[Cerbung Part IV] Rafflesia Merekah di Britania Raya


Terlihat seorang wanita memegang pengeras suara dan selembar kertas. Ia mulai membaca puisi dengan penuh penjiwaan. Syair-syair yang dibaca menuntut kepedulian sesama pada saudara di negeri seberang, Palestina.

“Eh, dia bukannya cewek Rafflesia yang waktu itu?” Aan menoleh ke arah Ridho.

“Oh iya, yang bawa rombongan turis itu kan?” kali ini Raffa, dan dua pasang mata pun menatap Ridho dengan seksama.

“Yoi bro, adek tingkatku itu! Aku juga baru sadar dia yang baca puisi,”

“Keren ya tuh anak! Dulu aja kita waktu jadi mahasiswa baru harus di dorong-dorong senior dulu biar mau ikutan aksi. Iya kan Raff?” lagi-lagi Aan menyikut lengan Raffa.

“Iya…” jawab Raffa datar, di masa lalu ia tergolong mahasiswa biasa yang memperjuangkan nilai A. Namun, kemudian ia tahu bahwa tujuan kuliah tak hanya mendapat nilai sempurna.

Mungkin tak sedikit mahasiswa yang salah persepsi, hingga yang mereka perjuangkan hanya IPK. Padahal status mahasiwa menuntut setiap diri untuk dapat tampil di depan khalayak, mampu berkomunikasi dengan baik, tak hanya dalam mengatur emosi namun juga dalam bernegosiasi.

MAHAsiswa itu istimewa, oleh sebab itu mereka dituntut agar serba bisa terutama dalam manajemen waktu belajar dan organisasi.

***

Hal terindah dari sebuah perjuangan adalah penantian yang ada di dalamnya. Menanti dengan penuh sabar dan debar. Menanti acc skripsi bab empat misalnya.

“Bu Sonia bilang teori yang kupakai di bab 2 ada yang gak nyambung sama pembahasan,” keluh Raffa saat duduk di kantin bersama Aan.

“Kau mending teori, lah aku disuruh penelitian sekali lagi. Mana tabunganku menipis, printer juga rusak,” gerutu Aan, di sebelahnya Raffa mengerutkan kening.

Mereka seolah berlomba tentang siapa yang paling menderita.

“Kita ke perpus kampus Ridho aja gimana? Mungkin disana lebih banyak referensi,” usul Raffa.

Baru saja Aan ingin mengetik pesan untuk Ridho ketika sebuah pesan singkat masuk. Oh, ternyata sebuah pesan di grup chat.

“Gokil bro, aku udah disuruh daftar seminar hasil,” beritahu Ridho lewat chat grup mereka bertiga.

Ada keadaan ketika merasa sangat sedih saat teman kita susah, namun sebaliknya, juga ada keadaan ketika kita merasa sedikit iri dengan kebahagiaan teman. Oh, ini sungguh manusiawi. Namun, tak boleh berlebih.

“Gila nih anak, ngerjain skripsi kayak main seluncuran,” wajah suram Aan cukup menggambarkan suasana hatinya.

“Kita gak tahu usaha yang dilakukan orang lain bro, aku rasa Ridho memang pantas untuk itu,” ucap Raffa yang bisa sedikit menenangkan Aan. Di samping bersabar, mereka juga harus belajar lebih banyak lagi.

Beranjak menyusul Ridho di kampusnya, hendak ke perpus dan kali ini serius. Mereka berdua ingin segera merasakan sensasi mengenakan toga.

***

“Selamat Ridho…”

Raffa dan Aan secara bergantian memberi ucapan selamat atas suksesnya seminar hasil Ridho, dua minggu lagi ia akan sidang skripsi dan perlahan usai sudah proses menuju wisuda.

“Cepat nyusul bro…” bisik Ridho pada kedua sahabatnya. Sejenak ia melepas almamater biru gelap yang sebentar lagi tak akan terpakai.

“Kami minggu depan Dho, jangan lupa datang,” ucap Raffa.

“Eh, lihat itu… mereka juga datang Dho!” Aan menunjuk tiga orang yang menuju mereka, teman-teman satu komunitas di luar kampus. Teman debat Bahasa Inggris, Story Telling dan kadang Scrabble.

Menduduki titik akhir sebagai mahasiswa bukan alasan untuk tidak belajar lagi, terlebih lagi Ridho yang sudah mendapat persetujuan untuk melanjutkan kuliah dan menunda perjodohannya.

“Kalau kami berubah haluan Dho, sepertinya bakal kerja dulu sambil mematangkan persiapan untuk lanjut kuliah,” beritahu Raffa. Senyum manis bertengger di wajahnya, ia mengingat Ibu dan Ayah lalu keadaan mengharuskannya untuk membantu keluarga terlebih dulu.

Sama halnya seperti Raffa, Aan juga mengubah haluan. Hidup memang tak terduga, lelaki berperawakan sedang dan periang itu memilih untuk mengembangkan usaha Emak. Aan ingin membangun sebuah café.

“Wah, kenapa gak bilang dari awal?” selidik Ridho, ia yang sekarang menggebu-gebu untuk lanjut kuliah harus mendapati kenyataan akan berjuang tanpa kedua sahabatnya.

“Kami juga akan membuka les privat, jadi kita tetap bisa belajar bareng untuk persiapan,”

“Raffa benar tuh Dho.”

Kegembiraan hari itu sedikit didramatisir oleh percakapan mereka bertiga, masa depan memanglah sebuah kejutan dari Tuhan, namun harus ada usaha yang terselipkan.
Berjuang dan jangan pernah menyerah adalah buktinya.

***

Mengedarkan pandangan diantara orang yang berlalu-lalang, hari itu kebahagiaan benar-benar tertuntaskan. Beban berat pun terlepas, meski nyatanya ke depan akan lebih berat lagi namun untuk hari ini mereka hanya ingin tertawa.

“Jadi begini rasanya pakai toga?” Aan terlihat lebih gagah dari biasanya, rambut disisir rapi dan sepatu mengkilapnya berhasil mencuri perhatian Raffa.

“Empat tahun bro! Selama empat tahun baru kali ini kau pakai sepatu mengkilap,” canda Raffa. Sontak Aan tertawa, memang ia selalu mengenakan sepatu kets di kesehariannya.

“Akhirnya… kalian wisuda juga… selamat!” Ridho baru saja tiba, satu bulan yang lalu ia lebih dulu mengenakan toga.

“Eh Raff… itu kan dia?” Aan menoleh jauh ke seberangnya.

“Adek tingkatmu itu ngapain kesini juga Dho? Bawa buket bunga lagi…”

Bersambung…

No comments

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia