Belajar Lebih Menghargai Sebuah Proses Lewat Menulis Buku


Menulis adalah sarana untuk berekspresi, menyampaikan apa yang tak bisa dikatakan, menganalisis sesuatu lebih dalam, dan tentu dalam beberapa keadaan menulis menjadi sebuah keharusan bagi sebagian besar orang.
 
Bahkan menurut Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian. Sebab ketika seorang penulis sudah tiada, maka yang tertinggal adalah tulisan-tulisannya.
 
Meski belum seprofesional dan sebagus tulisan para penulis terkenal, saya tetap suka menulis. Saya ingat di kelas 6 SD pernah menulis cerita pendek flash fiction tentang anak kembar, tapi sudah tak tahu di mana tulisan itu. Hanya menghabiskan satu halaman buku tulis, pun saya tak terlalu ingat detail ceritanya.
 
Di masa SMP juga pernah menulis cerita dan puisi, bahkan ketika SMA saya masih menulis cerpen dan puisi. Memang lebih condong ke fiksi, namun karena dulu cerita-cerita tersebut ditulis di buku, sepertinya sudah dikiloin bersamaan jual kardus zaman dulu hehee... 
 
Sebelum ada blog www.sunflowords.com ini, dulu semasa kuliah sekira tahun 2014 pernah membuat blog menggunakan nama sendiri. Isinya campur aduk; ada puisi, cerpen, curhatan, keluhan, dan sejenisnya.
 
Kemudian setelah tamat kuliah di tahun 2017, blog tersebut saya hapus dan membuat SunfloWords (singkatan Sunflower and Words). Tentu blog ini saya rapikan sedemikian rupa, meski masih ada kekurangan di sana-sini.
 
Menulis fiksi tetap lanjut, sampai saat ini ada beberapa buku yang pernah diterbitkan secara indie, silakan lihat di sini >>> portfolio. Di balik masing-masing buku ada cerita tersendiri, dengan pertimbangan dari berbagai hal, saya sengaja memilih penerbit indie apalagi untuk buku-buku yang terbit tahun lalu; My Sunshine (novel), The Story Between Us (kumcer), My Destiny (novel).
 
Ketiga buku fiksi tersebut berhubungan satu sama lain. Saya sebenarnya sedikit malu membicarakan karya sendiri wkwk, tidak sebagus itu kok! Tujuan saya menulis buku adalah untuk membahagiakan diri sendiri dan ingin sekali menebarkan kebaikan serta informasi bermanfaat lewat tulisan. Well, dalam tulisan ini saya ingin berbagi cerita tentang tiga buku tersebut.
 

1. My Sunshine

Novel ini sudah cukup lama ditulis (sejak masuk semester akhir & mengerjakan skripsi), hanya saja sering dibaca ulang lalu edit dan edit. Berlatar tempat di Korea, karena dulu cukup sering bahas tentang Korea sama teman-teman. Berikut blurbnya:

"Setiap orang pasti pernah merasakan rindu, entah itu pada seseorang atau pada memori yang tak dapat diulang. Namun, jika bisa mengatakan ‘aku merindukanmu’ pada seseorang yang dirindukan maka bersyukurlah, sebab ada rindu yang tak bersuara. Ada rindu yang benar-benar tak dapat bersuara.

Mengalami mimpi yang penuh teka-teki, Hazelia akhirnya terbangun dari koma. Bertemu dengan Kang Ji-Woo, pemilik tawa yang ia kagumi, ternyata Hazelia juga bersahabat dengan Ray yang mencintainya. Di tengah konflik yang membuat mimpi dan kenyataan menjadi terikat, Hazelia merasakan banyak hal rumit yang menghimpit.

Suatu ketika Lee So-Ra sudah mengunci gembok cinta dengan Park Kyung-Shin, Hazelia masih menikmati kesendiriannya. Ia dapat tersenyum karena si pengirim bunga misterius. Pertarungan, mimpi, dan kenyataan semuanya terhubung. Melambungkan rindu ke awan, Hazelia terlibat di banyak situasi yang menegangkan.
"

Ukuran: 14 x 21cm
ISBN: 978-623-283-631-0
Terbit: Agustus 2020
Harga: Rp109.000

Dapat dibeli di:

Bukalapak

Tokopedia

2. The Story Between Us

Kehidupan memberikan banyak lembaran cerita, tak sedikit berbentuk misteri dan memiliki akhir yang mengejutkan. 'The Story Between Us' adalah kumpulan cerita pendek fiksi dari berbagai sisi kehidupan yang ditulis oleh tiga orang.

Di dalam kumcer ini ada salah satu cerpen berjudul 'Merah Saga' yang saya tulis, menceritakan tentang Saga -seorang lelaki pendiam yang amat kesepian sejak kedua orangtuanya meninggal. Dia memiliki kakak sepupu bernama Rio, lalu hadir seorang teman yang mengubah banyak hal, sayangnya dia harus berkabung lagi karena kehilangan.

Saga memutuskan untuk menjadi fotografer dan traveling ke berbagai tempat, selanjutnya pada buku 'My Destiny: Summer Serendipity' tokoh dari Novel 'My Sunshine' bertemu dengan Saga dan Rio.

Dalam buku kumcer ini ada sembilan judul cerpen, teman saya si Hesti Wiranota dan Arif Apriyadi Pangestu juga pernah menulis buku lain sebelum ini.

Ukuran: 14 x 21cm
ISBN: 978-623-283-635-8
Terbit: Agustus 2020
Harga: Rp97.000

Dapat dibeli di:

Bukalapak

Tokopedia

3. My Destiny: Summer Serendipity

Awalnya saya ingin judulnya My Destiny saja, namun editor penerbit bilang bahwa judulnya terlalu umum dan sudah dipakai banyak orang. Akhirnya, mempertimbangkan suasana dalam cerita yang terjadi selama musim panas berlangsung, saya menambahkan Summer Serendipity. Berikut blurbnya:

"-Entah kau yang menemukanku atau aku yang menemukanmu, tapi aku lebih suka menyebutnya sebagai takdir.-

Park Kyung-Soo meninggalkan Korea dan menuju Amerika. Ia pun mendapat misi terakhir dari Profesor Gerrant. Lewat persahabatan dengan Rio, Kyung-Soo bertemu Aiza di tengah perjalanannya. Gadis itu sungguh menghidupkan lagi kenangan bersama Hazelia.

Memasuki Aokigahara untuk menjalankan rencana, Park Kyung-Soo juga ditemani Aiza, Saga, dan Zora. Mereka bertiga tak tahu apa-apa sampai berbagai hal misterius terjadi. Liburan yang lebih mirip uji nyali pun nyatanya masih dinikmati.

Terlibat baku tembak, Kyung-Soo terluka parah. Megahnya kembang api di Gifu tiba-tiba merayap kelu. Ia takut musim panas membakar kenangan itu menjadi abu. Park Kyung-Soo masih ingin menemui Aiza dan mengungkapkan perasaan dengan benar.

Lantas, seperti apa takdir yang disuguhkan semesta untuknya?
"

Ukuran: 14 x 21cm
ISBN: 978-623-294-564-7    
Terbit: September 2020
Harga: Rp98.000

Dapat dibeli di:

Bukalapak

Tokopedia


Begitulah sekilas tentang tiga buku tersebut. Kalau mau tahu keseluruhan cerita, silakan dibeli, tetapi jangan berekspektasi tinggi yaa, hehee... penulisnya masih amatir.

 

Sekilas cerita di balik proses menulis

Novel 'My Sunshine' draftnya sudah ada sejak lama dan mulai saya tulis rapikan disela-sela mengerjakan skripsi, karena saya sangat bosan melototin skripsi. Meski sama-sama ratusan halaman, yang lebih dulu selesai adalah novel.

Jadi, ketika sedang bosan mengurus skripsi yang saya lakukan adalah melanjutkan penulisan novel. Sesekali juga jalan di kampus sambil bercerita dengan teman-teman. Inspirasi bisa datang dari mana saja, bisa ketika sedang melihat pemandangan, mengamati orang-orang yang berlalu lalang, dan sebagainya.

Dulu mencari nama tokoh cukup lama, dan cerita yang terkandung di dalamnya murni fiksi. Saya memasukkan beberapa tempat terkenal seperti Namsan Tower dan Masjid Seoul

Sedangkan buku 'The Story Between Us' ini adalah ide bertiga untuk setidaknya satu kali bikin antologi buat kenang-kenangan di masa depan.

Membuat grup di WhatsApp dan saling pantau kemajuan tulisan, beberapa kali juga saling koreksi. Rampung dan terkumpul semuanya dalam waktu kurang lebih dua bulan. Untuk cerpen 'Merah Saga' yang saya tulis, sebelum rencana bikin antologi memang sudah ada draftnya dan hanya perlu merapikannya lagi.

Saat menerbitkan antologi ini, ada promo terbit gratis di Guepedia hingga akhirnya sepakat nyoba di sana. Hesti Wiranota sudah membeli bukunya, dia butuh untuk meletakkan karyanya di rak buku. Saya pun begitu.

Kemudian novel 'My Destiny: Summer Serendipity' memang sebelumnya sudah saya tulis setengah ketika selesai menulis 'My Sunshine'. Sebenarnya dulu cuma ingin membuat dua novel tanpa ada keterkaitan kisah, tapi tiba-tiba ide muncul untuk menulis 'Merah Saga' lalu mempertemukan para tokoh di novel My Destiny, penyebabnya karena saya lebih suka dengan second lead male di My Sunshine daripada first lead malenya wkwk.

Alhasil naskah My Destiny dibiarkan setengah dan lanjut menyelesaikan 'Merah Saga' meski belum fix. Setelah itu ada banyak perombakan di novel My Destiny hingga terakhir menambahkan Summer Serendipity di judulnya.

Saat ini juga ada satu novel yang sedang digarap, mohon doanya biar cepat selesai yaa... soalnya baru setengah dan sering kehilangan semangat melanjutkannya. Semoga teman-teman juga terus berkarya di bidang yang disenangi. Apalagi kalau punya hobi yang bermanfaat untuk orang banyak, pertahankan yaa!

Dari menulis, saya belajar untuk lebih memaknai dan menghargai sebuah proses. Sama halnya ketika kita berproses menjadi lebih baik, jika buku-buku yang saya tulis dibaca berulang-ulang, diedit lagi dan lagi, dirombak, disusun sampai fix, begitupun dengan proses kita dalam memperbaiki diri sendiri.

Lewat menulis buku, saya sadar tak ada proses instan atau kilat untuk menuju lebih baik. Pelan-pelan saja, tidak masalah.

Jika menurutmu ada orang yang baiknya belum sesuai standarmu, maka tak boleh mencela! kita tidak tahu proses seperti apa yang dialaminya, kita tidak tahu penderitaan seperti apa yang dia alami selama berproses.

Lewat menulis buku tak hanya kebahagiaan diri sendiri yang saya rasakan, tetapi saya dapat berpikir lebih dalam tentang sebuah proses yang dialami seseorang, agar di masa depan saya dapat berhati-hati dalam berkata dan bertindak.


8 comments

  1. Panjang ya tulisannya. Dari serita yang ada ditulisan ini, aku jadi penasaran spa sih triknya mengatasi disaat moody menulis sedang turun?

    ReplyDelete
    Replies
    1. menurutku balik ke orang masing2 mbak, ada yang refreshing dulu, nonton, masak, main, atau aktivitas lain yang kira2 bakal membuat ide nulis mengalir... atau bisa jadi lagi stres dan butuh istirahat.

      Delete
  2. Keren banget! Aku pengen deh nulis novel, tapi gak beres-beres nih. Barangkali karena kerangka tulisan belum begitu matang, jadi gatau harus dilanjutin kaya gimana. Doain bisa menulis sekonsisten kamu ya. :)

    ReplyDelete
  3. Saya jadi belajar satu hal, bahwa proses yang dilakukan benar-benar menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan. Kita perlu menghargai proses dengan lebih bijaksana.

    ReplyDelete
  4. Keren banget nih de Eva menulis buku. Selain mengabadikan karya, portofolio juga bisa menambah pemasukan

    ReplyDelete
  5. Aku suka quotes ini mba. "jika bisa mengatakan ‘aku merindukanmu’ pada seseorang yang dirindukan maka bersyukurlah, sebab ada rindu yang tak bersuara. Ada rindu yang benar-benar tak dapat bersuara."

    Btw, semangat berkarya ya mbak.. Moga bisa nulis lebih banyak buku lagi. Aamiinn

    ReplyDelete
  6. Keren bgt bisa bikin novel. Aku jg lg nulis tp sdh 3 bulan absen. hiks. pdahal sedikit lagi.. semoga segera aku kelarin tulisannya. makasih Mbk sdh menginspirasi ☺

    ReplyDelete
  7. Keren dong udah banyak nulis buku. Aku sih PR banget tuh yang namanya nulis novel. Paling banget kalau fkisi ya flash fiction. Emang sudah konsisten nulis.

    ReplyDelete