Merdeka Berkarya Meski di Tengah Wabah

Novel My Sunshine karya Eva De - Eva Destrianti
Assalamualaikum, rakyat Indonesia...

Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta...
Jadi jika ada yang belum tahu, boleh panggil dan sebut saja saya Eva De nama panjangnya Eva Destrianti.

Saya mendorong diri untuk menjadi manusia yang merdeka; bebas berkarya dan bebas berekspresi menjadi diri sendiri, tentu dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan yang berlaku.

Momentum Kemerdekaan Republik Indonesia kali ini dalam suasana pandemi, tapi tetap menjadi waktu yang tepat untuk cerita tentang berkarya.

Sebelum itu, mari menengok ke belakang, mengingat hari bersejarah yang dipenuhi banyak pengorbanan tak terlupakan. 75 tahun yang lalu kemerdekaan diteriakkan oleh para pahlawan, pada 17 Agustus 1945 bendera merah putih dikibarkan dengan penuh semangat membara dan gegap gempita mendengar proklamasi dibacakan.

Rakyat Indonesia bersuka cita kala itu, dari tahun ke tahun kita terus memperingati hari bersejarah, hari lahirnya bangsa Indonesia. Merdeka! Sekali merdeka tetap tetap merdeka!

Baiklah, kita lanjut saja ceritanya...

Nah, tahun-tahun sebelumnya kita memperingati hari kemerdekaan dengan banyak cara; ada bermacam-macam perlombaan, ada banyak kegiatan, dan rakyat Indonesia bersinergi memeriahkan hari kemerdekaan.

Namun pada tahun 2020 ini terasa berbeda sekali, hari-hari kita diliputi berita tentang pandemi. Covid-19 membawa perubahan pada banyak hal; tidak ada lagi kumpul dengan teman-teman, tidak ada makan bareng di luar, pelajar dan mahasiwa belajar dari rumah, para pekerja pun bekerja dari rumah, hingga ibu-ibu ramai beli sayur pun tidak ada lagi.

Jangankan untuk mengadakan lomba panjat pinang, keluar rumah untuk beli makan saja kita harus berpikir ratusan kali. Akan tetapi, memperingati kemerdekaan di tengah pandemi tidak menyurutkan semangat anak-anak negeri. Termasuk untuk tetap berkarya.

Sejak wabah virus corona melanda, ada banyak pihak yang menderita. Cerita PHK bertebaran, keuntungan penjualan para pedagang merosot, tidak punya ponsel dan tidak ada kuota internet untuk belajar, kesehatan mental sebagian orang terganggu, dan cerita-cerita lainnya yang cukup menguras air mata ketika dibaca. Bahkan isi dompet saya turut makin menipis di masa pandemi yang krisis.

Dalam keadaan seperti ini, saya kembali teringat kata-kata Bung Hatta: "Apapun yang membuatmu takut, hadapilah dengan berani."

Pandemi ini akhirnya membuat pemerintah lebih berani dan rakyat bahu membahu saling bantu. Karya-karya baru pun bermunculan. Ada pedagang masker dari yang polos hingga bermotif batik, pedagang sayur dan pedagang-pedagang lainnya membangun lagi usaha secara online, bahkan kuota internet gratis untuk belajar pun diberikan.

Hingga semua aktivitas akhirnya berjalan lagi dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Jika keadaan benar-benar mengharuskan untuk keluar rumah maka harus pakai masker, ingat untuk cuci tangan pakai sabun, sedia hand sanitizer dan face shield serta jaga jarak.

Saya mengamati lingkungan sekitar dan mengikuti perkembangan berita, lantas untuk berkarya di masa pandemi ini apa saja yang sudah saya lakukan?

Kata R.A Kartini "Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu, tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri." jadi, saya tentu tidak berdiam diri.

Sebelum pandemi, saya dan teman-teman biasa diskusi. Menyesap minuman di kedai favorit, bertukar pikiran dan bercerita banyak hal hingga menelurkan ide dan beberapa karya. Kadang juga jalan-jalan dan menceritakannya di blog pribadi. Oh ya, saya sebenarnya suka sekali menulis. Berbagi pengalaman itu menyenangkan, teman. Tapi aktivitas saya dan teman-teman di masa pandemi sempat terhenti, sebab jarak merumitkan segalanya. Di sini saya menyadari, betapa pejuang hubungan jarak jauh itu harus kuat-kuat. Bukan hanya rindu yang datang menyengat, melainkan mata yang tak bisa saling menatap nyaris membuat hati sekarat. Oalaahh, sekarang kan ada video call...

Baiklah, ayo kita teruskan ceritanya. Saya dan teman-teman lantas memutuskan untuk tetap berkomunikasi di tengah banyaknya keterbatasan. Kalau dulu hadir temu blogger, sejak pandemi kalau ada apa-apa kirim pesan di grup. Ikut seminar juga via online, ngobrol sama anak-anak di komunitas menulis juga via online.

Meski sudah serba online, saya tetap menulis. Kadang di blog, kadang di media sosial, dan saya juga melanjutkan tulisan novel dan kumpulan cerpen. Kebetulan lagi ada promo penerbitan di salah satu penerbit, akhirnya saya dan dua orang teman memutuskan untuk menerbitkan kumpulan cerpen dan novel saya.
  
kumcer The Story Between Us karya Eva Destrianti - Arif Apriyadi Pangestu, Hesti Wiranota
Sekarang, saya masih menulis novel. Rencananya mau bikin trilogi, sayang banget kalau naskah didiamkan dan jadi usang.

Saya berkarya di bidang yang saya sukai, kalau saya yang biasa-biasa saja ini bisa maka kalian yang luar biasa juga pasti bisa. Semangat ya!

Indonesia butuh anak-anak muda yang berkarya; bisa dengan tulisan, lukisan, masakan, musik, video dan fotografi, desain grafis, dan lain sebagainya hingga berkarya mengukir prestasi di sekolah atau di kampus.

Hobi yang baik dan bermanfaat ayo ditekuni, apalagi kalau bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari hobi sungguh keren sekali.

Indonesia sudah 75 tahun merdeka, jadi rakyatnya juga harus merdeka dalam berkarya. Ya memang pandemi ini sangat menyulitkan, karena itu saya bersyukur bisa tetap berkarya di mana saja bahkan dari rumah. Yakni dengan menulis dan berbagi cerita di media sosial.

Saya tuh ya, punya cita-cita nanti kalau punya rumah ingin ada perpustakaan pribadi di dalamnya atau minimal rak buku selebar dinding dan ada barisan karya saya di sana. Ada buku karya saya di dekat karya penulis-penulis hebat yang saya kagumi.

Dalam semarak Hari Ulang Tahun ke-75 Republik Indonesia, mari kita sulut api semangat yang sempat mati suri karena pandemi. Nyali berkarya dalam diri tentu tak boleh mati.

Bung Karno pernah berkata "Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba. Jadi tetaplah bersemangat Elang Rajawali!"

Saat ini wabah memang melanda, tapi Indonesia tetap butuh kita yang merdeka dalam berkarya.
___

Hai teman-teman, Penerbit Guepedia baru saja menerbitkan Novel My Sunshine karyaku dan Kumcer The Story Between Us karyaku bersama Hesti Wiranota dan Arif Apriyadi Pangestu.

Bagi yang pada nanya kemarin bisa dibeli di mana aja, dapat mengunjungi link di bawah ini yaa... 😉
 
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/novel/3ou598t-jual-my-sunshine-by-eva-de

SHOPEE
(Coming soon)

Kumcer The Story Between Us:

GUEPEDIA
https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/MTcyMTU

TOKOPEDIA
https://tokopedia.com/guepedia/the-story-between-us

BUKALAPAK
https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/sastra/3oxxeul-jual-the-story-between-us

SHOPEE
(Coming soon)

Fyi, saya sedang merencanakan untuk membuat trilogi dari Novel My Sunshine ini. Di dalam kumcer The Story Between Us ada cerpen berjudul Langit Merah Saga dan tokoh di Novel My Sunshine akan bertemu tokoh di cerpen Langit Merah Saga pada karya selanjutnya 😉 siapa saja mereka tunggu saja...

Ikuti terus perkembangannya yaaa 🌻

Salam hangat,
Eva De

No comments

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia