Dunia Berduka dan Mengecam Penembakan di Selandia Baru

Sunflowords.com - Para pemimpin politik dari seluruh dunia telah menyatakan kecaman mereka atas penembakan di Selandia Baru pada hari Jumat, yang menewaskan 49 orang, dan melukai setidaknya 20 orang.

Dua masjid di Kota Christchurch menjadi target serangan ketika tempat ibadah tersebut tengah menggelar salat Jumat.

Dikutip Liputan6 dari Al Jazeera pada Jumat (15/3/2019), polisi mengatakan tiga pria dan seorang wanita ditahan sehubungan dengan insiden penembakan di Selandia Baru itu.

Waktu penembakan dan unggahan media sosial, tentang apa yang tampak sebagai siaran langsung Facebook Live terkait penyerangan oleh seorang pria bersenjata, menambah kesedihan banyak orang.

Berikut adalah reaksi para pemimpin politik di seluruh dunia, segera setelah insiden penembakan di Selandia Baru.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern menyebut peristiwa tersebut menjadi hari terburuk dalam sejarah Negeri Kiwi yang tidak pernah diduga sebelumnya. Apalagi, Christchurch yang merupakan kota terpadat ketiga setelah Auckland dan Wellington dikenal sebagai kota paling damai di sana.

Berdasarkan laman www.christchurchnz.com, diketahui kota berpenduduk 404.500 orang itu berdiri pada 31 Juli 1856 dan membuatnya menjadi kota tertua di Selandia Baru. Banyak bangunan berdesain Gotik dibangun dan masih bertahan sampai saat ini.

Sejarah kota tersebut tak terpisahkan dari pendaratan orang-orang Eropa di Canterbury, kota tetangga Christchurch, pada 1815, atau 45 tahun setelah Kapten James Cook menemukan Selandia Baru yang disebutnya sebagai Banks Island.

Sejak itu, makin banyak orang Eropa, khususnya dari Skotlandia, Irlandia, Welsh, dan Inggris, yang menetap di sana. Mereka bahkan mengoperasikan kapal penangkap ikan paus yang dikoordinir oleh Lyttelton pada 1850.

Kemudian, perjanjian Canterbury ditandatangani. Perjanjian itu mengatur skema imigrasi yang dikendalikan sejumlah perusahaan swasta di Selandia Baru.

Namun, Kota Christchurch sebenarnya dirintis oleh suku Maori. Mereka jauh lebih dulu menjadikan kawasan itu sebagai rumah pada awal 1700an. Namun, warisan budaya mereka nyaris tak bersisa setelah bangsa Eropa menduduki wilayah tersebut.

Tak ingin terus berlanjut, pemerintah kota kembali memasukkan budaya suku Maori ke setiap sudut kota. Utamanya setelah gempa menghancurkan wilayah itu pada 2010 dan 2011 lalu.

Budaya, nilai-nilai, dan desain yang terinspirasi dari Suku Maori kini kembali dirajut dalam proses pembangunan kembali Christchurch. Salah satunya fasad ka¯kahu dari aluminium sepanjang 36 meter di Layanan Polisi Darurat dan Keadilan Christchurh.

Tak hanya dikenal sebagai kota tertua, tempat ini juga dikenal sebagai salah satu dari lima pintu masuk menuju Antartika. Christchurch bahkan menjadi pintu masuk eksplorasi perdana di Antartika yang dipimpin oleh Robert Falcon Scott dan Ernest Shackleton pada 1900an.

Keduanya menggunakan pelabuhan di Lyttelton sebagai titik keberangkatan ekspedisi. jejak mereka mempersiapkan diri sebelum eksplorasi Antartika masih terlihat di Lyttleton dan Akaroa.

Selain Christchurch, empat pintu lainnya adalah Cape Town (Afrika Selatan), Hobart (Australia), Punta Arenas (Cile), dan Ushuaia (Argentina). Tetapi, Christchurch lah yang menjadi tempat awal mula US Operation Deep Freeze pada 1950an.

Kini, lima negara berbasis di Christchurch menggelar operasi berkaitan dengan Antartika. Tak hanya menjadi pelabuhan untuk mengisi persediaan dan saluran penelitian, tetapi juga tempat bersandarnya kapal wisata Heritage Expedition.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI, melalui informasi yang dihimpun oleh KBRI Wellington, menyatakan bahwa untuk sementara, ada 8 WNI yang terdampak kasus penembakan di masjid Selandia Baru, tepatnya di Christchurch pada Jumat 15 Maret 2019. Laporan itu memperbarui kabar mengenai jumlah WNI yang terdampak, yang sebelumnya disebut hanya berjumlah enam orang.

Dari total delapan, enam WNI terdampak di Masjid Al Noor, namun satu di antaranya hingga saat ini masih hilang kontak dengan pihak kedutaan. Sementara dua lainnya terdampak di Masjid Linwood (Linwood Islamic Centre), diketahui terluka namun tengah mendapat perawatan medis. Kedua TKP berada di area kota Christchurch.

"Dari 6 (enam) WNI yang diketahui berada di Masjid Al Noor pada saat kejadian penembakan hari ini, 5 (lima) orang telah melaporkan ke KBRI Wellington dalam keadaan sehat dan selamat," jelas KBRI Wellington dalam pernyataan dilansir Liputan6.com, Jumat (15/3/2019).

"Sementara 1 (satu) orang atas nama Muhammad Abdul Hamid masih belum diketahui keberadaannya," lanjut pernyataan itu.

Sementara dari Masjid Linwood, KBRI Wellington menerima kabar bahwa terdapat 2 (dua) WNI (seorang ayah dan anaknya) yang tertembak.

"Kondisi sang ayah atas nama Zulfirman Syah masih kritis dan dirawat di ICU RS Christchurch Public Hospital. Sementara anaknya dalam keadaan yang lebih stabil," lanjut KBRI.

Staf KBRI, Adek Triana Yudhaswari mengatakan pada Jumat sore WIB bahwa data itu masih bersifat sementara.

"Semoga tidak bertambah," jelas Adek melalui pesan singkat.

Ia juga menjelaskan bahwa hari ini pihak kedutaan belum bisa menjangkau Christchurch karena otoritas menutup bandara setempat pasca-kejadian penembakan di masjid Selandia Baru.

"Bandara di Christchurch setelah kejadian (penembakan) ditutup. Besok pak Dubes (RI untuk Selandia Baru, Tantowi Yahya) dan staf akan kesana," jelasnya.

Setidaknya 49 orang tewas dan puluhan lainnya terluka dalam insiden penembakan masjid di Selandia Baru, tepatnya di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood, yang disebut oleh Perdana Menteri Jacinda Ardern sebagai salah insiden terkelam dalam sejarah Negeri Kiwi.

Salah satu pelaku, yang bernama Brenton Tarrant diketahui berpemahaman "eksremis sayap kanan" namun tidak masuk dalam daftar teroris pemerintah Selandia Baru.

No comments

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia