Sempurnakan Regulasi Terkait Tata Kelola Pekerja Migran Indonesia


SunfloWords.com - Hari ini, Jumat (18/12/2020), masyarakat dunia tengah memperingati Hari Migran Internasional yang diproklamirkan Majelis Umum PBB melalui Resolusi 55/93 sejak tahun 2000 seiring bertambahnya luas dan semakin banyaknya imigran di berbagai belahan dunia.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Hj Riri Damayanti John Latief, melalui momen tersebut menyatakan keprihatinannya atas nasib Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang memburuk selama pandemi covid-19 atau hampir satu tahun terakhir.

"Saya simak datanya, banyak yang dipulangkan ke tanah air. Sebagian masih ada yang tertahan. Hormat saya untuk para pahlawan devisa dan apresiasi untuk BP2MI (Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia) yang memprioritaskan keselamatan PMI selama pandemi berlangsung," kata Riri Damayanti.

Wakil Bendahara III Ikatan Keluarga Seluma, Manna, Kaur ini menekankan pentingnya pemerintah memastikan kehadiran negara dalam memberikan perlindungan terhadap pekerja migran Indonesia, baik dari eksploitasi, kekerasan fisik, kekerasan seks, gaji tidak dibayar, pemutusan hubungan kerja sepihak, jam kerja lebih dari 12 jam, dan lain sebagainya.

"Pekerja migran selama ini telah memberikan banyak sumbangan untuk pembangunan negara. Keadaan buruk yang mereka alami akan berdampak buruk terhadap Indonesia. Saat ini aja sudah terasa, kiriman uang dari pekerja migran di luar negeri menurun," ungkap Riri Damayanti.

Wakil Ketua Umum BPD HIPMI Provinsi Bengkulu ini berharap kepada pemerintah untuk terus menyempurnakan regulasi terkait tata kelola PMI agar semakin memanusiakan manusia mulai dari perekrutan, keterampilan, keberangkatan, hingga kepulangan ke tanah air.

"Jangan sampai ada migran yang merasa bahwa mereka hanya aset atau barang dagangan yang dijual demi devisa. Dan semoga kedepan seluruh PMI tidak ada lagi yang berstatus informal," demikian Riri Damayanti.

Data terhimpun dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) jumlah PMI tahun 2019 di seluruh dunia berjumlah 276.553 orang. Lebih dari separuhnya merupakan PMI informal. PMI asal Provinsi Bengkulu sebanyak 306 orang.

Dari jumlah tersebut, mayoritas adalah perempuan dengan 191.237 orang. Jumlah laki-lakinya hanya 85.316 orang. Status perkawinannya menikah 110.393 orang, belum menikah 97.621 orang dan cerai 68.539 orang.

Berdasarkan catatan BP2MI, pada penempatan Juli 2020 mereka masih masih mencatat 88 persen bekerja di sektor informal, paling banyak bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) dengan rasio hingga 88 persen. Sisanya adalah perawat lansia sebesar 8 persen dan buruh 4 persen. Penempatan untuk jenis pekerjaan lain nol persen.

Sejak pandemi covid-19 bermula hingga 31 Agustus 2020, BP2MI mencatat 176.000 orang dari seluruh negara penempatan pulang ke Tanah Air. [**]

No comments