World Day for International Justice, Selamatkan Millenial Masa Depan

SunfloWords.com - Hari ini, Rabu (17/7/2019), masyarakat dunia memperingati Hari Keadilan atau World Day for International Justice. Tanggal peringatan ini ditetapkan setelah sejumlah negara sepakat membentuk Mahkamah Pidana Internasional yang tertuang dalam Statuta Roma tahun 1998.

Statuta tersebut berfokus pada peradilan kejahatan kemanusiaan, genosida, kejahatan perang, dan kejahatan agresi dengan menggunakan Mahkamah Pidana Internasional.

Anggota Komite I DPD RI Hj Riri Damayanti John Latief mengungkapkan, kekerasan terhadap perempuan dan anak, kejahatan perang, agresi, pembunuhan massal adalah masalah-masalah yang tidak diinginkan oleh bangsa manapun untuk terjadi di negaranya.

"Saya memahami keinginan aktivis-aktivis kemanusiaan yang meminta agar Indonesia segera mendukung dan meratifikasi Statuta Roma. Komitmen memberantas kejahatan-kejahatan terhadap perempuan, anak, ras tertentu dan lain-lain itu kunci untuk menyelamatkan millenial masa depan," kata Riri Damayanti kepada wartawan, Rabu (17/7/2019).

Kakak Pembina Duta Generasi Berencana BKKBN Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, kejahatan yang dilakukan oleh generasi saat ini berdampak buruk bagi generasi mendatang.

"Kejahatan yang kita semua alami saat ini merupakan akibat dari kejahatan yang dilakukan di masa lalu. Kita semua pasti ingin mewariskan kebaikan untuk generasi masa depan. Hari Keadilan Internasional ini saya kira pas dijadikan sebagai momen untuk menyuarakan komitmen Indonesia untuk menegakkan keadilan," ujar Riri Damayanti.

Anggota Kaukus Perempuan Parlemen RI ini menambahkan, saat ini telah lahir bencana yang diakibatkan oleh aktifitas perusahaan-perusahaan tambang dan perkebunan seperti banjir.

"Artinya apa, pembangunan saat ini harus dievaluasi lagi agar ramah lingkungan dan tidak melahirkan kejahatan. Kemudian hasil pembangunan itu harus bisa dinikmati oleh semua, harus adil. Keadilan ini kan juga amanah Pancasila," demikian Riri Damayanti.

Untuk diketahui, Statuta Roma membagi kejahatan internasional ke dalam empat kategori inti, yakni pertama genosida atau pembunuhan massal.

Kedua, kejahatan kemanusiaan atau kejahatan yang menargetkan kelompok masyarakat tertentu, seperti perbudakan orang-orang berkulit hitam, dan kejahatan berbasis gender.

Ketiga, kejahatan perang atau pelanggaran hukum perang seperti membunuh warga sipil dan menyiksa sandera.

Keempat, kejahatan agresi atau penjajahan, mobilisasi kekuatan militer tanpa alasan.

Terdapat 120 negara yang menandatangani dukungan untuk Statuta Roma. Namun yang berkomitmen secara legal untuk tunduk pada traktat tersebut atau meratifikasinya baru 60 negara.

Dalam Statuta Roma, Mahkamah Pidana Internasional hanya dapat melakukan investigasi, dan proses peradilan terhadap negara yang secara legal meratifikasi Statuta Roma.

Kemudian, proses investigasi dan peradilan hanya dapat dilakukan oleh Mahkamah Pidana Internasional apabila negara terkait tidak dapat, atau tidak mau melakukan proses investigasi dan peradilan. [**]

No comments