Depresi, Pentingnya Penanganan yang Tepat dan Dukungan Orang Terdekat

sumber gambar: inverse.com
Belakangan ini hangat sekali dengan berita kematian Goo-Hara, artis Korea yang cukup terkenal dan dengan segala keadaan menyakitkan yang menimpanya. Dia juga merupakan sahabat Sulli yang juga merupakan artis Korea dan diberitakan meninggal karena bunuh diri (lebih dulu dari Goo-Hara). Dan depresi pemicunya.

Ada banyak keadaan yang membuat seseorang merasa tertekan. Terlebih kurangnya dukungan dari orang di sekitar dan kurangnya perhatian serta kasih sayang. Hal tersebut membuat tekanan makin menjadi hingga menggerogoti hati.

Artis Korea lainnya yang depresi dan akhirnya melakukan bunuh diri bukan hanya mereka saja, sebelum Sulli juga ada Jong-Hyun dan beberapa artis lainnya. Sangat menyedihkan keadaan ini, oleh karena itu saya sangat mengharapkan pembaca dapat 'menyelamatkan' orang-orang terdekat dari resiko berat depresi.

Tidak ada salahnya kita bertanya tentang kabar mereka, bagaimana hari-hari yang dijalani mereka, apa ada masalah yang mengganggu dan lain sebagainya. Hanya karena seseorang selalu tersenyum, tertawa, dan selalu terlihat bahagia, bukan berarti mereka tidak merasakan kesedihan, justru di balik itu semualah depresi akut bersembunyi.

Nah, atas permasalahan tentang depresi ini saya mengutip pembahasannya lewat klikdokter.com seperti yang akan diuraikan di bawah ini. Kepada teman-teman bahkan termasuk diriku sendiri, untuk tidak menganggap remeh masalah depresi.

Diketahui seperti dilansir dari klikdokter.com, kesehatan mental, terutama depresi, saat ini menjadi salah satu masalah serius di dunia. Bahkan pada 2017, menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), 300 juta orang dari segala usia di seluruh dunia menderita depresi.

Tak main-main, angka kejadiannya meningkat hingga 18% antara tahun 2005-2015. Penanganan yang tepat sangat diperlukan penderita depresi. Salah satunya adalah dengan pemberian obat yang tepat.

Di Indonesia sendiri, prevalensi diagnosis depresi sebesar 6,1% dan sebanyak 91% nyaris tidak diobati karena berbagai macam alasan. Tentunya, gangguan depresi yang tidak ditangani dapat menyebabkan berakibat fatal, yakni bunuh diri. Diketahui, hampir 800.000 orang di seluruh dunia meninggal karena bunuh diri setiap tahun.

Depresi dan ansietas menjadi gangguan kesehatan mental dan emosional yang sering didengar. Depresi adalah kelainan suasana hati yang menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat secara terus-menerus.

Adapun, ansietas atau gangguan kecemasan adalah respons alami tubuh terhadap stres. Penderitanya akan merasakan perasaan takut, khawatir, dan cemas tentang apa yang akan terjadi, misalnya saat akan memberikan pidato, hari pertama sekolah, atau saat akan presentasi.

Dalam tahap tertentu, cemas pada saat-saat tersebut adalah normal. Namun, saat sudah merasakan cemas hingga tahap ekstrem hingga bertahan lebih dari 6 bulan dan mengganggu hidup, mungkin mengalami ansietas. Saat dua kondisi di atas tidak ditangani dengan baik, berbagai masalah fisik maupun emosional dapat timbul.

Hal terburuk yang terjadi adalah besarnya keinginan untuk mengakhiri hidup atau melakukan bunuh diri (suicide). Selain depresi dan ansietas, sebenarnya ada lagi gangguan mental yang dapat memicu keinginan untuk bunuh diri. Misalnya saja, gangguan bipolar, post-traumatic stress disorder, skizofrenia, dan gangguan mental terkait penyalahgunaan zat adiktif (narkoba dan minuman beralkohol).

sumber gambar: familydoctor.org
Perlu ditekankan, kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dengan pergi menemui psikolog yang tepat, kita bisa memahami diri sendiri dan mengenali akar permasalahannya. Bahkan, tak jarang seorang psikolog berusaha untuk mencarikan solusi atau jalan keluar yang dihadapi oleh pasiennya.

Tak perlu sampai ada niatan bunuh diri untuk pergi meminta bantuan ke psikolog. Ketika si penderita depresi sudah sampai merasa membenci dunianya hingga tak ingin bertemu dengan banyak orang lagi, sebenarnya itu juga sudah bisa menjadi bekal untuk berkonsultasi dengan seorang psikolog.

Memang, tak mudah untuk langsung memutuskan pergi ke psikolog. Oleh karena itu mintalah pendapat orang-orang di sekitar, dan bukalah hati untuk sedikit bercerita pada orang yang benar-benar dipercaya. Kalau memang tidak ada orang yang bisa dipercaya dan kebetulan kamu membaca ini, ada kontak di blog ini dan silakan hubungi saja, saya bukan psikolog tapi akan berusaha membantu sebisa saya (insyaAllah).
"Kamu harus menumbuhkan keberanian, sehingga kamu tidak merasa bahwa dirimu sendiri lah yang menopang semua masalah. Kamu tidak sendirian, coba ingat! benar-benar diingat tentang kebaikan demi kebaikan yang dilakukan orang lain untukmu. Jadikan itu untuk menumbuhkan keberanianmu. Jangan takut! Tidak boleh takut! Takutlah hanya pada Tuhan yang sudah memberikanmu kehidupan lalu kamu ingin mengakhirinya dengan sia-sia."

Perawatan dan pemberian obat pada penderita depresi dan ansietas sangatlah penting untuk mencegah hal terburuk terjadi. Di samping obat dan kepatuhan mengonsumsinya, dukungan keluarga dan masyarakat juga punya kontribusi besar dalam meningkatkan kualitas hidup penderita depresi. Karena itu, terus beri dukungan pada keluarga atau orang terdekat kita agar dia tidak merasa sendirian.

Sebagai catatan untuk kita semua, agar jangan langsung berpikiran buruk pada seseorang apalagi dengan menyebarkannya di media sosial. Mari kita belajar berpandai-pandai mengontrol hati, bicara, dan jari kita. Karena ada banyak orang yang tertekan dengan keburukan yang disebarkan atau ditertawakan. Mari belajar menjaga aib orang lain, stop meng-ghibah-kan keburukan orang lain.

Sudut pandang kita kadang juga harus ditempatkan di posisi orang lain; kalau kita menyebarkan keburukannya apa yang akan terjadi pada orang itu? Bisa jadi dia menangis sendirian dan merasa tertekan. Kalau kita terlampau marah dan mencaci orang lain, bisa jadi hal tersebut akan mengendap di hatinya dan hidup dengan subur sebagai tekanan, lalu ada banyak kalau-kalau yang lain. Jadi, sebelum 'menjaga dan menyelamatkan' orang lain, mari kita memperbaiki diri sendiri. :)

No comments