Jangan Memaksa Orang Lain untuk Mengikuti Standar dan Garis Waktumu


Beberapa hari lalu saya membaca pesan di WhatsApp, biasalah yaa kita memang suka curhat gitu dengan teman dekat. Saling berbagi cerita tentang apa-apa saja yang sudah dilalui sejauh ini. Membagikan kisah-kisah tertentu yang layak untuk diceritakan.

Ada permasalahan yang menarik sejak dulu dan selalu berlangsung hingga sekarang. Hal tersebut tidak dapat dihentikan, sebab entah mengapa memang seolah mendarah-daging pada manusia.

Well, apakah itu? Wkwk yaa mengomentari hidup orang lain.

Ada banyak manusia di luar sana yang repot banget mengurusi masalah orang lain, padahal orang yang dikomentarinya baik-baik saja dan tidak ada masalah sama sekali. Banyak hal dikomentari, salah satunya adalah; kapan menikah?

Nah, ini bukan sepenuhnya curhatan yaa. Melainkan sarana untuk saling mengingatkan, sebab tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan kita. Standar orang tentu berbeda, garis waktu atau takdir orang pasti berbeda dengan kita. Tidak bisa dipaksakan.

Setiap orang menjalani hidup dengan garis waktu yang telah Tuhan tetapkan, dan hal yang harus kita lakukan adalah mengupayakan yang terbaik. Dalam berproses tentulah kita mengalami banyak hal, tidak setiap pengalaman kita sama, dan tidak setiap luka obatnya selalu sama. Inilah kenapa penting sekali untuk belajar saling memahami.

Sebelum bertanya atau berkomentar, hendaklah kita berpikir terlebih dulu. Jangan gegabah hingga akhirnya melukai hati dan perasaan orang lain, mari sama-sama kita ingat bahwa kata-kata amatlah tajam. Bekas lukanya barangkali ada yang tak hilang meski sudah bertahun-tahun lamanya.

Ketika standarmu menikah umur 20 tahun, ada standar orang lain yang menikah umur 25 tahun, bahkan ada yang standarnya menikah di umur 30 tahun. IT'S OKAY! Ngga ada yang salah dengan itu semua. Kembali pada kesiapan diri, siap lahir batin.

Ada pula standar orang yang menginginkan pasangannya cantik, ada yang hanya melihat kebaikan hati, dan lain-lain. Tidak masalah, semua itu sah-sah saja selama tidak melanggar apa-apa yang telah menjadi aturan-Nya.

Saya dan teman-teman saya mengalami hal semacam ini, pernah ditanya; kapan nikah? kenapa ngga nikah-nikah? Itu tuh teman kamu udah punya anak dua, kamu kapan? Mana calonnya? Kok ngga pernah ngenalin seseorang ke keluarga?

Saya ya cuek saja, masalahnya ada orang yang ngga bisa cuek aja. Deretan pertanyaan itu mengendap di hati dan menghantuinya, dia kemudian menganggap dirinya penuh kekurangan dan dia berpikir tidak ada yang mencintainya.

Perasaannya terluka dengan pertanyaan semacam itu, dalam hatinya marah. Nah, dosa loh menyakiti hati dan perasaan orang lain. Please, jangan diulangi lagi yaa. Kecuali situasinya begini: Eh, kamu kapan nikahnya? Lagi suka sama seseorang ngga? Kalau mau buka hati, aku ada calon yang cocok nih buat kamu, mau ngga dikenalin?

Duuhhh, gitu baru keren. JANGAN CUMA BISA NGASIH MASALAH DOANG! Kasih juga solusinya pentol bakso!!! *Duh, mau ngegas ini*

Ketika seseorang baru nikah, jangan pula ditanyain; kapan punya anak? Loh, kok belum isi juga? Ada usaha ngga tuh mau punya anak? Beneran deh, orang-orang yang nanya gini mukanya perlu disiram pake kuah bakso. *Bakso mulu nih, soalnya aku lagi pengen bakso dan barusan baca tulisan teman tentang bakso wkwk*

Well, cepat atau lambatnya punya anak itu Allah yang mengatur. Yang terpenting adalah usaha. Hargai dong perasaan orang lain, kan ngga tahu gimana kerasnya usaha mereka.

Intinya, masalah apapun itu jangan sibuk mengomentari hidup dan standar orang lain. Kecuali jika punya solusi dan bersedia membantu dengan ikhlas. Kita memiliki takdir yang berbeda-beda, tugas kita adalah mengupayakan yang terbaik dan sabar dengan kesabaran yang baik.

Mari sama-sama berproses menjadi baik dan tetap saling mengingatkan, jika suatu saat saya yang salah... jangan pernah segan untuk menegur, tapi saya tidak akan merespon teguran yang disampaikan di depan umum, di tempat umum, atau di mana saja yang bisa diketahui orang banyak. Nasehati saya langsung ke saya, bisa japri atau ngobrol berdua.

Demikian, semoga kita sama-sama bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Tulisan ini tidak bermaksud untuk mengajak orang menjadi tidak peduli akan orang lain, sama sekali tidak. Ini hanya sebagai pengingat saja, dan kita harus peduli dengan orang-orang di sekitar dengan kepedulian yang baik, kalau nyinyir itu bukan peduli namanya yaa, hehee.

Terakhir, tulisan ini jangan pula disalah-artikan, misalnya standar perusahaan mewajibkan karyawannya disiplin, lalu kamu sebagai karyawan baru membantah dengan alasan 'jangan memaksakan standar perusahaan dengan standar saya' sono noh kamu ke laut aja mancing wkwk, bukan standar yang seperti itu yaa...

Well guys, tetap semangat dan tetap sehat yaa :)
Semoga Allah melimpahkan kebaikan-kebaikan untuk kita semua. Yang belum ketemu jodohnya, semoga segera dipertemukan. Yang belum punya anak, semoga segera punya banyak yang soleh/solehah. Yang belum punya rumah, semoga berlimpah rezekinya biar bisa beli atau bikin rumah. Dan semoga kita senantiasa dilindungi-Nya. Aamiin


5 comments

  1. Amin, demoga kita senntiasa dilindungi Allah. Setuju banget dengan ulasannya, semoga kita selalu berproses menjadi orang-orang yang baik dan lebih solutif :)

    ReplyDelete
  2. Yuni nih kayak gitu. Ditanya-tanyain mulu. Jadi minder. Mikir, iya sih ya, kok aku belum nikah-nikah. Apa emang nggak ada yang suka aku? Segitu nggak nyamannya dekat denganku.

    Dan eng ing eng. Jadi membatasi diri. Menutup diri.

    Duh, malah curcol. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, gitulah org2 kebanyakan ga mikirin perasaan org lain. Ga sadar dengan kata2 yg menorehkan luka...

      Semangaaattt memperbaiki diri kak ☺️ yang baik untuk yang baik juga... InsyaAllah.

      Delete
  3. udah jadi kebiasaan umum mba, ngukur org lain pake ukuran baju sendiri, sehingga orang lain selalu salah dan yang benar hanya kita :)

    ReplyDelete

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia