Jenderal Soedirman Tak Hanya Gagah, Tapi Juga Romantis dan Penyayang

Jenderal Soedirman dilantik Sukarno menjadi Panglima Besar
Masyarakat Indonesia tentu mengenal pahlawan kemerdekaan satu ini, dengan blangkon khas dan dalam keadaan sakit parah ia tetap memimpin gerilya melawan penjajah. Dalam remake filmnya, Soedirman diperankan oleh Adipati Dolken dengan akting yang memukau. Semasa hidupnya dan dibalik gagaknya Panglima Besar ini nyatanya ia menyimpan kisah romantis bersama istrinya Alfiah.

Sebagaimana dikutip dari Media Indonesia, bahwa kisah cinta yang awalnya tidak direstui keluarga besar Alfiah itu menemui berbagai cobaan di masa perang kemerdekaan. Cinta Soedirman-Alfiah mulai tumbuh sejak sama-sama sekolah di Wiworo Tomo, saat Soedirman menjadi sekretaris himpunan siswa dan Alfiah bendaharanya. Alfiah adalah gadis cantik yang tengah beranjak dewasa. Saat itu, banyak laki-laki yang naksir padanya. Sementara itu, Soedirman juga bukan pemuda sembarangan.

Pria kelahiran 24 Januari 1916 itu sangat disegani di lingkungannya. Dia pandai berpidato, pemain sepak bola dan teater yang andal, serta sangat alim. Bahkan teman-temannya menjuluki dia ‘kaji’ atau haji. "Kebahagiaan membuatmu tetap manis, cobaan membuatmu kuat, kesedihan membuatmu tetap menjadi manusia, kegagalan membuatmu tetap rendah hati." Ungkapan itu telah diwujudkan semasa gerilya.

Saat Soedirman sakit, Alfiah mendukung lahir batin dan merelakan seluruh perhiasan pemberian orangtuanya untuk bekal sang suami di medan gerilya. Panglima Besar Jenderal Soedirman terkenal sebagai sosok yang keras dan teguh memegang pendirian. Namun, Panglima Besar itu juga manusia. Hatinya meleleh di kota terpencil tepi pantai selatan Cilacap.

Kisah cinta keduanya bahkan diabadikan dalam bentuk buku yang berjudul 'Soedirman & Alfiah: Kisah-kisah Romantis Panglima Besar Jenderal Soedirman dan buku tersebut ditulis oleh E. Rokajat Asura oleh Penerbit Imania (2017) dengan tebal halaman mencapai 440 halaman.

"Apa yang bapak bawa?" tanya Alfiah waktu itu. Seperti terteta dalam buku.

"Baju dan bedak, Bu. Soalnya kalau ada serangan udara, semua toko bakal tutup," ujar Soedirman seraya membuka bungkusan. Diserahkannya baju dan berkotak-kotak bedak itu. Alfiah tercengang dibuatnya. Kaget campur senang.

"Buat apa bedak sebanyak itu?"

"Biar bagaimanapun, Ibu harus tetap terlihat cantik," terang Soedirman. "Tapi satu dus saja bisa untuk sebulan lebih, Pak," ujar Alfiah, seraya menyeka sudut matanya. Terharu juga dengan apa yang telah dilakukan suaminya. Dalam keadaan serba sulit, ia masih memperhatikan keperluan sang istri. Selain bedak, Soedirman juga membelikan baju. Dipeluknya baju itu. Tercium wangi baju baru. Untuk beberapa saat, Alfiah hanya bisa terdiam. Kehabisan kata-kata. Ketika Soedirman mengusap pipinya, pertahanan itu jebol. Alfiah tak kuasa untuk tidak menitikan air mata. Soedirman memeluknya.

"Kau senang, Bu?" tanyanya. Alfiah tak menjawab, hanya mengangguk. Tangannya sibuk menyeka air mata.

***

"Juga menganugerahi kita anak-anak. Lalu, kau menghabiskan seluruh waktu untuk mengurus anak-anak dan rumah tangga. Penghargaan apa yang sepantasnya kau terima? Tetapi kalaupun ada, tampaknya aku tak akan sanggup mengabulkannya."

"Aku menghabiskan seluruh waktu untuk anak-anak dan rumah tangga, tetapi bapak menghabiskan seluruh waktu untuk bangsa dan negara. Maka, kalaupun ada penghargaan yang aku terima, aku akan serahkan penghargaan itu kepadamu, Pak. Sebab tugas dan tanggung jawab bapak jauh melampaui kemampuan bapak sendiri. Aku masih bisa istirahat di antara waktu anak-anak istirahat, tetapi bapak hampir tak bisa istirahat di antara waktu para prajurit istirahat," sambung Alfiah.

Itu adalah beberapa percakapan mereka, sosok yang keras, disiplin dan teguh pendirian seperti Soedirman juga memiliki sisi lain dari dirinya. Dia merupakan sosok yang penyayang, romantis dan sangat perhatian pada keluarganya. Dan dia juga mencintai tanah air, hal itu dibuktikan dengan perjuangannya hingga akhir hayat.

2 comments

  1. Ya Allah sosok pejuang bangsa yang tak lekang dia ya.
    Aku bangga padamu dan terima kasih atas perjuangan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, dia benar-benar berjuang untuk bangsa ini. Saat lagi sakit parah pun dia masih memimpin gerilya, memang Jenderal Hebat.

      Delete