Hadapi Tantangan 2020, Politik di Indonesia Harus Kondusif

SunfloWords.com - Pada tahun 2019 ini, Indonesia telah melewati proses pemilihan umum yang terdiri dari pemilihan presiden dan pemilihan legislatif. Saat ini hasil dari perhelatan tersebut telah hampir rampung.

Sengketa pemilihan presiden di Mahkamah Konstitusi telah memutuskan menolak gugatan Prabowo-Sandi sehingga secara otomatis Jokowi-Ma'ruf Amin menjadi presiden dan wakil presiden yang sah dalam perhelatan lima tahun tersebut.

Anggota Komite I DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief mengungkapkan, tantangan yang akan dihadapi Indonesia pada tahun 2020 mendatang cukup berat. Menurutnya, dibutuhkan kondusifitas politik agar salah satu negera dengan penduduk terbesar di dunia ini bisa melewati tantangan tersebut.

"Karena sudah selesai, tidak perlu rusuh lagi. Kalau memang ada yang kurang pas, utamakan dialog. Bicarakan baik-baik. Saya nggak setuju dengan demonstrasi yang merusak, sebab bisa merusak stabilitas keamanan dan ketertiban umum," kata Riri Damayanti, Selasa (9/7/2019).

Anggota Kaukus Perempuan Parlemen RI ini menekankan, bangsa Indonesia harus fokus untuk menyikapi tantangan riil tahun mendatang.

Salah satu tantangan berat yang terbentang saat ini adalah perang dagang Amerika Serikat dengan Republik Rakyat Tiongkok yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi global.

"Jangan sampai karena sisa-sisa kegaduhan pemilihan umum kita gagal mengantisipasi persoalan-persoalan yang akan dihadapi ke depan. Saya kira ini bukan hanya tugas pemerintah, tapi tugas kita semua," ungkap Riri Damayanti.

Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini mengimbau kepada segenap komponen masyarakat dan anak bangsa bersatu pada menghadapi ancaman ketidakpastian global yang dapat membawa kemungkinan terburuk bagi seluruh negara di dunia.

"Saya minta menteri-menteri nggak kendor dalam bekerja. Tentunya semua berharap kabinet baru ke depan hasil pemilihan umum 2019 merupakan orang-orang hebat yang bisa membawa tantangan ini menjadi peluang yang akan menguntungkan bagi NKRI," demikian Riri Damayanti.

Untuk diketahui, pemilihan umum 2019 telah mendorong lahirnya fanatisme terhadap tokoh-tokoh politik. Potensi perpecahan nasional bahkan mengental dengan munculnya istilah cebong versus kampret.

Kampanye hitam, hoaks, ujaran kebencian terus diproduksi oleh pasukan cyber atau tentara di era digital sehingga menyulut kedengkian antar sesama anak bangsa.

Sementara gagasan untuk membangun bangsa dan negara sebagaimana yang tampak dalam pemilihan umum 2014 seperti Trisakti versus Pasal 33 UUD 1945 tak lagi begitu menggema.

Sebaliknya, tuduhan PKI, sentimen ras, politisasi agama dan sebagainya mengikis sikap kebersamaan dan kebhinekaan. [**]

No comments