ada banyak pelajaran penting yang harus diketahui generasi sekarang dari cerita mereka. Tak terkecuali bagi pemimpin negeri ini yang memang sepatutnya meneladani tindakan-tindakan positif dari tokoh kemerdekaan Indonesia.

Satu diantara banyak tokoh kemerdekaan tersebut adalah Mohammad Hatta atau yang juga dikenal dengan sebutan Bung Hatta.

Lelaki berkharisma dengan kacamatanya ini selalu tenang di setiap kesempatan, bahkan sahabat-sahabatnya mengenal Bung Hatta sebagai sosok yang pendiam namun memiliki pemikiran yang tajam.

Saat itu pada tahun 1970, Bung Hatta berkesempatan kembali menjejakkan kaki ke Bumi Cenderawasih. Tepatnya Tanah Merah, Irian Jaya, tempat dia pernah dibuang oleh Belanda.
 
Rupanya, meski saat itu ia sudah menjadi mantan pejabat pemerintah, yang mensponsori perjalanan itu masih memperlakukan Hatta bak pejabat tinggi negara. Setiba Hatta di Irian (sekarang Papua) seseorang menyodorinya amplop tebal berisi uang saku.

Hatta sontak menolaknya. Bagi dia, sudah mendapatkan fasilitas untuk bisa kembali berkunjung ke daerah itu saja sudah lebih dari memadai dan patut disyukuri. "Maaf, Saudara, itu uang rakyat, saya tidak mau terima. Kembalikan!" kata Bung Hatta tegas.

Iding Wangsa Widjaja, yang selama puluhan tahun menjadi sekretaris pribadi Hatta, mengungkapkan peristiwa itu dalam bukunya, 'Mengenang Bung Hatta'.

Pada bagian lain buku terbitan Toko Gunung Agung pada 2002 itu, Wangsa juga menulis bahwa dirinya pernah kena teguran Hatta sebab menggunakan tiga helai kertas dari kantor Sekretariat Wakil Presiden. Ia dipersalahkan karena menggunakan aset negara untuk membalas surat yang bersifat pribadi. Hatta kemudian mengganti kertas tersebut dengan uang pribadinya.

Melansir detik.com, masih terkait soal kertas, Gemala Rabi'ah Hatta, putri keduanya, pun mengaku pernah kena tegur sang ayah. Alkisah, Gemala, yang menjadi pekerja paruh waktu di Konsulat RI di Sydney pada 1975, pernah mengirim surat menggunakan amplop berkop Konsulat Jenderal.

Teguran itu tertuang dalam surat balasan yang diterima Gemala dari sang ayah beberapa waktu kemudian. "Ada yang satu Ayah mau peringatkan kepada Gemala, kalau menulis surat kepada Ayah dan lain-lainnya, janganlah dipakai kertas Konsulat Jenderal RI. Surat-surat Gemala kan surat privat, bukan surat dinas. Jadinya tidak baik dipakai kertas Konsulat."

Dari situ Gemala paham betapa rigidnya Hatta dalam memisahkan mana milik negara dan milik pribadi. "Walaupun sepertinya sepele, hanya selembar amplop," ungkap Gemala.

Mengutip kata-kata bijak dari Bung Hatta: Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar. Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki.

Pernyataan tersebut semoga dapat dicontoh oleh para pemimpin negeri. Semoga ada pemimpin yang berani memerangi imperialisme serta dapat dengan baik memahami amanat penderitaan rakyat.

No comments