Surat untuk Diriku di Masa Depan (part III)


Hai diriku...
Apa kabarmu saat membaca tulisan ini?

Kuharap kau lebih baik dan lebih hebat dari saat aku menulis ini untukmu. Ah, kuharap kau juga menjadi pribadi yang lebih cantik.

Hari ini tepat 1 Oktober, hari kelahiranmu. Mengenang saat itu, Minggu pagi di 1 Oktober 1995 tangismu memecah dunia.

Sekarang tentu kau sudah sedikit lebih dewasa dengan usia 23. Hei, aku membayangkan ekspresimu ketika membaca ini, kau pasti tersenyum bahagia sekaligus haru.

Kau pasti tengah menengok ke belakang kan? Maksudku, mengenang perjuangan demi perjuangan yang kau lalui hingga mampu bertahan.

Meski tidak kuteriakkan, sejujurnya aku bangga padamu. Kau begitu kuat, ah tak perlulah kujelaskan. Aku tak mau melukis air terjun di wajah cantikmu.

Di usia 23 ini, sebenarnya aku masih berasa seperti baru mampu meretakkan cangkang. Aku merasa belum dewasa sama sekali. Tapi, kata mereka aku sedikit lebih dewasa.

Satu-satunya harapanku di hari ini, walaupun usia bertambah tua kuharap dapat merengkuh impian yang selama ini menari-nari di kepala.

Dan sungguh, aku yakin bahwa ketika kau membaca tulisan ini... kau, diriku... sudah menempati tahap yang kuharapkan tersebut.

Aku berusaha lebih setia pada impianku agar kau dapat menikmatinya sebab kau sungguh amat pantas mendapat dan menggenggam impianmu. Kau pantas untuk itu.

ini potretmu di akhir usia 22, jadilah lebih bersinar dan teruslah menebar kebaikan.
Hei, tetaplah cintai dirimu dengan baik. Cintai orang-orang di sekitarmu terutama keluarga, jaga mereka dengan penuh kasih sayang.

Oh iya, apa saat kau membaca ini kau sudah bertemu belahan jiwamu? Hei, siapa dia? Oh ya ampun, bisa kau beri aku sedikit kisi-kisi? hehe

Tidak, aku bercanda.

Aku tidak serius memikirkan hal itu untuk sekarang, sebab aku tengah fokus memperjuangkan impian. Tapi, sejujurnya aku sedikit penasaran...

Apa belahan jiwamu adalah seorang bintang?

Kuharap begitu, sebab sekarang aku tengah berusaha untuk menjadi satu diantara mereka. Menjadi bintang. Aku sedang berjuang.

Diriku, teruslah berbuat kebaikan dan bantu mereka yang membutuhkan bantuan. Jangan enggan untuk mengulurkan tangan, kau tidak tahu doa-doa sesiapa saja yang dikabulkan Tuhan.

Jadilah pribadi yang lebih manis dengan pancaran kebaikan yang tak pernah terkikis.

Dan, selamat Hari Kesaktian Pancasila...

Wah, kalau mengingat itu aku jadi paham akan jiwa pemberontakmu haha

Eh, bercanda...

Nah, kalau 1 Oktober 1965 dapat dijadikan titik tolak dalam penelusuran sejarah bangsa. Maka kau yang lahir 1 Oktober 1995 juga mampu menciptakan sejarah kan?

Aku menantangmu, dan sepenuh hati kuberharap kau menang.


No comments