Jangan Takut dan Ragu untuk Hijrah

catatan untuk perempuan dari hati terdalam
Hijrah, sederhananya dapat diartikan sebagai perpindahan, meninggalkan atau bahasa kerennya move on. Nah, jika hijrah dari diri yang dulu menjadi pribadi yang lebih baik lagi itu berarti meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk di masa lalu.

Berkenaan dengan hijrahnya seorang perempuan biasanya tampak dari jilbab. Dulu tidak mengenakan jilbab kemudian memutuskan untuk berjilbab. Atau bagi yang sudah berjilbab tapi tidak menutup dada ingin istiqomah mengenakan jilbab syar'i.

Nah, perlu diketahui bahwa jilbab bukan jaminan sesorang perempuan baik seutuhnya ibarat warna putih tanpa noda. Sebab perempuan juga manusia biasa namun dia hanya berproses untuk menjadi lebih baik, kadang memang khilaf tak dapat terelakkan.

Aku sering mendengar keluhan beberapa orang teman "Nanti saja yaa aku hijrah pake jilbabnya, kelakuanku saja belum baik." tidak sedikit loh yang berpendapat begini.

Menurutku tidak seperti itu, karena jilbab hukumnya wajib bagi perempuan baligh. Jadi utamakanlah yang wajib terlebih dulu, sifat akan mengikuti. Sifat buruk akan malu sendiri dengan jilbab yang dikenakan.

Proses hijrahku juga tidak instan, SMA kelas 2 aku baru mengenakan jilbab kemudian menghapus seluruh foto yang tak berjilbab di akun media sosial. Seluruh teman-teman pun kukirimi pesan untuk menghapus fotoku yang belum mengenakan jilbab.

Kemudian, seiring berjalannya waktu aku paham bahwa sebenar-benarnya jilbab adalah yang terulur menutupi dada. Maka aku membiasakan itu. Sekarang kalau pakai jilbab pendek atau mencoba jilbab yang tidak menutup dada, percaya diriku langsung ciut dan merasa sangat tidak nyaman.

Jangan takut untuk hijrah, perlahan saja. Jangan pula ragu karena memikirkan tanggapan teman-temanmu, karena Allah yang Maha Menilai hamba-Nya.

Tentu aku tak memiliki maksud menggurui, karena orang-orang terdekatku pun masih perlu pencerahan terkait hal ini. Dan aku tidak dapat berbicara sembarangan sebab ditakutkan akan menyinggung perasaan.

Berdoa, itu saja yang bisa kulakukan setelah berusaha. Agar mereka mendapat hidayah kemudian istiqomah.

Nah perempuan, hijrah memang tak mudah. Apalagi di lingkungan yang kurang mendukung. Aku pernah di suatu waktu dilihatin dari kaki hingga kepala karena berkaos-kaki, bergamis, dan jilbab lebar. Barangkali itu hanya karena lingkungan yang tak terbiasa melihat perempuan dengan pakaian syar'i.

Pernah juga ditanya "Kamu gak gerah pakai jilbab lebar?" aku tersenyum lalu menjawab, "Sedikit gerah, tapi aku percaya tidak ada apa-apanya dibanding panasnya neraka."

Tantangan untuk hijrah itu memang luar biasa banyak. Tapi, selalulah memohon agar Tuhan meneguhkan di jalan menuju-Nya.

Muslimah perlu serius menanggapi tentang hijrah, karena tidak sedikit hijrahnya modus. Misalnya ketika melihat lelaki yang disukai begitu soleh sehingga memutuskan untuk hijrah, lalu ketika lelaki tersebut menikah dengan perempuan lain, jadi balik lagi ke masa jahiliyah. Jangan sampai seperti itu.

Oleh karenanya, hijrahlah karena Allah. Karena takut pada-Nya. Karena kecintaan pada-Nya dan Rasulullah.

Mari tetap saling mengingatkan dalam kebaikan, dalam kesabaran dan dalam kebenaran. Mari dengan tidak bosan saling mengingatkan kelak perempuan akan menjadi madrasah peradaban. Akan menjadi seorang istri dan seorang ibu, jadi harus tangguh dan mampu meluluh-lantahkan ragu.

Ayo hijrah jangan ditunda, karena kita tidak tahu kapan maut akan menyapa ^_^

No comments

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia