Tragisnya Kisah Cinta Pahlawan Revolusi Letnan Pierre Tendean


Siapa yang tidak tahu tentang peristiwa bersejarah Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan G30S?

Saat itu sejumlah pahlawan revolusi tewas mengenaskan, satu diantaranya adalah Pierre Tendean yang saat itu menjadi ajudan Jenderal AH Nasution.

Letnan Pierre Tendean lahir pada 21 Februari 1939 di Batavia. Dari banyak sumber pun sepakat bahwa ketampanan Letnan satu ini selalu mencuri perhatian para gadis kala itu.

Pierre Tendean memang dikenal ganteng. Bahkan di kalangan mahasiswi saat itu ada candaan berupa "Telinga untuk Jenderal Nasution, tapi mata untuk Letnan Tendean."

"Setiap Pierre memimpin parade taruna, sosoknya selalu menarik perhatian," demikian dicatat Pusat Sejarah TNI.

"Banyak yang kesengsem. Dia adalah favorit para mahasiswi yang kuliah di sekitar Panorama," kata Roosdiawati dalam kesaksiannya untuk Buku Kunang-Kunang Kebenaran di Langit Malam. Satu lagi kelebihan Pierre, dia mudah bergaul.

Namun sang adik mengingat tak ada gadis yang dipacari kakaknya saat sekolah di ATEKAD. Pierre kelihatan lebih serius menekuni sekolah militernya daripada jalan-jalan dengan para mahasiswi itu.

Dengan ketampanan yang memikat banyak gadis tersebut, Pierre juga pernah jatuh cinta pada sesosok gadis manis nan lembut. Nama gadis itu adalah Rukmini.

Sosok gadis berambut hitam ikal dan bermata besar itu tak bisa hilang dari benak Letnan Dua Czi Pierre Tendean. Namanya Rukmini, putri sulung keluarga Chaimin di Medan.

Pierre dikenalkan kawan-kawannya pada gadis ini. Ada getaran di hati mereka berdua. Pertemuan pertama kemudian disusul pertemuan lanjutan.

Saat itu Pierre menjadi Komandan Peleton Zeni di Kodam II Sumatera Utara. Baru saja mau menjalin hubungan serius, Pierre dapat tugas baru mengikuti pendidikan intelijen di Bogor. Sebagai tentara profesional, dia harus meninggalkan Medan dan gadis pujaannya.

Baru Rukmini yang benar-benar mencuri hati Letnan Tendean. Apa yang membuat Pierre Tendean jatuh hati dengan gadis ini?

"Letnan Pierre sangat tertarik oleh kehalusan dan kelemahlembutan gadis yang baru dikenalnya itu. Dari hari ke hari pergaulan mereka bertambah akrab."

Bahkan, penugasan Pierre Tendean ke medan tugas di perbatasan Malaysia yang penuh bahaya tak menyurutkan kisah cinta mereka. Hubungan LDR alias jarak jauh ini berjalan terus.

Meski menjalani hubungan jarak jauh, hati Pierre tetap tertambat pada Rukmini.

Kala itu, satu-satunya cara mereka berkomunikasi adalah melalui surat.

Bahkan, menurut cerita, anak sulung Pak Nas sering memergoki Pierre tersenyum simpul ketika membaca surat cinta dari Rukmini.

Saat menjabat sebagai ajudan Jenderal Nasution, Pierre Tendean memantapkan niatnya untuk melamar Rukmini. Dia menulis surat ke keluarganya, minta doa restu untuk menikah.

Berbagai sumber mengatakan bahwa saat mendampingi Nasution bertugas ke Medan tanggal 31 Juli 1965, Letnan Tendean menemui calon mertuanya. Dia melamar Rukmini secara resmi. Hari pernikahan disepakati bulan November tahun yang sama.

Itulah terakhir kalinya Pierre dan Rukmini bertemu.

Ada yang menyebut saat lepas piket tanggal 30 September sore, Pierre sempat melihat-lihat paviliun yang dikontrakkan di sekitar Menteng, Jakarta Pusat. Rencananya paviliun itulah yang akan ditempatinya ketika sudah menikah. Letaknya dicari yang tak terlalu jauh dari kediaman Jenderal AH Nasution. Maklum, tugasnya sebagai ajudan harus selalu melekat dengan atasan.

Namun sayangnya, pernikahan mereka tak pernah terwujud karena Pierre Tendean meninggal dunia pada 1 Oktober 1965 silam karena ganasnya Gerakan 30 September.

Dan menurut kisah, Rukmini sempat mengalami goncangan hebat saat mengetahui calon suaminya mati dibunuh. Butuh waktu bertahun-tahun lamanya bagi Rukmini untuk akhirnya bangkit dan move on serta mengikhlaskan kepergian Letnan Pierre Tendean.

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok hari? Sesuatu yang menimpa dua insan yang saling mencintai tidak ada yang tahu. Bisa jadi takdir menyatukan atau malah memisahkan di pertengahan jalan.

Oleh karena itu, manfaatkan waktu yang ada bersama orang-orang tercinta, baik itu keluarga, sahabat ataupun kekasih halal.

Sementara untuk mengenang Letnan Pierre, kini nama Kapten Pierre Tendean diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Jakarta dan Manado.

No comments