Antara Hujan, Flu dan Cinta


Aku adalah tipe orang yang akan bilang "Aku suka hujan, suasana saat hujan, dan aku suka melihat bumi dan dedaunan basah oleh hujan,"

Ya, bisa dikatakan aku merupakan salah satu orang yang disebut Pluviophile, si pemuja hujan.

Kenapa demikian? Menurutku hujan itu berkah, selain itu hujan juga romantis. Tidak banyak orang yang bisa seperti hujan, selalu datang meski tahu rasanya jatuh berkali-kali.

Hujan keren bukan?

Lalu, datangnya hujan seolah menyiram kenangan yang menumpuk di kepala. Kenangan-kenangan itu pun merekah kembali.

Hujan menghidupkan itu semua, ia juga menghangatkan suasana.

Menatap hujan dari jendela atau beranda rumah dengan segelas teh hangat itu sangat menyenangkan, apalagi dibarengi aktivitas berbalut selimut dengan sebuah buku.

Tetapi jika sedang di luar dan tiba-tiba hujan, aku pasti berteduh. Lantas, ada ungkapan yang mengatakan; kalau kamu suka hujan, kenapa berlindung saat dia datang?

Dan teman, kamu tahu? Kalau tak berlindung aku bisa saja sakit flu dan terkapar tak berdaya.

Coba begini, katakanlah hujan sebagai orang yang kamu suka ~

Aku adalah tipe orang yang dalam diam akan bilang "Aku suka kamu, suasana hatiku saat memperhatikanmu, dan aku suka itu karena dengan begitu hatiku berbunga-bunga,"

Ya, bisa dikatakan aku merupakan seseorang yang telah lama mengagumimu.

Kenapa demikian? Menurutku kamu hebat, selain itu kamu tampak gagah dan manis di waktu bersamaan. Tidak banyak orang yang sepertimu, dengan semua itu kamu juga orang yang baik dan peduli.

Kamu keren, menurutku.

Lalu, ketika berpapasan melihatmu di jalan, kata-kata yang kususun di kepala semuanya berhamburan. Acak, tak bisa kuterjemahkan lagi.

Kamu membuatku ba-bi-bu, ga-gi-gu... aku terdiam kaku.

Kikuk sekali suasana itu, betapa melihatmu amat membuatku senang hingga hatiku melonjak kegirangan sampai ingin keluar dari cangkangnya. Dalam diam selalu kuutarakan perasaan padamu.

Tetapi ketika sedang di luar dan bertemu denganmu, aku malah menghindar. Sebab hatiku bisa berdegup kencang dan wajahku merona, lalu semuanya tak akan stabil lagi.

~ Begitulah, bagaimana kamu bisa menyerupai hujan.

Tidak selamanya sesuatu yang kita sukai akan membuat kita baik-baik saja bukan? Seperti hujan, kamu bisa sakit flu jika tak berlindung ketika ia datang.

Dan seperti kamu, inilah jawabanku.

Suatu hari, kuharap bisa menari di bawah hujan selagi menunggu pelangi.

Sampai berjumpa di langit yang tepat, hujan...

4 comments

  1. Jadi inget lirik lagu jadul: Yang hujan turun lagi....

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahha saya juga pernah dengah, lagu lama itu...

      Delete
  2. akhirnya ketemu sama pluviophile lainnya hehehe, kalau saya malah suka hujan-hujanan ngga peduli bakal sakit nantinya :D. Sensasi dingin air hujan pas nyentuh kulit itu nenangin banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya sama, saya juga suka main hujan tapi udah tuh demam wkwk

      Delete