Tingkat Kemiskinan di Provinsi Bengkulu Bergejolak



SunfloWords.com - Baru-baru ini Provinsi Bengkulu dihebohkan dengan tingkat kemiskinan yang meningkat. Hal tersebut dikeluarkan oleh Badan Statistik Provinsi Bengkulu, kemiskinan meningkat dibandingkan dengan tahun 2019.

Berdasarkan data yang dilansir dari website Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bengkulu, terhitung per-bulan Maret 2019, angka kemiskinan yang semula berjumlah 302.302 orang atau 15,23 persen meningkat menjadi 302.579 orang atau 15,03 persen pada Maret 2020.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Hj Riri Damayanti John Latief mengatakan, jumlah meningkatnya angka kemiskinan akibat kurang terserapnya lapangan pekerjaan.

"Kalau dilihat, daya serap setiap persen pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan tenaga kerja kian turun. Di Indonesia, pada 2003, 1 persen pertumbuhan ekonomi bisa menyerap 400 ribu tenaga kerja. Sekarang, penyerapannya hanya 110 ribu tenaga kerja," ungkap Riri Damayanti.

Ketua Bidang Tenaga Kerja, Kesehatan, Pemuda dan Olahraga BPD HIPMI Provinsi Bengkulu ini menjelaskan, RUU Cipta Kerja sebagai yang digadang-gadang justru tidak didahului dengan diagnosa yang komprehensif terhadap persoalan ekonomi nasional.

Hal tersebut terbukti diagnosa RUU ini mentok di persoalan investasi yang dianggap lambat. Padahal, jika merujuk data, kinerja investasi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia masuk dalam top-20 penerima investasi langsung asing (foreign direct investment).

"Seharusnya kita harus mulai belajar dari sini, penyebab defisit transaksi berjalan adalah struktur ekonomi Indonesia yang tidak cukup mewadahi sektor usaha penghasil barang untuk ekspor, sehingga industri pengolahan dan pertanian terpukul," jelas Riri Damayanti.

Wakil Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Bengkulu ini berharap, pemerintah memperbesar ekspor yang ditopang dari industri dalam negeri dan pertanian.

"Indonesia punya tenaga kerja tersedia, pasar sangat potensil, dan sumber bahan baku cukup melimpah dan beragam. Olehnya, kita harus memperjuangkan hal tersebut sehingga kita terlepas dari kemiskinan," demikian Riri Damayanti.

Diketahui, sejak Maret 2019, penduduk miskin daerah perdesaan yang awalnya berjumlah 205.783 orang merosot hingga berjumlah 204.029 orang, pada Maret 2020. Artinya, penduduk yang berdomisili di perdesaan lebih berkembang dibandingkan masyarakat yang tinggal di daerah perkotaan.

Bergejolaknya tingkat kemiskinan di Provinsi Bengkulu itu tak lepas dari pengaruh peranan komoditi. Peranan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar, dibandingkan peranan komoditi bukan makanan. Yaitu mengenai perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. [**]

No comments