Menyeduh Rindu di Universitas Bengkulu


Universitas Bengkulu (UNIB), 3 tahun 10 bulan aku menimba ilmu di tempat ini. Sangat bersejarah, tentu. Sangat spesial, apalagi. Terlalu banyak kenangan di setiap sudut kampus hijau ini.

Menjadi mahasiswa itu menyebalkan ketika mengingat tugas yang menumpuk sedemikian rupa, tapi mau kuliah terus-menerus jika ingat kebersamaan dengan teman-teman.

Pertengahan 2017 lalu aku secara resmi keluar dari sana. Memang sudah waktunya keluar sebelum expired *hahaa. Dan kemarin, Senin (14/1/2019) aku dan seorang teman berkunjung lagi ke UNIB.

Wah, sudah banyak yang berubah. Aku sampai terkagum-kagum, terlintas bangga jadi alumni UNIB. Dulu dari pojok GB III hingga ke Masjid Darul Ulum kami sering jalan-jalan, tidak lengkap rasanya jadi mahasiswa disana kalau tidak menyusuri setiap inci pekarangan UNIB dengan berjalan kaki.

Biasanya kemana-mana selalu bertiga (Aku, Tini, dan Hesti), kami dikenal sebagai The Runners *tahu lah yaa kayak geng gitu wkwk. Persahabatan kami berawal dari Ospek hingga detik ini dan semoga sehidup sesurga, dan kemarin aku pergi ke UNIB bersama Tini tanpa Hesti sebab manusia satu itu tengah berada di Kampung Halaman, Palembang.

Sebenarnya tidak ada alasanku untuk kembali kesana. Kemarin datang sebab Tini ingin mengurus sesuatu dan kurasa aku juga mau mengintip sedikit jejak-jejak yang pernah kutinggalkan dulu.

Sesampainya, "Ah... bau apa ini? Menyeruak memenuhi rongga dada," pikirku. Bercanda, sebenarnya itu adalah bau-bau rindu yang mulai tumbuh.

Rindu pada celoteh kami bertiga disana, rindu pada gelak tawa di setiap sudut kampus, rindu pada waktu ketika tengah sibuk mengikuti agenda organisasi *fyi nih yaa, dulu kami bertiga semangat ikut organisasinya sampe ke ubun-ubun hahaa. Dan kemarin, yang kutemukan disana adalah rindu. Ya, rindu pada semua deretan cerita yang tersusun rapi dalam kepala.

Dan benarlah, bahwa rindu dapat mengajari kita agar lebih menghargai waktu.

Universitas Bengkulu amatlah spesial, sekarang banyak gedung baru yang berdiri kokoh dan megah, rasanya aku ingin lagi kuliah. Ah, tapi tidak jadi. Aku lebih memilih traveling kalau memang harus memilih.

"Kenapa senyam-senyum Va?" tanya Tini kemarin saat kami berhenti di depan Gedung Olahraga.

"Ngga, cuma ingat masa lalu." kataku dengan ingatan yang sudah melayang-layang.

foto terbaru aku dan tini pake kamera jahat, sebenarnya wajah kami tidak seperti itu, lebih ketjeh malah wkwk
Rindu, tau ngga sih!

Bukan rindu mantan yaa *hahaa. Aku tidak punya sesuatu yang namanya mantan, entah itu mantan teman, mantan dosen, dan lain-lain. Tidak ada. Mereka semua masih teman-temanku, masih dosen-dosenku dan akan selalu begitu.

Apalagi mantan pacar, aku bahkan tidak tahu makanan jenis apa itu. Percayalah mantan pacar itu tidak berguna, makanya aku lebih memilih tidak punya. Sebab menjadi yang pertama dan terakhir itu sangatlah keren. Dan seseorang di luar sana yang bahkan inisial namanya saja aku tak tahu patut kelak kujadikan orang keren. Dia berhak karena aku yakin dia pun akan menempatkanku seperti aku yang menyiapkan tempat terkeren untuknya.

Dulu, di Universitas Bengkulu kami menyusun mimpi tinggi-tinggi. Percayalah bahkan semasa kuliah kami masih sangat kekanakan, sekarang saja jika digabungkan bisa menjadi lebih kekanakan. Sayangnya jarak seolah menaruh iri hingga dia pisahkan kami.

Berdiri sendiri di jalan panjang menuju mimpi itu sangatlah sulit, kawan. Berat dan terkadang merasa tak mampu. Namun dari jauh kami saling menguatkan, bahwa sesungguhnya ada Allah Yang Maha Penolong.

Benar kata Tini, bahwa berada di jalan ini adalah skenario-Nya. Tuhan tengah menyiapkan sesuatu yang spesial untuk hamba-Nya. Sebagai manusia yang berlumuran dosa, kita hanya perlu berusaha yang terbaik dan biarkan Tuhan yang menentukan hasil akhirnya.

Lalu catatan rindu, tidak akan berhenti sampai disini...

4 comments

  1. Sebuah Artikel dan blog yang menceritakan suatu kerinduan,, dulu sempat dijadikan suatu Meme yang katanya Rindu itu berat, berat bagi yang menjalankan.saya mencoba membaca dan memahami arti kerinduannya, dan timbul suatu pertanyaan untuk sang perindu😀. Apakah Rindu dan masa lalu itu bertolak belakang???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehee, rindu itu memang berat sebenarnya.
      Rindu dan masa lalu itu tidak bertolak belakang menurutku, justru dia beriringan sebab kerap kali rindu dikaitkan dengan masa lalu hingga timbullah ungkapan "Andai aku dapat memutar waktu..."

      Delete
  2. oke.. terima kasih eva sudah menjawab nyaa,, sebuah cerita inspirasiku untuk buat status di media sosial😅 yang isinya "Rindu Mengajarkan Arti agar menghargai waktu dan Catatan Rindu Tidak akan pernah berhenti sampai disini" ehheh
    teruslah berkarya eva dgn tulisan2 serta rangkaiyan kata-kata dan ide-ide yang menarik yang bisa membuat mata melek membacanya🙄. hmmm sepertinya `Andai aku dapat memutar waktu...` sebentar lagi akan Launching niiiii‥。

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehee... terima kasih... jangan jadi perindu yang kaku yaa, berekspresilah walau hanya dengan kata-kata wkwk...

      Delete