Kau yang Terlalu Sibuk atau Aku yang Tak Ada Kerjaan?


Lama aku berpikir di tengah-tengah dialog hati dengan secangkir teh yang biasa menemani. Ada hal yang kupikirkan dalam-dalam, dan sepertinya kau pasti tahu bahwa ini tentang tanya yang mengambang.

Kau yang terlalu sibuk atau aku yang terlalu banyak waktu senggang?

Sebenarnya aku hanya rindu.

Rindu untuk mendengar suaramu walau dari jauh, rindu membaca canda tawamu meski hanya lewat sebuah pesan singkat.

Kau semakin membuatku ragu dan bertanya-tanya. Dulu aku pernah membaca sebuah kutipan yang bilang "Tidak ada orang yang benar-benar sibuk, ini hanya soal prioritas saja." ah, apa benar begitu? Lalu bagaimana denganmu? Apa aku tak ada lagi dalam daftar prioritasmu?

Aku sedih mendapati dirimu yang berubah, tak lagi sama seperti di awal ketika kau mengumbar rasa di depan mata.

Bagaimana bisa kau mengesampingkan orang yang dicintai? Apa kau tidak merindukanku? Atau...

Disana kau sudah temukan pengganti yang baru?

Kejam sekali dirimu, pergi tidak dengan basa-basi.

"Sayang maaf, aku lagi sibuk kerjaan menumpuk."  begitu bunyi pesanmu.

Ah, apalah aku yang hanya bisa mengganggu. Sebenarnya kenapa? Apa kau ingin membangun istana?

Oh hei, aku hanya butuh perhatianmu.

Egoiskah aku dengan rasa rindu ini?

Kau keterlaluan!

Di dekatku waktu mengendap pelan-pelan, seolah dia takut menjadi pelampiasan. Begini saja, biar kulepas dirimu dan tak akan kuganggu.

Pasti mau mu begitu.

Dalam daftar prioritasmu, entah aku di nomor berapa. Enggan kubertanya, lebih baik tidak daripada harus mendengar jawaban yang membuat hatiku retak.

Lalu biarlah penantianku yang kalah telak dan aku menyerah sampai disini, sebelum aku berharap lebih jauh lagi.

Kumaafkan jika ini yang pertama, tapi nyatanya kau selalu begitu, sebab berkali-kali kau bilang "Nanti..." harusnya kau paham aku bukanlah Sasuke dan kau bukan Itachi.

there will be no next time
Selamat tenggelam dalam sibukmu, aku pun nyaris lelah merindu. Dan sekarang harus kubunuh. Jika tiba-tiba aku menyapamu (lagi), cukup abaikan saja aku seperti biasa.

Ini kesalku yang ke sekian, sebab tak sekalipun kau paham. Ada orang yang hanya menghubungi di waktu luang, tapi ada juga yang meluangkan waktu untuk menghubungi. Dua hal yang berbeda dan jelaslah kau bukan jenis yang kedua.

Entah kali ini aku egois atau kau yang kurang perhatian, tapi aku memilih untuk angkat tangan.

No comments

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia