COVID-19 Bertahan 49 Hari di Dalam Tubuh, Benarkah?

pandemi
Pasien positif corona bertambah dari hari ke hari, berdasarkan data dari Worldometers, pada Jumat (3/4/2020) pukul 07.01 WIB jumlah orang dari seluruh dunia yang terinfeksi mencapai lebih dari 1 juta, atau tepatnya 1.014.296. Dari data itu sebanyak 212.018 orang dinyatakan sembuh, sedangkan 52.982 orang meregang nyawa dan tidak tertolong.

Sementara itu di Indonesia pada 2 April 2020, jumlah kasus positif covid-19 menjadi 1.790 pasien. Dan jumlah pasien Covid-19 yang berhasil sembuh bertambah menjadi 112 orang. Namun, angka kasus kematian pasien positif Covid-19 di Indonesia juga meningkat menjadi 170 jiwa.

Selain hal tersebut di atas, ada informasi lain yang tidak kalah mengejutkan. Mengutip KlikDokter, menurut sebuah studi yang dilansir dari Tech Times, para peneliti di Tiongkok mengatakan bahwa virus ini telah bermutasi dan bisa bertahan lebih lama untuk menginfeksi manusia dalam waktu hampir dua bulan.

Para peneliti mengatakan, umumnya, virus corona akan bertahan dalam tubuh selama 20 hari, sebelum akhirnya sang pasien dinyatakan positif.

Studi ini dilakukan setelah pria paruh baya diketahui masih memiliki virus corona di dalam tubuhnya setelah 49 hari lamanya. Selama sakit, pria ini memang tidak menunjukkan gejala yang berat.

Tapi, para peneliti mengatakan bahwa virus ini bisa berkembang begitu lama. Karena, pria itu telah menderita kondisi penyakit yang kronis dan menunjukkan bahwa virus itu telah bermutasi dalam dirinya.

Karena kondisinya itu, para peneliti pun menyimpulkan bahwa ada mutasi lain dari virus corona yang tidak berdampak besar, namun sangat sulit untuk dihilangkan.

Salah satu peneliti asal Tiongkok, Dokter Li Tan dan rekan kerjanya berbicara tentang kemungkinan adanya dua jenis virus baru yang dimutasi oleh virus corona, yakni subtipe L dan subtipe S.

Dokter Tan dan beberapa rekan lainnya mengatakan, subtipe L merupakan jenis virus yang lebih umum menyerang pasien ketimbang subtipe S. Ini dikarenakan hampir sebesar 70 persen pasien diketahui memiliki subtipe L.

Mereka juga telah memperingatkan masyarakat bahwa pasien kronis lain yang mungkin tidak diobati karena gejala ringan masih dapat menyebarkan virus. Akhirnya, dapat menyebabkan berjangkitnya jenis baru.

Adanya temuan baru ini mungkin membuatmu cemas – apakah virus corona bisa semakin berbahaya?

Dokter Astari Asrini dari KlikDokter mengatakan, virus corona memang berbahaya untuk tubuh. Tapi, jika ada mutasi lainnya yang mungkin tidak diketahui sebelumnya, maka ini belum bisa dipastikan apakah ada bahaya atau tidak dari mutasi ini.

Namun, menurutnya, apa pun yang berhubungan dengan virus corona memang sebaiknya selalu diwaspadai dan jangan dianggap remeh. Virus corona bisa menyebabkan kematian dan komplikasi penyakit yang berbahaya.

Meski begitu, dr. Astari tetap meminta masyarakat untuk tidak panik. Meski berbahaya bagi tubuh, virus corona masih bisa disembuhkan dengan perawatan yang intensif dari tenaga medis di rumah sakit.

Karenanya, dia mengimbau agar masyarakat tidak ragu untuk memeriksakan diri ke rumah sakit apabila mendapati gejala-gejala, seperti:

- Batuk dan flu
- Batuk kering
- Sesak napas
- Demam tinggi (lebih dari 38 derajat Celcius)
- Tubuh merasa lemas dan meriang

Nah teman, jangan lupa untuk selalu menerapkan pola hidup sehat yaa. Untuk saat ini tetap di rumah saja dulu, jangan keluar atau keluyuran kalau tidak benar-benar penting. Pun kalau terpaksa keluar jangan lupa pakai masker dan pulangnya cuci tangan.

Tetap saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan, semoga kita semua sehat selalu dan bisa bertemu bulan Ramadan dalam keadaan baik-baik saja. Aamiin...

2 comments

  1. ngeri bet ya, buset :'

    sudah sejutaan orang yang kena lagi. ya ampon. dapet golden play button deh itu corona bangke

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asli emang ngeri, dampaknya juga luar biasa ke ekonomi dunia...

      Delete