[Cerbung Part IV] Perempuan dalam Kenangan


“Tuhan lebih berhak menghakimi Riz, sabar!” Alan menepuk-nepuk bahuku. Ia menguatkanku. Tapi apapun yang terjadi aku tak akan pernah memaafkan Soni sekalipun matinya lelaki itu tak diterima bumi.

Aku diam, berbicara tentang Tuhan hatiku selalu meraung kesakitan. Dulu aku sempat marah pada-Nya, karena Tuhan tak melindungi sahabat baikku. Aku marah, dulu aku benar-benar marah.

“Untuk dendamku, biarlah menjadi urusanku dengan Tuhan, Lan! Aku siap dihakimi atas dendam ini.” kataku lalu tersenyum sinis.

Tidak, aku tidak pernah meninggalkan Tuhan setelah hari itu. Hanya saja tidak semudah itu aku melepaskan Soni dari belenggu dendam ini. Aku selalu bersimpuh memohon pada-Nya untuk memberikan surga pada sahabat baikku, Ayda. Tapi, untuk dendamku pada Soni, belum mampu kulepaskan.

“Teman-teman... ayo foto bareng,” datanglah si Vino mengubah haluan percakapan. Kami lalu mengambil posisi untuk foto bersama, Vino tampak memasang tripod dan mengatur kamera. Sesekali ia juga mengarahkan posisi kami, jelaslah Vino sudah seperti fotografer professional.

***

“Jadi, besok jam berapa nih kita mau ngajak Pian jalan keliling Bengkulu?” tanya Vino sambil menyetir. Tadi selepas acara Pian bilang akan menetap selama seminggu di Bengkulu, ia ingin menghabiskan jatah libur kerjanya.

“Siang aja gimana? Kalau pagi aku harus menyelesaikan desain yang dipesan orang.”

“Okay... aku juga ada pemotretan besok pagi, tapi bisa sambil jalan. Oh iya... ini bro, tolong sms Pian! Kasih tahu jam berapa besok.” Vino memberikan ponselnya padaku. Selesai mengetik pesan, aku iseng membuka galeri foto Vino di ponsel.

Aku mendapati banyak foto, mulai dari kegiatan kami sehari-hari hingga foto kucing Vino yang lagi tidur. Lalu sebuah foto mencuri perhatianku, entah kapan Vino mengeditnya aku tak pernah diberitahu.

Di foto itu tampak wajah lugu kami berempat. Vino membuatnya dalam bentuk lingkaran, fotoku, foto Vino, Pian dan... Ayda. Ekspresi kami sama, tertawa lepas tanpa beban. Aku hampir lupa, kapan tepatnya foto ini diambil? Mungkin saat itu dulu, sebelum masuk les sore hari.

Senang rasanya melihat foto Ayda terpampang bahagia. Sejak kepergian Ayda, aku bahkan tak sanggup menakar berapa banyak airmata keluarganya. Aku tidak menangis sebegitu merasa terluka, hanya saja aku lupa bahagia sejak gadis itu pergi dengan sadis.

Aku merasa keadilan di ‘lubuk kecil’ ini tak benar-benar ditegakkan. Aku merasa banyak perempuan yang diremehkan, aku tidak suka itu. Aku tidak suka lelaki yang memandang rendah perempuan, apalagi sampai melecehkan, jika aku tahu pasti akan aku kuliti di tempat laki-laki macam itu.

Sayang Soni menang, bahkan hujaman pukulanku pun ia tak merasakan. Vino terlalu baik hati, mungkin di kehidupan sebelumnya sahabatku satu ini adalah hakim bijak, aku ingat betul kata-kata Vino saat itu.

“Jangan Riz! Jangan memukul Soni, dia memang keparat tapi jangan kau pukul. Kita serahkan saja pada polisi dan biarkan hukum yang mengadili Soni.”

Aku bahkan masih bisa merasakan cengkeraman kuat tangan Vino saat menghalangiku, dengan terang-terangan aku katakan pada Vino bahwa beberapa kali aku berniat membunuh Soni, tapi Vino bilang itu tak akan menyelesaikan masalah dan tak akan membuat Ayda hidup kembali.

Aku bahkan tak habis pikir dengan bijaknya seorang Arvino Xavier. Bagiku, tinju harus dibalas tinju dan nyawa harus dibalas dengan nyawa. Itu baru setimpal. Tapi cara berpikir Vino menahan langkahku.

Pernah Vino berkata “Riz, Tuhan tidak tidur barang sedetik pun. Jangan khawatir! Hari pembalasan itu benar-benar ada, kelak pasti Soni mendapat balasan yang lebih menyakitkan. Percayakan saja pada Tuhan.”

Teman, aku ingat betul Vino mengatakan itu. Dan ia berhasil menyiram api amarah yang berkobar di diriku. Oh Tuhan, maaf karena dulu aku pernah marah pada-Mu. Tuhan, maafkan aku karena dulu pernah berniat tak ingin dekat dengan-Mu.

Tapi, Tuhan... tolong berikan aku alasan, kenapa hal buruk itu terjadi menimpa gadis sebaik Ayda? Bukankah orang bilang di setiap kejadian pasti selalu ada alasan yang Engkau selipkan? Tolong Tuhan, pertemukan aku dengan alasan itu. Agar bisa aku ikhlas akan kepergian Ayda meski dengan cara yang mengenaskan.

“Riz, tadi waktu rombongan Alan ngajakin ke makam Almh. Ayda, kenapa kau gak mau?”

Aku mengembalikan ponsel Vino, lalu teringat tadi Alan dan teman-teman yang lain akan pergi ke makam Ayda. Tapi aku enggan, kutakutkan diriku gusar ketika berada disana. Biarlah ia kupeluk erat saja dalam doa.

“Ya, mungkin lain kali aja Vin.” jawabku datar.

Mobil Vino berhenti, kami sudah tiba di rumah. Kepalaku pusing overload akan memori beberapa tahun silam. Sesampai di rumah, aku langsung menuju kamar.

Merebahkan tubuh dengan tatapan menerawang ke langit-langit kamar. Waktu seolah berhenti, membosankan sekali harus lagi-lagi berada di masa lalu. Sebab berada di masa itu membuatku harus kuat menahan deruan caci maki. Mengutuk diri harusnya aku bisa menjaga sahabatku.

“Andai saat itu aku menemani Ayda...”

Bersambung...

No comments