6 Langkah Sukses Menulis Novel untuk Pemula dan Kesalahan yang Harus Dihindari


Menulis novel adalah pekerjaan yang tidak mudah. Selain harus fokus, banyak hal detail yang harus dibuat. Menyarankan pada seseorang untuk memulai menulis dengan nasihat; tulis aja dulu! itu memang tak masalah, namun kelak juga pasti butuh kerangka agar cerita terhubung dan tak rancu.


Tiba-tiba mendapatkan ide dan langsung menulisnya itu bagus, karena bukan tidak mungkin nanti akan lupa. Jadi, memang sebaiknya dicatat. Menulis novel memang memiliki banyak tantangan. Meskipun begitu, dari pengalaman pribadi bagian tersulitnya adalah memulai. Mengumpulkan tenaga untuk menulis kadang tergantung mood, terlebih ketika sudah menulis novel namun berhenti di tengah jalan dan ingin melanjutkan lagi, itu juga sangat sulit.

Kebanyakan penulis menunggu untuk mulai menyusun kalimat pertama atau bab pertama sampai merasa cukup yakin tentang plot, karakter, tema, dan strukturnya. Terlepas dari kegembiraan menulis bebas dan improvisasi aliran kesadaran, sebagian besar novel ditulis setelah periode curah pendapat, penelitian, dan garis besar yang intens. Beberapa penulis juga meminta catatan dan umpan balik, berdasarkan ide dan garis besar mereka, dari editor dan teman tepercaya bahkan sebelum mereka menulis baris pertama novel mereka. Mendapatkan saran dari orang lain juga bisa memudahkan proses menulis.

 

Baca juga: Belajar Lebih Menghargai Sebuah Proses Lewat Menulis Buku


Nah, jika kamu adalah seorang pemula dalam menulis novel atau memiliki kesulitan untuk melanjutkan penulisan novelmu, ayo belajar bersama! sebab saya juga mengalami hal itu. Dan berikut ini 6 langkah menulis novel untuk pemula dan kesalahan yang harus dihindari.

1. Dunia seperti apa yang ingin kamu buat di novelmu?


Well, novelmu akan mengharuskan pembaca membenamkan diri di dunia tertentu selama berjam-jam membacanya. Lebih penting lagi, kamu sebagai penulis akan diminta untuk membenamkan diri selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bahkan bertahun-tahun di dunia ini. Karena kamulah yang menulisnya.

Pilih setting dan periode waktu yang menarik minatmu dan membuat kamu tetap terlibat. Memiliki lebih dari satu setting tempat? Tidak apa-apa juga, tapi jangan meremehkan nilai kesederhanaan dalam hal mendongeng, dan jangan terlalu membanjiri novelmu dengan perubahan lokasi yang tidak masuk akal. Misalnya kamu ingin fokus pada dunia anak SMA, atau justru fantasi di dunia peri. Semua itu bisa kamu tentukan dari hal yang paling kamu minati. Yang pasti, setting tempat dan waktu harus ditentukan.

2. Temukan ide cerita dalam dunia tersebut


Setelah mendapat gambaran tentang dunia seperti apa yang ingin kamu buat di novelmu, berikutnya ada cerita. Sebuah novel harus didorong oleh cerita yang tetap menarik sepanjang awal, tengah, dan akhir. Jadi putuskan cerita apa yang ingin dibuat dan pastikan itu dapat menopang keseluruhan novel.

Jika menurutmu karya tersebut mungkin tidak menarik minat pembaca untuk beberapa ratus halaman, pertimbangkan untuk menyesuaikannya cukup menjadi cerita pendek saja. Misalnya, apakah di dunia tersebut menceritakan anak SMA dan konflik persahabatannya, atau apakah di dunia itu terjadi pembunuhan berantai yang belum terungkap. Pilih ide cerita yang kamu sukai dan kamu sanggup menyelesaikannya.

3. Tentukan karakter dalam novelmu


Sudah sangat jelas tentang dunia beserta cerita di dalamnya, sekarang saatnya menentukan karakter atau tokoh. Ini adalah bagian yang sangat penting dan juga seru. Kamu harus menentukan siapa tokoh kunci dalam cerita ini? Karakter utama jelas merupakan yang paling penting.

Tokoh utama yang kuat akan memperkaya cerita, dan sebagai penulisnya kamu juga harus menentukan nama, latar belakang, sifat, gaya, dan beberapa detail lainnya tentang karakter tersebut. Semakin kamu memahami karakter yang dibuat, semakin banyak yang harus kamu katakan tentang mereka kepada para pembaca.

4. Rencanakan akhir cerita


Baiklah, kamu mungkin belum menulis apapun, namun setelah melakukan tiga hal di atas maka kamu juga harus membuat opsi dan merencanakan ending atau akhir cerita. Bagian dari novel yang akan terus melekat di ingatan pembaca kemungkinan besar adalah bagian akhir.

Dari sudut pandang kamu sebagai seorang penulis, memiliki akhir yang jelas pada tempatnya dapat membantumu membangun cerita dan sekumpulan karakter yang semuanya mengarah ke akhir itu — jadi, bagaimana kamu akan mencapai akhir yang direncanakan ini? Dan kisah demi kisah akan bergerak dengan adanya ending ini, walaupun nanti rencanamu berbelok pada ending lain tentu tidak masalah selama ceritanya tetap tersambung dan utuh.

5. Pecahkan cerita menjadi beberapa tindakan


Sekarang setelah kamu tahu ke mana arah cerita dalam novelmu, saatnya merekayasa ulang narasi dengan memecahnya menjadi tindakan. Dalam struktur klasik, setiap babak berakhir pada momen penting dalam plot keseluruhan. Jika kamu memacu narasimu untuk berkembang secara progresif di sepanjang novel, kamu akan mendapatkan sebuah buku yang secara konsisten bagus dari awal hingga akhir.

Pada tahap ini kesimpulannya kamu sedang mengarahkan karakter novelmu menuju ending. Dan ini juga butuh detail cerita dan perkembangan karakter. Hal-hal yang akan dialami oleh karakter buatlah semenarik mungkin. Untuk memudahkanmu, buatlah kerangka garis besarnya dan konflik serta penyelesaian dalam setiap bab.

6. Mulailah menulis!


Jika langkah satu hingga lima sudah kamu lakukan, maka sudah saatnya kamu mulai menulis bab pertama. Ingat, mulailah menulis sebelum semangatmu mengendur dan alasan-alasan tak masuk akal mulai menyerang. Secara pribadi, saya paling sulit menaklukkan yang satu ini. Oh, banyak sekali godaannya. Menyebalkan, memang!

Perencanaan itu tentu penting, tetapi jangan biarkan perencanaan yang terlalu teliti menghalangimu dari tugas yang ada, yaitu menulis novel. Draft dari bab pertama mungkin buruk, dan mungkin akan kamu tulis ulang sepenuhnya setelah nanti selesai, tetapi tak masalah! Yang harus kamu lakukan adalah terus menulisnya dan fokus pada langkah satu hingga lima tadi.

Namun tak bisa dipungkiri bahwa saat menulis akan bermunculan ide baru, catat saja dulu, jangan langsung dimasukkan, takutnya justru membuat rancu alur cerita. Setelah mempertimbangkan dan menyusunnya dengan baik, barulah ide baru tersebut dimasukkan dalam cerita.

 

Baca juga: Merdeka Berkarya Meski di Tengah Wabah


3 Kesalahan Umum yang Harus Dihindari Saat Menulis Novel


Beberapa novel bisa tergelincir oleh pilihan yang tidak menguntungkan pada tahap awal penulisan. Berikut tiga kesalahan umum yang harus dihindari.

1. Tokoh utama bukanlah orang yang paling menarik di novelmu


Beberapa novelis pertama kali tampak lebih tertarik pada sahabat karib yang unik daripada pada protagonis utama mereka. Meskipun karakter pendukung bisa jadi menyenangkan, lucu, dan berani, ceritamu tidak akan berarti banyak jika protagonis bukanlah karakter yang menarik.

Pikirkan secara kritis tentang siapa yang kamu pilih untuk memusatkan cerita. Jika kamu menyadari bahwa tokoh utama itu agak membosankan, mungkin mereka bukan protagonisnya. Bayangkan ulang karakter tersebut agar lebih menarik, atau tanyakan pada dirimu; apakah mungkin salah satu karakter pendukung seharusnya menjadi protagonis? Jika itu akan membuat cerita lebih menarik, maka boleh ganti saja protagonis utama dalam novelmu.

2. Kamu terlalu fokus pada adegan yang tidak penting


Beberapa penulis pertama kali secara emosional terikat pada adegan tertentu yang mungkin menyenangkan dengan sendirinya tetapi tidak banyak mengembangkan cerita novel secara keseluruhan. Kemelekatan yang tidak beralasan ini sering kali dapat melibatkan adegan pertama dari sebuah novel, atau mungkin peristiwa besar.

Dengan kata lain, dalam novel kamu terlalu fokus pada hal yang bukan menjadi adegan penting, atau terlalu banyak basa-basi yang membosankan sehingga memudarkan hal besar dalam novel. Dan buruknya lagi jika kamu kurang detail dalam menjelaskan adegan terpenting. Dan ini juga pernah saya alami, hehee... saat itu saya pernah dikritik oleh guru, dia menjelaskan hal-hal yang harus saya kurangi dan yang mana saja dibuat detail serta menarik.

3. Narasi tidak konsisten


Gaya narasi novelmu sama pentingnya dengan kisah yang kamu ceritakan. Untuk membuat gaya naratif yang konsisten, kamu perlu membuat beberapa pilihan. Apakah narasimu seperti Tere Liye? Atau lebih ke arah gayanya Asma Nadia? Atau ada penulis lain yang menginspirasimu dalam hal ini?

Gaya naratif mungkin berkembang selama proses penulisan, tetapi sebelum pekerjaanmu selesai, pastikan novel tersebut memiliki keseluruhan yang konsisten untuk menjadikannya satu bagian yang koheren. Dan ingatlah, meskipun kamu terinspirasi dari penulis lain, temukan juga gayamu sendiri. Jangan meng-copy paste gaya orang lain, melainkan tiru dan modifikasi.

Dalam menulis ini, sebenarnya saya seperti menasihati diri sendiri. Karena sejauh ini saya belum puas dengan karya atau novel saya. Singkatnya belum ada yang saya akui sebagai 'masterpiece' di antara novel saya yang sudah terbit. Namun, setidaknya itu sudah cukup membahagiakan. Memiliki karya yang ditulis sepenuh hati itu membuat hati berbunga-bunga.

Jika kamu sudah selesai menulis novel dan sudah fix atau siap terbit, ada dua pilihan untukmu; terbit mayor dan indie. Penerbit mayor biasanya memerlukan waktu untuk menyeleksi naskah rentang 2 minggu hingga 3 bulan. Seleksi sangat ketat, namun kalau lolos, naskahmu bisa terbit tanpa mengeluarkan biaya dan bukumu akan disebar ke toko buku seperti Gramedia.

Jika memilih penerbit indie, kamu harus mengeluarkan uang untuk biaya terbitnya. Namun tidak ada seleksi, naskahmu bisa langsung terbit sesuai permintaan dan sesuai jumlah yang kamu inginkan. Jika menginginkan bukumu ada di toko besar seperti Gramedia, kamu harus mengeluarkan uang lebih.

Buku saya sampai saat ini semuanya indie, ada beberapa antologi juga, jadi masalah uang ditanggung bersama sesama penulis. Untuk beberapa novel terakhir, ada salah satu penerbit yang bisa terbit gratis meski indie, buku-buku yang sudah terbit juga dijual di marketplace seperti Bukalapak dan Tokopedia. Jika penulis ingin bukti terbit maka harus membayar. Dan jika ada yang membeli bukumu maka kamu akan mendapatkan keuntungan 10-15% per buku.

Meski sekarang sudah sangat banyak penerbit, tetap hati-hati yaa! Bukan tidak mungkin ada penipuan berkedok sebagai penerbit. Selamat menulis dan tetap semangat! Jika ada yang ingin dibagi atau ditanyakan, silakan hubungi saya pada kolom 'contact' di blog ini.

sumber: masterclass.com/articles/how-to-start-writing-your-novel

7 comments

  1. punya rancangan menulis novel...karena tidak konsisten meulis, jadi sampai sekarang tulisannya gak selessi juga.

    ReplyDelete
  2. Betul banget tu mbak. Harus ada kerangka dulu sebelum menulis. Aku udah buat kerangka. Dan masalahnya sekarang adalah susah mulai nulis lagi. Hehe

    ReplyDelete
  3. Terima kasih atas pencerahannya. Jadi tau apa yang harus dilakukan agar bisa memulai menulis novel. Pengen banget bisa nulis novel.. belum kesampaian sampe sekarang...

    ReplyDelete
  4. Salah satu wishlist aku tahun ini, pengen punya novel sendiri. Tapi belum tau nih sasarannya, antara pengen ikutan lomba dari penerbit ato terjun aja ke platform digital. Katanya konsepnya cukup jauh berbeda.

    ReplyDelete
  5. Ini nih penyakit kalo nulis novel, sering ga konsisten nulis alurnya apalagi penokohannya.

    ReplyDelete
  6. Aku banget inih yang disebutkan di paragraf terakhir wkwkwk.. nyerah ah nulis novel. Nulis cerpen aja aku lelah heuheuheu

    ReplyDelete
  7. Menarik sekali memang tipsnya, mudah-mudahan bisa diaplikasi secara nyata bagi newbie yang huga pengen buat novel. Semangat.

    ReplyDelete

Affiliate Banner Unlimited Hosting Indonesia