[Cerbung Part II] Perempuan dalam Kenangan


Vino mengajakku bergerak di saat-saat seperti ini. Ah! Kalau yang kau tawarkan adalah lari dari kenyataan, mungkin aku mau.

“Wah, lu bro... gak liat aku pakai sarung gini?” elakku.

“Yak elah, kan gampang tinggal ganti celana olahraga.” cengiran Vino amat memaksaku. Mau bagaimana lagi? Aku lalu kembali ke kamar dan mengenakan pakaian olahraga.

Di akhir pekan paling enak bermalas-malasan atau diam seharian. Tetapi Vino sangat lincah, ia suka olahraga dan hobi sekali mencari kesibukan. Ia biasa menerima pekerjaan sebagai juru foto, tapi hari ini ia kosongkan jadwal karena siang nanti akan ada temu alumni.

Aku? Oh iya aku lupa memberitahumu teman. Pasca lulus S1, aku dan Vino belum mendapat pekerjaan tetap. Tapi sekarang Vino sudah mantap dengan karir fotografer, dan aku mengembangkan hobi desain grafis; mengerjakan pesanan orang, entah itu membuat desain poster, banner, web, majalah, kaos, iklan dan sebagainya. Aku menyukai pekerjaan itu, dan sama seperti Vino, hari ini juga mengosongkan jadwal.

Lari pagi memang bagus untuk pernapasan, kami sudah mengelilingi kompleks dan sekarang berdiri di lapangan futsal. Lapangan yang tidak terlalu besar, rumputnya hijau dan pagi hari begini sedikit basah karena embun.

“Aku lelah...” ujarku lalu merebahkan tubuh di lapangan.

“Basah bro...” larang Vino. Tapi aku tak peduli, kualihkan pandanganku menatap maha luasnya langit. Aku membayangkan senyuman merekah di atas sana.

Sejenak, ingatanku melayang jauh. Serasa menggenggam poros waktu, aku kembali ke masa itu.


***

“Vin.. cepat Vin! Kita udah telat banget ini. Pasti pak satpam gak nyuruh masuk.” aku dan Vino bangun kesiangan, karena malam tadi kami begadang nonton bola.

“Sabar Riz, aku cari kaos kaki dulu,” Vino terlihat membuat berantakan seisi rumahnya.

“Kaos kakimu yang kemarin kan dicuci nak, ambil yang baru di lemari bawah.” Nah, itu suara Tante. Ibunya Vino yang lagi menyiapkan sarapan pagi untuk Ayah dan adik Vino.

“Ibu aku jalan ke sekolah, Assalamualaikum...” teriak Vino sambil berlari.


Langkah seribu. Kami berdua seperti lomba lari dengan seragam putih abu-abu. Gedung SMA memang tak terlalu jauh, bisa digapai dengan berjalan kaki. Tapi kami punya jalan rahasia, aku dan Vino menyebutnya jalan tikus. Melintasi tiga gang sempit akhirnya kami tiba di depan gedung SMA.

Pak satpam yang lebih mirip pengawal Presiden itu melotot ke arah kami. “Kalian terlambat 30 menit. Tidak boleh masuk! Silakan pulang atau berdiri di sini seharian.”

“Glekk…” kami menelan ludah. Di saat-saat seperti inilah kami benar-benar membutuhkan keajaiban dari Tuhan.

Baru pukul setengah sembilan pagi, tapi baju kami seperti diguyur hujan. Iya, basah karena keringat. Aku pun mulai merasa gerah, mondar-mandir di depan gerbang tak berani untuk merayu pak satpam.

“Pak Anto, selamat pagi pak. Oh iya pak, itu kedua teman saya dipanggil wali kelas sekarang. Bisa mereka masuk pak?”

Oh Tuhan, suara Ayda terdengar seperti suara Malaikat penyelamat. “Alhamdulillah...” aku dan Vino mengelus dada. Kami akhirnya bisa memasuki pekarangan sekolah.

“Kami berdua gak benar-benar disuruh ke ruang guru kan Ay?” tanyaku gugup. Aku sungguh tak ingin menghadap komite disiplin.

“Gak, tapi sebagai gantinya Vino belikan aku jus mangga dan Fariz belikan aku mi ayam pas istirahat nanti. Di kantin ya?” Ayda tersenyum penuh kemenangan.

Aku dan Vino berpandangan, sejujurnya kami sedang berkomunikasi. Mengingat sisa uang jajan kemarin, sebab tadi kami lupa meminta jatah jajan.

“Oh aman! Aku ada lima ribu.” Vino terlihat meraba-raba saku celana dan bajunya.

“Ini aku ada lima ribu juga Vin.” kataku lalu kuberikan pada Vino.

Itu hanya sekelumit kisah tentang kami bertiga. Di lain hari kami pernah belajar bersama, lalu jalan-jalan ke Tapak Paderi. Kami bertiga menyukai pantai, rasakanlah teman... sesungguhnya terdapat ketenangan pada aroma lautan.

Aku pernah menulis nama kami bertiga di pasir pantai, “Fariz, Ayda, Vino... sahabat sejati.” begitu bunyi tulisannya. Lalu hanya butuh sekejap untuk melihat Vino jungkir balik memotret tulisan tadi.

Sejak dulu, lelaki gingsul itu memang sudah hobi memotret. Hanya saja, semasa SMA ia bermodal kamera ponsel sederhana. Vino memotret dari setiap sudut, hingga satu objek saja bisa jadi puluhan gambar. Sementara Ayda, ia cekikikan tertawa hingga terduduk melihat tingkah Vino. Dan aku juga tertawa, karena kulihat Ayda tertawa. Sama sekali aku tidak menertawakan Vino.

“Guys, beli es krim yuk?” ajak Ayda. Dulu di Tapak Paderi belum ada sandal-sandal dan tulisan-tulisan hits, masih cukup lengang hanya terlihat pedagang dan perahu nelayan.

Kami sudah memegang es krim. Lalu bercerita hingga tertawa terbahak-bahak. Jelas kami sangat bahagia.

“Riz, mau aku kasih tahu rahasia gak?” ujar Ayda.

“Wah apa?” aku langsung penasaran.

“Dulu waktu kita kelas sepuluh, Vino pernah ngasih es krim ke Pian. Tapi ditolak. Haha...”

Kami tertawa. Terlebih ketika melihat Vino merasa jengkel, suara tawa kami makin membahana. Nah teman... ceritanya, waktu awal masuk SMA dulu itu, si Vino suka sama Ahda Pian. Di kelas sebelas, si Pian dan Ayda sebangku hingga kelas dua belas. Itu berarti Vino dan Pian juga sekelas.

Tapi tak pernah sekalipun Vino menyinggung soal Pian saat berbicara denganku. Mungkin Vino sudah menyerah sejak es krimnya ditolak.

Saat itu, kami kelas dua belas dengan usia yang menginjak 17 tahun. Kami sedang libur penenangan sebelum memasuki ujian akhir. Aku terbangun dari tidur siang. Mengucek-ngucek mata, kulihat di sampingku Vino sangat cemas. Telinganya tampak memerah, itu bahasa tubuh Vino saat ia berada dalam situasi bahaya.

“Gawat Riz, gawat! Aku masih belum percaya, tapi Pian bilang Ayda meninggal.”

Tuhan, duniaku runtuh dalam sekejap. Apa yang baru saja dikatakan Vino? Apa maksudnya? Seminggu yang lalu sebelum libur, kami masih tertawa bersama.

Bergegas bahkan tanpa mencuci muka, aku dan Vino meminjam motor Bapak lalu pergi ke rumah Ayda.

*** 

Bersambung...
 

No comments