Perjalanan Melupakanmu Tidak Mudah, Tapi Aku Harus Bisa! It's Time to Move On


"Seolah mudah sekali bagimu untuk pergi," kataku padamu waktu itu.

"Seperti sudah kamu rencanakan jauh-jauh hari." tambahku.

"Hei, itu adalah keputusan tersulit bagiku," sepasang mata indah yang dulu pernah menatapku penuh cinta kemudian berubah memerah, seperti menahan tangis dan ingin tampak kuat di hadapanku, tapi keputusanmu untuk pergi tetap saja menyakiti.

"Percaya sama aku!" saat itu, kamu menatapku lagi dengan tatapan yang berbeda.

"Ini adalah keputusan terbaik yang aku pikirkan. Untuk kamu dan untuk aku."
Baca tulisan terkait:
Kecewa! Tapi Setelah Melihatmu Bahagia, Aku Mulai Baik-baik Saja
Rasanya cukup melukai bukan? Ketika sadar bahwa tak mudah untuk melepaskan seseorang. Bahkan sampai kapanpun, rasanya aku tak akan berhenti untuk peduli.

Untuk waktu yang cukup lama, aku terjebak dalam lingkaran suram. Sebentuk kenangan dan senyuman. Lagi, aku terjebak padamu. Pada semua hal tentangmu di masa lalu.

Aku rindu denting gitarmu, caramu tersenyum dan menyibakkan rambut, aku benar-benar rindu. Lalu bagaimana denganmu?

Kamu jauh, amat jauh hingga teriakku saja tak akan mampu menggapaimu.

Kamu memutuskan pergi demi mimpi, yang sedari awal kita bangun bersama. Lantas, kenapa kamu berhenti melibatkanku?

Ada banyak hal yang ingin kutanyakan, masih ada banyak hal yang ingin kukatakan. Sebab di hari itu, aku lebih banyak diam, hanya berdiri kaku melihatmu yang perlahan menjauh.

Hari itu, aku melihat punggungmu lagi dari belakang. Jika dulu kerap kulihat setelah kita selesai jalan, kali ini kulihat lagi namun esoknya kita tak akan bertemu, sebab inilah yang kusebut perpisahan.

Berat.

Berat sekali melepaskanmu di tengah kita yang baik-baik saja pada mulanya. Dunia di kepalaku rasanya lebur seketika.

Dan semua hal tentang kamu berubah semu.

Hari-hari tanpamu adalah hari terberatku, sulit untuk terbiasa tanpa mendengar suaramu, tanpa ucapan selamat pagi, dan tanpa jalan-jalan di akhir pekan.

Ada waktu dimana aku ingin benar-benar tahu tentang keadaanmu, dalam sehari entah berapa kali kulihat media sosialmu, tak ada apa-apa, tak ada perkembangan apapun bahkan setelah bertahun sejak hari perpisahan itu.

Hingga suatu ketika, di hari yang cerah dan aku masih saja belum bisa melupa, kulihat kamu mengunggah foto terbaru bersama teman-temanmu.

Dan kamu tampak bahagia. Mengenakan kaos putih dan celana krem selutut dilengkapi dengan fedora putih list hitam, kamupun tertawa.

Potret itu membuatku cemburu.

Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat. Aku kemudian gelisah. Pasti kamu tak dapat membayangkan remuknya perasaanku saat melihat potret terbarumu.

Aku malu untuk berujar masih cinta pada orang yang meninggalkanku tanpa ragu. Walau sebenarnya aku memang masih mencintaimu.

Sulit.

Sangat sulit untuk melupakanmu, tapi jika kamu bisa sebahagia itu tanpa aku, lantas kenapa aku tak bisa lebih bahagia tanpa kamu?

Aku merutuk diri. Memikirkan dalam-dalam tentang banyak hal.

Sampai pada sebuah keputusan, aku benar-benar ingin melupakan.

Setidaknya aku mulai baik-baik saja, luka pasti ada sembuhnya. Dan aku tidak ingin merawat kecewa, kulepas namamu di pelupuk senja, sebagaimana dulu ketika aku menerima cinta yang pernah kamu suguhkan dengan cara yang indah.

Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai diriku sendiri. Kamu mungkin memiliki alasan yang tak bisa diungkapkan perihal kepergianmu saat itu, sekarang aku bisa berdamai dengan alasanmu.

Aku mencintaimu, tapi jika cinta itu membuatku melukai diri sendiri maka akulah yang salah dalam hal ini.

Kita sudah benar-benar menjalani pilihan di persimpangan yang meretakkan. Namun, baik itu aku ataupun kamu masih memiliki masa depan.

Terutama aku yang dulu sempat merasa kehilangan harapan ketika kamu memutuskan pergi. Tapi kali ini, saat ini, aku bisa melupakanmu.

Dan kusisihkan satu sudut kecil di hati untuk menyimpan segala hal tentangmu. Sayangnya, sebelum benar-benar bisa kututup rapat, aku menerima sebuah pesan.

"Aku yakin, kita sedang menuju ujung jalan yang sama."

Di tengah aku yang mulai baik-baik saja, pesan darimu datang dengan tiba-tiba. Lalu aku harus apa? Akhirnya kuabaikan, sebab jika menurutmu begitu, mari bertemu lagi tapi nanti.

Dan,

aku juga tidak janji :)

Sekarang aku sadar, bahwa terkadang untuk sampai ke tempat yang harus dituju, aku harus melepaskan apa atau siapa yang dulu kukenal. Bahkan ketika itu sangat tidak memungkinkan.

Aku yakin, hal-hal hebat akan terjadi ketika aku menemukan keberanian untuk maju dan cukup berani untuk melangkah ke jalan baru yang menuntun pada kebahagiaan.

Move On memang tidak mudah, mengakui kenyataan bahwa aku terjebak di dalam kenangan adalah keadaan yang sulit. Melepaskan apa yang dulu pernah dimiliki tidak mudah sama sekali, tapi bukan berarti tak bisa.

Aku harus bisa. Sudah saatnya bisa.

It's Time to Move On


1 comment

  1. Aku ikut melow baca ini, duh apakah dy sempat membaca coretah harimu di sini mba?
    Bgmna pun dy tlh membtw keptsan, mengingatkanku pda masa lalu, namun aq salut pda dirimu mba, km gak pnh letih ntuk mencintai dri sendiri krna it adlh kunci melepaskan kenangan

    ReplyDelete